
"Dokter cantik, temani kami makan di kafe, ya."
"Ayo, Dok. Kami sudah lapar." Radhi dan Raine menggandeng tangan Rei kiri kanan, sehingga perempuan itu tidak bisa menolak. Dalam hati, Marva tersenyum puas.
Anak-anak pintar!
Di kafe, mereka duduk dengan posisi Rei ada di tengah Radhi dan Raine, sedangkan Marva persis di hadapan Rei.
Marva terus memandang Rei. Melihat wajah cantik ibu dari anak-anaknya. Rei yang merasa diperhatikan, merasa tidak nyaman.
"Apa ada yang ingin Anda katakan, Tuan?"
Marva tidak suka mendengar Rei yang menyebutnya tuan.
Dia tidak lagi memanggil aku kakak.
"Kamu berubah."
"Semua orang pasti akan berubah. Tidak ada yang pasti."
"Bagaimana keadaan kamu selama ini?"
"Sangat baik, seperti yang kamu lihat."
"Kenapa kamu pergi ke London?"
"Tentu saja untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Aku tidak mau menyia-nyiakan hidupku."
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak kuliah saja di Jakarta?"
"Aku takut."
"Takut?"
"Takut kalau hatiku akan kalah dan ingin bertemu dengan anak-anak."
"Tapi kenapa harus di negara orang, kenapa tidak di luar kota saja."
"Saat itu aku hanya mengikuti kata hatiku, dan ternyata keputusan aku tepat. Di negara ini, aku ternyata bisa bertemu lagi dengan Freya, dan bersahabat dengan Monic, Letta dan Zilda. Mereka sangat baik padaku."
"Kenapa tidak menjadi arsitek, itu kan impian kamu."
"Impian tidak harus di penuhi, jika ada yang lebih penting dan berharga dari itu. Bukan juga berarti aku melepaskannya begitu saja. Aku masih bisa merancang."
"Karena aku ingin pergi dengan membawa harga diri. Apa kamu berpikir aku akan pergi setelah kalian usir? Atau kalian mungkin berpikir kalau aku berharap kalian akan mencegah kepergian aku, atau aku yang memohon untuk tetap tinggal? Aku ... sangat tahu apa isi dari perjanjian itu."
"Cukup sekali saja aku merendahkan diriku."
Marva diam, masih memandang wajah sendu yang wajahnya terlihat semakin dewasa itu.
Rei melihat si kembar yang sedang nonton video dengan menggunakan earphones itu. Marva memang sengaja memberikan itu pada mereka, agar tidak mendengar pembicaraannya dengan Rei.
"Kamu punya kekasih?" Entah kenapa Marva bertanya seperti itu.
"Punya atau tidak, bukan urusan kamu." Rei mendengkus, Marva memang mantan suaminya, ayah dari anak-anaknya, tapi bukan berarti dia harus tahu semua hal pribadi tentang dirinya.
__ADS_1
Sudah beberapa hari mereka berada di negara itu. Rei sama sekali tidak pernah mengajak Marva dan si kembar ke apartemennya.
"Boleh ya, tante. Kami ingin main ke tempat tante."
"Ya sudah, tapi nanti ya. Tante mau beres-beres dulu."
Rei bersama Naya dan tim cewek lainnya mau ke unit milik Rei.
"Tetap di sini. Awas kalau ada yang ikut!" ancam Naya. Bahkan Chiro juga tidak diajak.
Sesampainya di tempat Rei, tim cewek itu langsung gotong royong membersihkan unit milik Rei. Bukan karena punyanya berantakan, tapi karena banyak foto si kembar.
"Masukkan saja ke salah satu kamar, terus kunci," ucap Naya.
Setelah semuanya selsai, mereka baru bisa membiarkan para cowok itu masuk.
"Kami juga mau dong, ke tempat Nania dan Aruna."
"Jangan banyak maunya jadi orang. Kalian itu semua, sangat merepotkan, kecuali Chiro dan si kembar," ucap Zilda.
"Kami lapar, kalian saja yang masak."
"Atau beli makanan saja."
Karena tidak mau disalahkan jika terjadi kekacauan di dapur itu, mereka akhirnya memesan makanan.
Selain Marva, tentu saja yang lainnya bisa masak. Bukannya Marva tidak bisa masak, tapi ya seadanya saja.
__ADS_1
Marva melihat si kembar yang tidur-tiduran di atas paha Rei. Melihat itu Marva tersenyum, tanpa ingat kalau di negara lainnya, seorang perempuan masih saja gelisah.