
"Mommy!"
Chiro langsung keluar lagi dari dalam mobil saat melihat Freya mau pergi, dan seperti biasa yang selalu diikuti oleh Radhi dan Raine.
"Mommy mau pulang?"
"Iya, Sayang."
"Radhi, Raine, dokter Rei pulang dulu ya. Ngomong-ngomong ... kalian mirip loh, sama dokter Rei," lanjut Freya sambil melirik keluarga Arthuro.
Viola menggelengkan kepalanya, tidak mau kalau sampai Freya membocorkan rahasia mereka.
"Benarkah mirip?" tanya Radhi, yang wajahnya memang sangat mirip Rei.
"Iya. Nama kalian kan Radhi Kama dan Raine Kalila. Mirip, kan?"
"Apa hubungannya dan miripnya, Buaya?"
"Nama dokter Rei kan, Reinata Kirei. Reinata Kirei, Radhi Kama, Raine Kalila ... RK RK RK. Inisial nama kalian sama, kan?"
"Wah, benarkah? Iya, mirip mirip mirip. Kebetulan banget ya, Buaya?"
"Iya, kebetulan banget, ya!" ucap Freya sambil menekankan kata kebetulan dan tersenyum puas melihat ekspresi keluarga itu.
"Kalian mau kan, mendoakan dokter Rei?"
"Aku doakan, semoga Dokter cantik sehat selalu," ucap Radhi.
"Hm, aku doakan apa, ya?" tanya Raine.
"Oya, aku doakan Dokter cantik selalu bahagia, punya suami yang ganteng seperti ayah, punya anak yang tampan dan cantik seperti kami, punya boneka yang lucu seperti punyaku, punya ...."
"Stop! Kenapa kamu berdoa seperti itu?" tanya Radhi.
__ADS_1
"Kan seperti teman kita, Naysila."
Naysila adalah teman sekelas mereka yang tidak memiliki ayah karena ayahnya sudah meninggal.
"Duh, kalian bertiga bikin gemes banget, sih," ucap Monic sambil mencium ketiga anak itu.
Letta dan Zilda juga tidak mau ketinggalan, mereka ikut memeluk Chiro dan si kembar.
"Kami pulang dulu, ya."
Wajah ketiga anak itu langsung muram.
"Jangan sedih, nanti dokter akan ada tugas lagi di sekolah kalian."
"Asik, bawakan kami bekal lagi, ya?" tanya Raine.
"Oke, minta dong, sama dokter Rei."
"Dokter cantik, mau kan membuatkan bekal untuk kami?"
Rei kembali memeluk dan mencium keduanya.
Para dokter cantik itu lalu meninggalkan ketiga bocah, yang disaksikan tatapan para orang dewasa lainnya dengan perasaan campur aduk.
"Lihat kan, gara-gara ulah kamu, Freya jadi ikut-ikutan sinis ke aku!"
"Dia kan memang selalu sinis ke kamu, Er," celetuk Marcell, yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Erlangga.
"Aku bilang juga apa, Rei itu ada di luar negeri. Kamu sih, enggak percaya."
"Tahu, dia pikir gadis seperti Rei tidak akan kuliah ke luar negeri."
"Rei akan berubah kalau bergaul dengan Freya."
__ADS_1
"Maksud kamu apa, hah. Kamu mau bilang kalau Freya memberikan pengaruh buruk, pada mantan istri si kadal?"
"Bukan itu, kalian lihat sendiri kan, bagaimana mereka saling membela. Rei yang pendiam sudah berani mengungkapkan perasaannya."
"Kamu juga Mar, kenapa tidak bilang kalau mommy Chiro ada di Jakarta. Dasar kau pria kadal, mau merebut Freya dari Chiro?"
"Ya ampun, mana aku tahu Freya ada di sini. Lagi pula kenapa kalian malah menyudutkan aku!"
"Sudah aku bilang, keluarga kita sepertinya kena kutuk. Amit-amit kalau Chiro bernasib sial!" Arby langsung menghampiri Chiro yang masih menatap kepergian Naya. Dia menggendong Chiro dengan posesif dan berdoa semoga anaknya akan selalu beruntung dalam segala hal.
Marva yang terpengaruh omongan Erlangga, juga mendekati si kembar.
Betapa malunya keluarga Arthuro, karena kejadian ini, keluarga Zanuar (keluarganya Freya) jadi tahu masalah keluarga mereka.
Di rumah, masing-masing memikirkan apa yang telah terjadi tadi.
Bagaimana kalau anak atau cucunya berasa di posisi Rei?
Bagaimana kalau anak atau adik perempuannya bernasib seperti Rei?
Bagaimana kalau dia yang ada di posisi Rei?
Bagaimana kalau dia ada di posisi Viola?
Rei dan Viola sama-sama menjadi korban, hanya saja Viola lebih beruntung. Biasanya, istri pertama akan tersingkir karena tidak bisa memberikan keturunan, tersingkir oleh istri kedua yang memberikan keturunan, dua sekaligus, lagi.
Tapi di sini, justru yang memberikan keturunan yang tersingkir.
Apa penyebabnya?
Apakah karena status sosial mereka yang jauh levelnya?
Atau prinsip bahwa tidak pernah ada perceraian, karena yang orang-orang tahu bahwa Viola lah istri Marva.
__ADS_1
Tidak mau melukai Viola, tapi menyakiti Rei.
Tidak ingin menyakiti Rei, tapi melukai Viola.