Mother

Mother
51 Keputusan


__ADS_3

Pilihan apa yang harus aku ambil? Yang terbaik untuk kami bertiga?


Rei benar-benar dilanda kebimbangan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Kembali dipandanginya wajah kedua anaknya, lalu diberikannya ASI saat si kembar mulai bergerak gelisah.


.


.


.


Rei melangkahkan kakinya, diambilnya sepeda dari Freya di halaman samping mansion mewah itu. Di pintu gerbang, tidak ada satpam yang menjaga, bahkan di dalam rumah pun, dia tidak bertemu dengan satu asisten rumah tangga pun, termasuk bi Tuti. Mungkin Tuhan sedang memudahkan jalannya untuk pergi dari keluarga Arthuro ... tanpa halangan. Kemudahan di awal ini membuat Rei menjadi yakin, bahwa memang inilah yang terbaik, bahwa dia memang sudah seharusnya pergi dari sini dengan terhormat.


Pergi dengan kesadaran dan harga diri yang tinggi.


Pergi sebagai perempuan baik-baik yang memiliki kehormatan.


Pergi sebagai istri kedua yang meninggalkan, bukan yang ditinggalkan.


Rei pergi dengan doa yang menyertai kedua anaknya yang kini sedang tidur nyenyak di atas box bayi yang mewah.


Bunda pergi, jaga diri kalian baik-baik.


Rei mengayuh sepedanya perlahan, lalu semakin kencang saat dirinya sudah jauh dari mansion. Dia tidak menangis, air matanya tidak dapat keluar. Badannya bergerak begitu saja di saat hati dan pikirannya mengingat wajah si kembar.


Di kantor Marva


Marva sejak tadi tidak dapat berkonsentrasi dalam bekerja. Dirinya sibuk berpikir tentang apa yang akan disampaikannya pada Rei. Dia berusaha mencari kata-kata yang tepat, namun dia tahu, prakteknya pasti akan lebih susah daripada saat merancangnya dengan sebaik mungkin. Dia tidak pernah menyangka, kalau menyampaikan semua ini pada Rei akan lebih susah, karena dia sadar, akan ada hati yang tersakiti.


Tidak berbeda jauh dari Marva, Frans juga memikirkan tentang hubungan Marva dan Rei. Saat ini dirinya berada di perushaan Arlan.


"Ayah senang, akan punya banyak cicit," ucap Frans pada Arlan. Sebentar lagi dia juga akan memiliki cicit dari Arby, cucunya.


"Lalu bagaimana dengan perempuan itu, Ayah? Bukankah dia telah memberikan ayah cicit kembar?"


Frans menghela nafas berat, kemudian berkata, "Aku sudah memikirkannya baik-baik ...."


Marva dan Frans sama-sama berpikir tentang apa yang akan mereka sampaikan pada Rei. Mereka tidak ada yang tahu, bahwa perempuan muda yang sama-sama mereka pikirkan telah lebih dulu mengambil keputusannya ... pergi dari hidup mereka.


Delia

__ADS_1


Ibu dari Marva itu juga sedang menghela nafas panjang. Memikirkan status kedua cucunya yang lahir dari rahim istri kedua yang hanya dinikahi secara siri. Bagaimana nanti kalau orang-orang tahu? Bagaimana kalau keluarga yang lain tahu? Keluarga ... cepat atau lambat mereka pasti akan tahu. Lalu bagaimana dengan teman-teman sosialitanya? Keluarganya akan menjadi topik pembicaraan. Arlan, yang menjadi adik iparnya (adik Carles yang bernama Elya, menikah dengan Arlan) yang selama ini selalu menjunjung nama baik dan kehormatan, pasti akan marah saat keluarganya ikut terbawa-bawa, karena saat kasus Marva yang membawa Rei ke hotel, ikut disangkut pautkan dengan Arby yang dikabarkan menghamili anak di bawah umur dan suka main perempuan.


Delia kembali menghela nafas berat. Dia memiliki firasat, bahwa setelah ini keluarga besarnya tidak akan pernah tenang ...


Viola


Perasaan Viola juga tidak karuan. Dia terus berharap Rei segera pergi dari kehidupan mereka. Bukankah anak-anaknya sudah lahir dan kembali ke mansion? Dia ingin semua ke posisi awal, dia menjadi satu-satunya istri Marva. Tidak ada lagi wanita kedua.


Rei mengayuh sepedanya, melewati jalan perkampungan yang dia yakin orang-orang berkelas seperti keluarga Arthuro tidak akan melewati tempat ini. Bayang-bayang wajah anak-anaknya semakin mengusik hati dan pikiran Rei. Air matanya mulai menetes, air mata yang sejak tadi tertahan kini tumpah begitu saja. Dia mulai terisak, sementara kakinya tetap mengayuh semakin kencang. Air mata itu memburamkan penglihatannya, hingga akhirnya ....


Brugh


Rei terjatuh saat sepeda yang dikayuhnya menabarak sesuatu.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Dokter Agam?"


Rei langsung menangis dan memeluk dokter Agam. Tubuhnya terguncang dalam pelukan dokter tampan itu. Dokter Agam tidak berkata apa-apa, dia hanya diam sambil mengusap punggung dan kepala Rei. Bisa dia rasakan bahwa gadis remaja di hadapannya ini sedang mengalami masalah berat.


Rei melepaskan pelukannya, dan menunduk malu dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Tidak apa, panggil saja saya Agam."


Hening hingga beberapa detik, hingga akhirnya dokter Agam membantu Rei berdiri.


"Dokter sedang apa di daerah ini?"


"Oh, saya baru saja membesuk pasien saya."


Rei hanya mengangguk, meski dalam hati cukup bingung, apa iya dokter yang bekerja di rumah sakit internasional itu memiliki pasien yang tinggal di daerah kumuh?


"Kamu sudah makan? Ayo, kita makan dulu," ajak dokter Agam.


"Sudah, Dok."


Krucuk krucuk


Rei meringis malu saat perutnya berbunyi.

__ADS_1


"Ayo, kita makan dulu!" ajak dokter Agam sambil tersenyum.


"Saya mau pulang saja, Dok."


Terlihat wajah cemas pada diri Rei. Dia memang takut kalau nanti akan bertemu Marva dan keluarganya.


"Ya sudah, kalau begitu biar saya antar kamu sampai rumah. Tolong pegang ini!"


Dokter Agam memberikan tas dokternya lada Rei, lalu dia naik ke atas sepeda Rei.


"Ayo naik!"


Dengan ragu Rei naik ke sepeda. Dokter Agam mulai mengayuh sepeda itu. Tidak lama kemudian, mereka tiba di rumah kontrakan Rei.


Rei turun dari sepeda dengan ragu. Dia tidak tahu, apakah pemilik kontrakan ini telah menyewakan rumahnya dengan penghuni baru. Freya memang tidak pernah mengatakan apa-apa soal rumah ini, bahkan Rei sendiri tidak pernah tahu berapa harga sewanya, dan siapa pemiliknya.


"Kenapa tidak masuk?"


"I ... iya."


Rei mengambil kunci dari dalam tasnya, lalu memutar anak kunci itu. Dilihatnya isi kontrakannya masih utuh, bahkan posisinya tidak ada yang berubah. Dokter Agam melihat keadaan kontrakan Rei yang sederhana. Barang-barang di dalamnya penuh debu, tanda bahwa pemiliknya sudah sangat lama tidak pulang ke rumah ini.


"Ayo, aku bantu bersih-bersih."


"Eh? Tidak perlu repot-repot, Dok."


"Tidak apa-apa. Saya lagi free, kok."


Mereka berdua bergotong royong membersihkan rumah itu. Tidak membutuhkan waktu lama, karena rumah itu memang kecil dan barang-barang yang ada di dalamnya juga tidak banyak.


"Kamu jualan kue?" tanya dokter Agam saat melihat banyak peralatan kue di tempat itu.


"Iya, dulu saya jualan kue dan dititipkan di warung-warung. Mungkin nanti saya akan jualan kue lagi."


"Ya sudah, kalau begitu saya pulang dulu, ya."


"Terima kasih banyak, Dok. Dokter sudah banyak membantu saya."


Dokter Agam pergi meninggalkan rumah kontrakan Rei dengan berjalan kaki.

__ADS_1


Di mansion, Marva masuk dengan terburu-buru.


__ADS_2