Mother

Mother
65 Buaya Darat


__ADS_3

Hari ini hari pernikahan dokter Aurel. Kelima gadis itu sudah selsai bersiap dan terlihat sangat cantik dengan ciri khas masing-masing.


"Ayo, nanti calon jodoh kita keburu diambil orang lain," ucap Letta.


"Kita? Kamu saja kali!" sahut Zilda.


"Jangan begitu, siapa tahu saja jodoh kita ada di pesta itu, kan. Jangan lupa aamiin-kan. Karena perkataan baik itu harus di-aamiin-kan."


"Aamiin," ucap mereka serempak, tanpa sadar bahwa mungkin saja doa mereka akan terkabul, hehehe.


"Apa seperti ini yang namanya ketemu jodoh, ya? Aku deg-degan banget," Lagi-lagi Letta berucap.


"Ya ampun, yang mau menikah itu dokter Aurel, bukan kamu!"


"Kalau sudah ketemu jodohku, aku mau langsung dinikahkan hari ini juga."


"Aamiin," yang lain berucap, kecuali Zilda.


"Kenapa di-aamiin-kan?"


"Kan tadi kamu sendiri yang bilang, perkataan baik harus di-aamiin-kan, gimana sih!"


"Sudah sih, kenapa malah membahas soal amin," keluh Naya.


Mereka akhirnya naik taksi menuju pesta itu.


"Kali saja nanti kita diantar pulang sama salah satu dari tamu itu."


"Ya ampun Zilda, apa kamu sudah kebelet kawin?"


Zilda hanya ketawa saja, dia senang karena sudah membuat kesal sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Tibalah mereka di hotel itu, sudah banyak yang datang, yang terdiri dari dokter dan pengusaha.


"Suaminya dokter Aurel pengusaha, ya?"


"Mungkin."


"Aku kira pasiennya."


"Anjir, kalau ada yang mendengar kamu bicara begitu, bisa-bisa kamu di PHK."


"Mau PHK gimana, kerja sama mereka saja enggak!" Mereka kembali tertawa, yang tanpa sadar menjadi pusat perhatian.


Mereka memberikan selamat kepada pasangan pengantin, dan berdiri sambil melihat ke sekeliling. Orang-orang lalu melihat ke satu arah, begitu juga dengan mereka.


Deg


Deg


Deg


Mata-mata saling menatap. Tidak ada yang melanjutkan langkah, dunia seolah berhenti karena kejutan yang tidak pernah disangka.


Selama bertahun-tahun ....


Kenapa di sini?


Kenapa di tempat ini?


Dipertemukan oleh pesta pernikahan.


Dia tangan sing menggenggam erat, Sama-sama menyadari kalau teman mereka gemetaran.

__ADS_1


Monik lalu menggenggam tangan Naya, yang sebelah tangan Naya sendiri menggenggam tangan Rei. Letta menggenggam sebelah tangan Wei, dan Zilda menggenggam tangan Letta.


Entahlah, melihat mereka yang seperti itu, seperti barusan perempuan yang akan melakukan aksi demonstrasi kepada pria yang berdiri di hadapan mereka, yang sama canggungnya.


"Buaya, buaya ada di sini?"


Di kembar langsung berlari dan memeluk Naya. Arby melotot dengan apa yang dia lihat dan dengar.


Kenapa Freya disebut buaya?


Kalau Freya buaya, berarti Chiro anak buaya?


Berarti dia juga buaya?


Buaya darat?


Dia lalu menatap tajam Marva yang sama syoknya.


"Buaya, kenapa tidak pernah datang lagi ke sekolah dan memberikan kami bekal?"


Arby kembali menatap tajam Marva, siap mencabik-cabik pria jelek itu. Peduli amat dengan talinoersaydarssn.


"Dasar tukang selingkuh, berani-beraninya kamu merebut mommy Chiro!" ucap Arby pelan, tapi masih bisa di dengar oleh keluarga mereka, yang juga ada keluarga Freya di sana.


Tatapan tajam dari banyak orang seolah menusuk Marva yang memang tidak tahu apa-apa.


"Ayah, ini loh yang namanya buaya. Cantik, kan?" Marva diam saja, memangnya dia harus menjawab apa?


"Cantik, kan, ayah?"


Marva mengangguk. Mau bilang jelek takut, mau mau bilang cantik, lebih takut lagi.

__ADS_1


"Dasar sepupu laknat, mati saja kau!"


Tuh kan, nyawanya sedang terancam!


__ADS_2