Mother

Mother
215 Musuh Dalam Selimut


__ADS_3

Malam ini Marva mengajak Rei untuk menghadiri pesta salah satu pengusaha. Dia sudah berdandan, meskipun sederhana, tapi terlihat sangat cantik.


"Jangan gugup, santai saja."


Kurang dari satu jam kemudian, mereka tiba di tempat pesta. Ruangan pesta itu sudah di penuhi oleh banyak tamu.


Banyak mata yang memandang pasangan itu. Bukan karena si pria yang sangat tampan dan si perempuan yang sangat cantik, tapi karena berita tentang mereka.


Si pengkhianat dan si pelakor!


Bisikan-bisikan mulai terlihat.


Tamu pesta itu sangat banyak dan dari dari berbagai kalangan.


Artis, pejabat, kaum sosialita, pengacara terkenal, atlet, dan orang-orang terkenal lainnya.


"Rei!" panggil seseorang.


"Freya?" Rei bernafas lega, setidaknya sekarang dia ada temannya.


Ternyata tidak hanya ada Freya, tapi ada juga Letta dan Zilda. Rei baru ingat, kalau mereka itu juga anak para penguasa, mungkin saja datang bersama keluarga mereka.

__ADS_1


Arby dan yang lain? Jangan ditanya, mereka juga sudah pasti datang.


Bahkan, keluarganya juga ada.


Rei meringis dalam hati.


Aku lupa, kalau sekarang aku juga keturunan dari salah satu pengusaha. Ya ampun!


Para perempuan itu, seperti biasa, berkerumun membentuk kelompok sendiri. Tidak lama kemudian Monic datang, dengan wajah yang terlihat malas-malasan.


Kelompok perempuan itu tentu saja menjadi pusat perhatian. Anak-anak pengusaha terkenal yang terlihat sangat akrab dengan si pelakor.


Terdengar perkataan pelan dari seseorang.


"Monic?"


"Ganti nama, dia? Mungkin terlalu malu. Tapi dia kan emang enggak tahu malu. Tapi aku heran, kenapa nona Freya bisa akrab dengan mereka."


"Halah, mereka semua itu sama saja. Makanya bisa akrab. Tuh, si Nania. Cewek kecentilan yang enggak bisa lihat cowok ganteng. Freya kan juga gitu. Aku dengar-dengar dulu dia pacaran dengan Mico. Terus si Aruna, diam-diam menghanyutkan, dia. Kelakuan juga sama saja dengan yang lain."


"Para perempuan sampah. Enggak punya harga diri!"

__ADS_1


Cukup!


Panas sudah kuping mereka.


"Aku membatalkan kerja sama dengan kalian!" ucap Marva penuh emosi.


"A ... apa?"


"Aku membatalkan kerja sama dengan kalian. Aku tidak sudi menjalin kerja sama dengan orang yang suka ikut campur dengan urusan pribadi orang lain. Kalian menghina istriku, itu sama saja menghinaku dan keluarga Arthuro. Seumur hidup, keluarga Arthuro tidak akan pernah lagi menjalin kerja sama dengan keluarga kalian!"


Wajah mereka pucat.


"Begitu juga dengan kami. Aku tidak sudi menjalin kerja sama dengan orang yang menghina ibu dari anakku. Dan aku, mewakili keluarga Zanuar, juga akan menolak kerja sama dengan kalian."


"Jangan pernah menghina Nuna lagi. Karena dia jauh lebih baik daripada kalian!" ucap Ikmal penuh emosi. Sudah tidak bisa dijabarkan lagi bagaimana wajah Ikmal sekarang.


Marcell dan Vian pun sama, mereka ada di barisan terdepan untuk menjaga Nania dan Aruna, meskipun berkali-kali ditolak.


"Kalian tidak bisa begini, jangan mencampur adukkan masalah pekerjaan dan pribadi!" ucap salah satu dari mereka.


"Apa kalian tidak punya etika? Apa kami harus menjalin kerja sama dengan orang-orang yang menghina dan merendahkan orang yang kami cintai?" tanya Marva.

__ADS_1


"Bukankah sudah terlihat jelas bagaimana munafiknya kalian? Di depan kami kalian memuji, menyanjung, dan bersikap baik. Tapi di belakang menghina, merendahkan, bahkan memfitnah!" ucap Arby


"Benar, kalian akan menjadi musuh dalam selimut. Apa kalian pikir, kami sudi menjalin kerja sama dengan orang-orang seperti kalian?" Ikmal mengepalkan tangannya, sampai urat-uratnya keluar.


__ADS_2