
Satu tahun lagi sudah berlalu, Rei belajar dengan tekun bersama sahabat-sahabatnya. Anak-anaknya yang menjadi motivasi dia, selain nenek dan kedua orang tuanya yang sudah tidak ada lagi. Freya juga banyak membantu, maklum saja, ini bukanlah jurusan yang Rei kehendaki sejak awal, tapi dia tiba-tiba memutar arah. Freya yang memang bercita-cita menjadi seorang dokter, apalagi dokter spesialis, banyak membantunya belajar.
"Freya saja bisa kuliah dua bidang sekaligus, masa aku yang hanya satu jurusan, tidak sanggup. Jangan sampai aku mengecewakan mereka."
Di sana, banyak pria yang mendekat kelimanya, namun mereka hanya ingin fokus dan mendapat gelar dokter secepatnya, yang tentu saja tidak mudah.
Mereka kini ada di parkiran mobil, mendengar suara ******* dan melirik kanan kiri.
"Dengar, enggak?"
"Paling ada yang mesum?"
"Sejak tinggal di sini, otak dan pikiranku sudah belajar banyak hal. Tinggal prakteknya saja yang belum."
Mereka tertawa mendengar perkataan Letta. Rei yang memang pembawaanya paling kalem di antara mereka, hanya diam sambil menunduk malu.
"Rekam saja apa, ya? Buat koleksi pribadi?"
__ADS_1
"Dasar calon dokter mesum!"
Mereka kembali ke apartemen sambil masih terus tertawa. Memang harus bisa mencari hiburan di tengah aktivitas yang melelahkan dan tugas kuliah yang membuat sakit kepala.
"Nanti malam kita makan di kafe, aku yang traktir. Orang tua aku sudah mengirimkan uang," ucap Zilda.
"Orang tua kalian tidak ada yang memberi tahu siapa pun, kan?" tanya Naya (Freya).
"Semua aman terkendali."
"Pekerjaan kamu lancar, Rei?"
Rei mendapatkan pekerjaan sambilan juga berkat Naya. Dia, Naya dan yang lain memang bekerja sambilan juga, buat menambah uang jajan. Tapi yang paling tekun tentu saja dia dan Naya. Naya terlihat seperti orang kaya yang bisa memiliki ini itu, tapi dia juga terlihat seperti dirinya yang tidak memiliki apa-apa sampai harus bekerja ini itu.
Di kamarnya, Rei memandang foto-foto Radhi dan Raine, tanpa ada Marva atau orang lain. Dari yang dia dengar dari bik Tuti, kalau keluarga Arthuro sangat menyayangi anak kembarnya. Marva juga kadang membawa mereka ke perusahaan.
Apa suatu saat nanti kalianlain akan tahu siapa ibu kandung kalian yang sebenarnya? Maafkan bunda yang sudah meninggalkan kalian, bunda harap nanti kalian akan mengerti dan tidak membenci buda. Baik-baiklah dan sehat selalu di sana.
__ADS_1
Rei mengusap air matanya yang mengalir. Setiap hari selalu seperti ini, menangis di kegelapan malam. Bukannya dia ingin bersikap lemah, tapi ibu mana yang bisa menahan rindu pada anak-anaknya? Dia yang tidak pernah putus selalu dia lantunkan untuk Radhi dan Raine.
Rei tidak pernah merasakan serindu ini, perasaanya sangat tidak nyaman.
Di tempat rindunya berlabuh, Radhi ndan Raine sedang menangis tanpa henti. Suhu badan mereka panas, membuat Marva merasa kasihan juga bingung sekaligus.
"Anak ayah kenapa? Kalian mau apa?"
Marva menggendong keduanya sekaligus, tangan kekarnya tentu saja sanggup melakukan itu.
"Kalian lapar? Atau haus?"
Tapi Marva tahu itu tidak mungkin, karena mereka berdua sidah makan dan minum susu. Tidak lama kemudian dokter datang, dan langsung memeriksa keduanya.
"Mereka radang. Kalau sampai nanti malam panasnya belum juga turun, bawa segera ke rumah sakit. Om sudah bawa obat untuk mereka. Jaga pola makan dan kebersihan di sekitar mereka, usahakan mereka mau makan meski sedikit."
Marva mengangguk, di liriknya jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Vio sudah pergi sejak lagi, tapi belum pulang juga.
__ADS_1
"Tidur sama ayah, ya?"
Tanpa sadar Marva masuk ke kamar yang dulu dia tempati bersama Rei, dan membaringkan kedua anaknya itu. Menyanyikan lagu dan mengusap punggung keduanya dengan lembut, dan tidak lama ketiganya tertidur, menghirup aroma yang sama dari seorang wanita yang meninggalkan mereka, karena minyak wangi Rei masih ada di sana.