
Marva mengenang kejadian malam itu, yang akan menjadi kenangan selama dia ada di sini.
Flashback On
Marva dan si kembar berkunjung ke kamar Rei.
"Aunty, bacakan kami dongeng."
Tanpa menunggu persetujuan, si kembar langsung naik ke atas kasur. Tentu saja Rei tidak melarang, justru merasa senang. Hanya saja dia merasa canggung karena ada Marva di sana.
Rei membacakan beberapa dongeng yang dia baca dari internet. Tidak terasa kalau si kembar sudah tidur.
"Hm, kalau kamu tidak keberatan, biarkan saja mereka tidur di sini. Kamu bisa kembali ke kamar kamu."
"Aku juga di sini saja. Kamu tidur saja, biar aku tidur di sofa."
Rei tidak bisa tidur. Selain karena ada Marva, juga ada si kembar di atas tempat tidurnya. Bisa dia peluk sepuas hati saat mereka tidur. Hal yang dulu sangat Rei impikan dan sekarang bisa terwujud. Rei sama sekali tidak ingin melewatkan saat-saat ini dengan tidur. Matanya ingin terus merekam si kembar dalam ingatannya.
Marva juga melakukan hal yang sama, terus mengawasi ketiganya yang ada di atas kasur. Diam-diam mengabadikan semua itu melalui ponsel.
Bagaimana caranya aku bisa ikut ada di kasur itu?
Umurnya memang lebih tua, hanya saja dia kurang licik dibandingkan dengan sepupunya yang kini ada di kamarnya sendiri.
Arby, si manusia mesum dengan sejuta kelicikannya itu, kini sedang tidur sambil dipeluk atau malah dipeluk oleh Chiro dan Freya.
Marva memang harus banyak belajar dengan duda mesum satu itu🤣🤣🤣
"Anak-anak mama, mama kangen banget sama kalian."
__ADS_1
"Kami juga kangen sama Mama. Ini oleh-oleh untuk Mama, kami dan ayah yang memilihkannya."
Viola mencium kedua anaknya, lalu suaminya.
"Senang liburannya?"
"Senang banget, Ma. Kami dan Chiro bermain di pantai."
"Di sana kalian bertemu dengan siapa saja?" tanya Frans.
"Kami bertemu dengan para aunty cantik, juga uncle."
Deg
Jantung Marva seperti sudah mau copot.
"Aunty? Siapa?" tanya Vio. Jantungnya juga berdetak kencang, dia takut kalau Marva dan anak-anaknya bertemu dengan Rei.
"Para turis seperti kami. Ada orang Jepang, Korea, Jerman. Ada juga yang dari Indonesia. Pokoknya masih banyak lagi, ya kan, Ayah?"
"Iya, Sayang."
Viola menghela nafas lega. Tidak peduli mereka bertemu dengan siapa pun, yang penting bukan dengan Rei.
Marva melihat anak-anaknya, dan merasa lega juga karena si kembar tidak cerita kalau mereka bertemu dengan Rei.
Tidak ada yang tahu saja, kalau semua itu berkat Freya.
"Kalian jangan cerita pada siapa pun ya, kalau bertemu dengan kami."
__ADS_1
"Kenapa, Buaya?"
"Jangan panggil mommy aku buaya terus!"
"Kenapa, Aunty Freya?"
"Hm, nanti aunty Rei dimarahi. Nanti kalain dilarang bertemu lagi. Kalian sayang enggak, sama aunty Rei?"
"Sayang."
"Masih mau bertemu lagi?"
"Mau."
"Berarti kalian harus jaga rahasia, ya."
"Iya."
"Kalau ditanya, bilang saja kalian tidak tahu atau tidak pernah."
"Tapi kenapa aunty Rei dimarahi?"
"Jangan dipikirkan. Selama kalian merasa aunty Rei itu baik, kalian juga harus bersikap baik pada aunty Rei. Kalau ada yang bilang aunty Rei itu jahat, itu tidak benar. Mereka tidak suka pada aunty Rei. Kalian paham, kan?"
"Iya aunty Freya, kami paham."
Bukannya Freya mau menghasut atau ikut campur, tapi ini memang harus dilakukan demi kebaikan si kembar juga Rei.
"Jangan lupa, kalau hati kalian merasa aunty Rei itu baik, berarti baik."
__ADS_1
Jadi seperti itu, semuanya berkat Freya, yang sudah lebih dulu mengantisipasi semuanya. Jangan lupa kalau Freya itu berotak cerdas.
Sudah bertemu bukan berarti Rei tidak lagi mendapatkan foto-foto dan video dari bik Tuti.