
Deg
Jantung Rei berdetak kencang saat melihat Marva, dia ingin menegur Marva, tapi pria itu melewatinya begitu saja.
Rei terdiam
Tadi benar Marva, kan?
Penampilan pria itu memang berbeda. Yang biasanya terlihat rapih dengan setelan jas di hari kerja, kini hanya memakai kaos biasa saja, dan memperlihatkan lengan kokohnya. Rahang pria itu semakin tegas, dengan pancaran mata yang tajam.
Tidak ada sapaan, hanya aroma minyak wangi saja yang menyapa indra penciuman Rei.
Rei mengerjapkan matanya, lalu membalik tubuhnya, melihat Marva yang semakin berlalu.
Jangankan menyapa, menoleh pada Rei saka tidak.
Dia kenapa?
Seharian ini Rei tidak fokus bekerja. Dia terus memikirkan Marva, memikirkan perubahan sikapnya.
Ck, sepertinya dia benar-benar mau membalasku. Kekanakan sekali, dia!
Perempuan itu menghela nafas.
🍂🍂🍂
__ADS_1
[Aku mau bertemu dengan anak-anak.]
[Nanti saja, aku masih sibuk.]
[Biar aku yang ke tempat kalian. Aku dengar kamu dan anak-anak sudah tidak tinggal di kediaman Arthuro lagi.]
[Nanti saja, aku masih sibuk.]
[Jadi, kapan kamu bisanya?]
[Belum tahu, aku benar-benar sibuk. Tidak ada waktu untuk mengurusi hal lain.]
Rei mendengkus kesal, membaca kata-kata Marva yang selalu mengatakan dirinya sibuk.
Rei jadi teringat saat dulu Marva menghubunginya, dan Rei juga mengatakan kalau dirinya sibuk, sangat sibuk, masih sibuk.
Untuk pertama kalinya Rei mengumpat.
Aku kan dulu benar-benar sibuk. Memangnya dia sibuk apa sih, sibuk cari istri baru?
Setiap hari, dan setiap ada waktu, Rei akan selalu menghubungi Marva. Entah itu telp atau mengirim pesan. Tapi soalnya, Marva belum juga memberikan respon yang baik. Anak-anak tidak ada di sekolah, juga sudah tidak pernah lagi menemani Chiro. Sepertinya Marva benar-benar memberikan jarak antara Rei dengan anak-anaknya.
Arby dan yang lain juga tidak ada yang memberi tahu. Entah karena memang tidak tahu, atau memang tidak mau memberi tahu.
Dokter Agam hanya tersenyum saja dan sedikit tertawa melihat Rei yang terus bersungut-sungut.
__ADS_1
"Awas, lama-lama bisa jatuh cinta."
"Ish, apaan sih. Aku kan hanya mau bertemu dengan anak-anak. Ponsel mereka tidak bisa dihubungi."
"Mereka kan satu paket, Rei. Seperti tuan Arby dan Chiro."
Monic memperhatikan dokter Agam dan Rei, tapi dia jadi teringat Freya.
Saat ini mereka (dokter Agam, Rei, Monic, Letta, Zilda dan Marcell) sedang ada di kafe depan rumah sakit.
Monic kembali memperhatikan dokter Agam dan Rei.
"Mon, kamu kenapa melihat Rei dan Agam seperti itu, sih?" tanya Letta.
"Freya dulu juga suka memperhatikan mereka seperti ini, kan?" hanya itu yang menjadi jawaban Monic. Suaranya terdengar sedih saat menyebut nama Freya.
Arby yang saat ini baru saja tiba dan ada di belakang, langsung menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Ikmal, dan Vian.
Nama Freya memang kata yang paling sensitif untuk diucapkan.
🍃🍃🍃
Marva diam saja membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Rei. Bahkan pria itu langsung meletakkan ponselnya di atas meja, tanpa ada niat untuk membalasnya. Marva kembali merapihkan barang-barangnya yang penting, juga barang-barang milik Radhi dan Raine.
"Kalian benar tidak masalah, kan?"
__ADS_1
"Iya, Ayah. Kami akan selalu bersama Ayah. Kami akan ikut ke mana saja Ayah pergi. Ayah tidak akan kesepian, karena akan ada kami yang menemani ayah."