Mother

Mother
84 Bahagialah


__ADS_3

"Aku punya rencana," ucap Naya yang kini sedang duduk tanpa melakukan apa-apa.


Perempuan memang masih terlihat pucat dan kurus, selain karena sakit, juga karena kasus yang sedang dia hadapi.


"Apa?" tanya Monic.


"Kalian nanti ikut kembali ke Jakarta?"


"Iya, dong. Masa kamu di sana kami di sini."


"Aku mau mendirikan klinik. Ini harus direncanakan sekarang, sebelum kita kembali. Ini juga salah satu impian aku dari sekian banyak impian yang harus aku wujudkan."


Rei melihat Freya, sahabatnya itu seperti terobsesi dengan banyak hal. Sedikit istirahat dan banyak bekerja. Di sini saja, Freya punya beberapa kafe.


"Klinik?"


"Iya. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus semuanya."


Tidak punya banyak waktu ....


Entah kenapa Rei tidak merasa nyaman mendengar perkataan itu. Dia seperti mendapatkan firasat buruk.


Tubuh kurus dan pucat Freya semakin membuatnya tidak nyaman.


"Jadi, kita berlima buat klinik untuk mereka yang kurang mampu. Dengan fasilitas sebaik mungkin, tentu saja. Rei, kamu saja yang jadi direkturnya."

__ADS_1


"Loh, kenapa aku?"


"Kan aku sudah bilang, aku tidak punya banyak waktu. Sedangkan yang lain juga ada tanggung jawab dari keluarga mereka. Jadi kamu yang paling pantas memimpin di sana. Soal yang lain biar aku yang urus. Oya, kamu juga yang merancang bangunannya, ya."


"Tapi ...."


"Iya, Rei. Kamu saja lah. Kami juga punya tanggung jawab pada keluarga."


"Iya. Maaf ya, bukannya kami sombong dan jangan tersinggung, tapi kamu tahu sendiri kan siapa keluarga kami."


Rei tidak marah apalagi tersinggung. Memang di antara mereka, hanya dia yang ada di ekonomi bawah.


"Baiklah, aku tidak akan mengecewakan kalian."


Rei merasa terharu dan tersanjung mendapatkan kesempatan ini. Dia yang bukan siapa-siapa, justru ditunjuk sebagai direktur klinik.


Memang hanya klinik, tapi tentu saja perempuan seperti Freya tidak akan melakukannya mendirikan sesuatu secara asal-asalan.


"Tunjukkan pada para orang sombong itu, kalau kamu adalah berlian yang berharga. Tidak ada yang langsung instan, jadi untuk saat ini, ini dulu yang harus dilakukan." Naya memegang pundak Rei, memberikan semangat untuk perempuan itu.


"Ini sudah lebih dari cukup. Entah bagaimana caranya aku harus membalas kebaikan kalian."


"Cukup dengan kamu hidup bahagia dan menjadi orang yang kuat. Ingat, orang lemah mudah ditindas!"


Rei mengangguk paham. Dalam hati dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

__ADS_1


"Sahabat-sahabatku harus hidup dengan bahagia, jadi aku juga bisa tenang saat tidak bersama kalian lagi."


Deg


Deg


Deg


Perasaan mereka semakin tidak nyaman. Bukannya Monic, Letta dan Zilda tidak menyadarinya, hanya saja mereka memilih diam.


"Kamu enggak istirahat, Nay?"


"Nanti akan ada waktunya bagiku istirahat panjang."


Mereka berempat saling lirik, namun sama-sama menggelengkan kepala.


Ini hanya perasaan mereka saja. Semuanya akan baik-baik saja.


"Chiro lucu banget, sih. Kamu juga masih dapat kiriman foto dan video kan, Rei?"


Rei tersadar, dan mengangguk.


"Aku senang mereka akur. Jadi kangen sama mereka bertiga. Oya, beli oleh-oleh yang banyak yuk untuk mereka. Besok kan kita libur."


"Iya, kami juga mau membelikan oleh-oleh untuk para keponakan kami yang ganteng-ganteng dan cantik itu."

__ADS_1


__ADS_2