Mother

Mother
196 Ekstrim


__ADS_3

Begitu mereka semua pulang, Arby dan yang lain langsung kembali masuk ke ruangan Marva.


Puk


"Bangun woy, yang lain sudah pada bubar!"


Marva membuka matanya, dan melihat sekitar.


"Ya ampun, deg-degan banget aku. Gimana, akting aku bagus, enggak?"


"Kualat kamu Marva, membohongi banyak orang!"


"Arby Erlangga Abraham, jangan lupa kalau ini ide dari kamu. Kamulah yang kualat!"


"Memang ide dariku, tapi kenapa kamu mau? Kamulah yang kualat, kan kamu yang pura-pura sakit."


"Kalian semua yang kualat. Dasar para keponakan kurang ajar. Uncle ini dokter, kenapa garis dilibatkan dalam kisah cinta Marca, hah? Bagaimana kalau uncle dituntut, dilaporkan? Dipecat? Hah? Bagaimana kalau rumah sakit ini dituntut?"


"Uncle, siapa yang menjadi keluarga korban?"


"Kalian ... kita!"


"Rumah sakit ini milik siapa?"

__ADS_1


"Milik keluarga Abraham."


"Siapa itu keluarga Abraham, dan siapa penerusnya?"


"Kakekmu, lalu daddy kamu, lalu kamu dan selanjutnya Chiro dan adik-adiknya ... kalau punya adik itu juga."


Arby mendelik kesal pada uncle-nya itu.


"Nah, itu Uncle tahu. Apa mungkin aku akan menuntut rumah sakit ini dan membuatnya bangkrut? Apa iya aku akan membuat Chiro miskin? Tapi kehilangan satu rumah sakit pun tidak akan membuat keluarga Abraham bangkrut, kami terlalu kaya untuk itu."


Dokter itu menghela nafas berat, kenapa dia punya keponakan seperti ini?


"Uncle ini dokter, bukan tukang tipu. Ini menyalahi kode etik. Tidak sesuai dengan hati nurani."


"Mulia dari mana?"


"Mencegah Marva dari kematian yang sesungguhnya. Kali saja karena terlalu depresi nanti dia bunuh diri. Lagi pula, kami meminta tolong kepada Uncle sebagai keluarga, bukan sebagai dokter. Anggap aja uncle lagi main dokter-dokteran."


"Tapi cara kalian ini terlalu berbahaya, bagaikan kalau keluarga Marva ada yang jantungan?"


"Uncle tenang saja. Kan aku sudah memeriksa riwayat medis aunty Elya, uncle Carles dan kakek. Semua aman. Selama beberapa waktu ini, aku juga sudah meminta para dokter untuk mengawasi kesehatan mereka. Aku juga enggak sembarangan, loh."


Mereka diam, tentu saja Arby tidak akan melakukan hal ini sembarangan.

__ADS_1


"Pokoknya Marva, aku minta bayaran karena sudah membatu kamu bersatu dengan Rei."


"Berapa persen?"


"Ck, kamu kira aku kere, minta saham padamu? Aku hanya minta, pokoknya nanti semua dosa aku kamu yang nanggung. Aku akan menjadi bayi polos yang tak berdosa."


"Mana bisa begitu, ini kan ide kamu. Kamu juga ikut-ikutan bersalah!"


"Kalau enggak begini, sampai kiamat pun, kisah cintamu ya begini-begini saja. Maju enggak mundur malas! Bosan aku!"


Iya juga sih, pikir Ikmal, Marcell dan Vian.


"Jangan-jangan sebenarnya ini ide kamu untuk kembali bersama Freya?" tuduh Marcell.


"Sembarangan! Aku tidak sejahat itu pada Freya!"


"Enggak sejahat itu pada Freya, tapi sejahat ini pada Rei!"


"Rei itu terlalu polos dan sedikit bodoh sebenarnya. Kalian kan tahu sendiri bagaimana sifatnya. Dia itu orangnya enggak tegaan, ujung-ujungnya pasti bakalan mengalah pada orang lain. Berkorban demi neneknya, berkorban untuk anak-anak nya, mengalah demi Vio, dan sekarang mengalah untuk Marva. Kalau Marva baik-baik saja, aku jamin Marva akan ke luar negeri tanpa ada harapan lagi."


"Jadi begitu, kalian licik juga, ya!"


Mereka menoleh dan melihat seseorang yang berdiri di depan pintu dengan wajah emosi.

__ADS_1


__ADS_2