
Tingkat tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan.
Vio sudah pasrah saja jika nanti Marva menceraikannya, meski hatinya terluka. Dia hanya akan berusaha tetap menjadi istri yang baik di saat masih menjadi istri Marva. Berkali-kali dia menghembuskan nafas berat.
Apa aku juga seperti Rei? Pergi sebelum kata talak itu terucap? Pergi dengan membawa harga diri yang masih kumiliki.
Satu persatu orang-orang kembali membesuk Freya. Termasuk Vio.
"Terima kasih, Freya. Meskipun kamu sahabat Rei, tapi kamu juga selalu baik padaku, meski terkadang perkataan kamu nyelekit. Aku juga mau punya sahabat sepertimu, bahkan adik. Cepatlah sembuh! Dengan keikhlasan kamu, tolong doakan kebahagiaan aku juga, ya."
Vio keluar dari ruangan Freya, dan bertemu dengan Rei. Kedua pasang mata itu saling menatap. Vio hanya tersenyum pada Rei, tidak mengatakan apa-apa, lalu pergi begitu saja. Rei yang memang berhati lembut, ikut merasakan kesedihan Vio.
Jika saja dia bisa memilih, dia tidak mau berasa di posisi ini. Terkadang dia menyesal kenapa kembali ke Jakarta.
Tuhan, kumohon berikan aku keputusan yang tepat. Jangan sampai aku menyesal dan menyakiti hati banyak orang.
Orang-orang yang menjenguk Freya itu, sama-sama berpikir bagaimana kalau mereka yang berbaring seperti Freya?
__ADS_1
Marva setiap memiliki kesempatan, juga selalu mengatakan kata cinta kepada Rei, seolah takut setelah ini tidak akan bisa mengatakannya lagi.
Rei berpikir, bagaimana kalau dia yang ada di atas brankar ini. Tidak bisa melihat anak-anaknya yang menangis setiap saat seperti Chiro yang selalu menangisi Chiro.
Tentu saja dia mau selalu bersama anak-anaknya, tapi juga tidak sanggup menyakiti hati perempuan lain.
Dia tidak mau kena karma. Karma dari merebut suami perempuan lain demi kebahagiaan sendiri.
Agam juga selalu memberikan perhatian pada Rei. Rei juga sering dihubungi oleh mamanya Agam sekedar menanyakan kabar dan meminta perempuan itu menjaga kesehatan.
Kehadiran Agam dan keluarganya tentu saja membuat Rei senang.
Tidak ada tatapan dalam saat dia melihat seseorang, seolah sedang mengamati lawan bicaranya dengan teliti.
Tidak ada dengkusan saat perempuan itu merasa kesal.
Tidak ada sindiran halus atau pun kasar dari mulutnya.
__ADS_1
Freya yang selama ini selalu menjadi wadah curhat mereka. Hanya saja mereka tidak berpikir kalau wadah itu akan penuh jika terus diisi, dan akhirnya tumpah.
Yang bisa mereka lakukan selagi masih sehat adalah, membahagiakan orang-orang di sekitar mereka.
"Cepatlah sadar, Freya."
🍃🍃🍃
Rei kembali ke makam kedua orang tuanya, lalu ke makam neneknya. Di makam itu dia banyak merenung. Memikirkan tentang kedua orang tuanya, neneknya, anak-anaknya, juga sahabat-sahabatnya.
Dikasih hati minta jantung!
Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk dia saat ini. Dulu hanya berharap bisa melihat anak-anaknya. Lalu berharap bisa diakui dan dipanggil bunda, sekarang malah ingin selalu bersama anak-anaknya.
Rei merutuki dirinya sendiri yang tidak pernah merasa puas. Apa dia terlalu serakah?
Dia kembali ke rumah sakit. Masuk ke dalam ruang ICU dan menatap Freya.
__ADS_1
Freya, aku sudah mengambil keputusan. Aku berharap keputusan aku ini adalah yang terbaik, meski jujur saja ... tidak tahu ini yang terbaik untuk siapa. Freya, maafkan aku yang selama ini selalu menyusahkan kamu. Aku janji akan menjadi lebih kuat lagi dalam menghadapi semua persoalan. Mulai saat ini, ijinkan aku yang menjaga kamu.