Mother

Mother
182 Berhenti Bekerja


__ADS_3

Marva dan anak-anaknya kembali. Ada yang berubah dari penampilan pria itu. Rahangnya sedikit ditumbuhi rambut, tapi itu semakin menunjukkan ketampanannya.


Banyak perempuan yang menatap terpesona padanya, apalagi di kanan kirinya, dia menggandeng Radhi dan Raine. Benar-benar terlihat seperti hot daddy.


Jika orang-orang berpikir patah hati akan membuat seseorang kurus dan tidak terurus, maka salah.


Marva tidak seperti itu.


Bahkan dia terlihat lebih berotot, dan hot.


"Itu anak-anaknya?"


"Sudah punya istri?"


"Apa sudah duda?"


"Mau masih punya istri atau sudah duda, aku mau jadi yang kedua."


"Hanya perempuan bodoh yang menolak pria seperti ini."


Dan Rei adalah perempuan bodoh itu.


Tidak hanya Marva, Radhi dan Raine juga terlihat berbeda. Mereka lebih gemuk, dan terlihat sangat ceria. Mereka tidak heran kalau hanya pergi bersama ayah mereka saja. Karena dulu Marva memang sering mengajak mereka berdua tanpa Vio, saat ikut bersama Arby mencari Freya.


Itulah sebabnya mereka memang lebih dekat dengan Marva daripada Vio, selain karena memang Marva adalah ayah kandung mereka.


"Apa kita akan kembali ke apartemen, Ayah?"


"Iya, tapi bukan apartemen yang itu. Ayah sudah menyiapkan apartemen yang baru untuk tempat tinggal kita."

__ADS_1


Marva benar-benar ingin memulai hidup baru hanya bersama anak-anaknya saja. Dia tidak ingin seperti remaja yang karena patah hati, lalu malas melanjutkan hidup lalu bunuh diri.


Laki-laki tidak hanya satu, masih banyak yang lain. Carilah kebahagiaan bersama pria yang bisa mencintai dan membahagiakan kamu.


Itu dulu yang sering Marva katakan pada Vio.


Jadi ....


Perempuan tidak hanya satu, masih banyak yang lain. Carilah kebahagiaan bersama perempuan yang bisa mencintai dan membahagiakan kamu.


Bagaimana jika ada yang membalikkan kata-kata itu pada Marva?


Dan jawabannya adalah Vio.


Tapi lagi-lagi ... hati tidak pernah sejalan dengan perasaan.


Memiliki cinta tanpa status, akan terasa menyakitkan.


Katanya ... kata orang-orang ... lebih baik dicintai lebih daripada mencintai.


Kalau Marva lebih memilih dicintai daripada mencintai, pasti sudah dari dulu dia memilih Vio.


Kita lihat saja siapa yang akan memenangkan peperangan ini.


"Kalian bersama Chiro dulu, ya. Ayah mau ke perusahaan dulu."


"Iya, Ayah."


Marva tiba di perusahaan. Kehadirannya membuat heboh orang-orang. Marva yang sudah lama tidak menampakkan dirinya di perusahaan, tiba-tiba saja datang dengan pesona yang lebih kuat.

__ADS_1


"Ganteng banget. Aku jadi sedih!"


"Lah, tuan Marva yang tambah genteng, kenapa kamu yang sedih?"


"Aku sedih karena tidak bisa memilikinya."


"Dasar!"


Pria itu memasuki ruangannya, dan mulai mengambil barang-barangnya.


"Marva! Dari mana saja kamu selama ini? Apa kamu tidak tahu kalau mama kamu sampai sakit memikirkan kamu!"


"Tunggu dulu, apa yang kamu lakukan?" tanya Carles.


"Aku mau mengundurkan diri dari perusahaan ini."


"Apa kamu bilang?"


"Aku mau berhenti dari perusahaan ini."


Marva tetap membereskan barang-barangnya. Dia tidak peduli siapa nanti yang akan memimpin perusahaan itu dan menjadi CEO di sana.


Untung saja dia juga bergabung bersama para sepupunya itu mendirikan perusahaan baru.


"Jangan bercanda, Marva!"


"Aku tidak bercanda, Papa. Aku sudah memikirkan ini sejak dulu."


"Apa ini karena perempuan itu? Apa karena kami tidak merestui kamu, maka kamu jadi memberontak seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2