
Tangan Marva gemetaran saat menanda tangani surat kesepakatan itu.
Selamatkan keduanya.
Bagaimana bisa dia dan anak-anak mereka tanpa Rei? Tapi bagaimana perasaannya Rei saat kehilangan bayi mereka?
Proses operasi mulai berjalan. Semua diam, tidak ada yang ingin bicara untuk menghilangkan kecemasan.
Waktu berjalan cukup lama bagi mereka, sampai akhirnya pintu ruangan itu terbuka.
"Rei gimana?"
Dokter itu menghela nafas berat.
"Keduanya selamat ...."
Semua bernafas lega.
"Tapi ...."
"Tapi apa?"
"Keduanya kritis. Rei mengalami pendarahan yang besar, dan bayi itu kekurangan pasokan oksigen di paru-parunya."
__ADS_1
Marva menunduk, keduanya selamat tapi belum bisa dipastikan kesehatan mereka akan membaik atau tidak.
Tuhan, jika ini karma atas dosa-dosaku, aku mohon ampun yang sebesar-besarnya. Ini adalah kesalahanku, jangan Engkau hukum istri dan anakku yang tidak berdosa itu.
Marva meneteskan air matanya. Nafasnya terasa sesak, hatinya perih dan sulit untuk diungkapkan.
Mendapati kenyataan bahwa orang yang dicintai terbaring tidak berdaya di rumah sakit, kini Marva sangat paham bagaimana perasaan Arby dulu.
Marva melihat anaknya yang ada dalam inkubator, lalu masuk untuk mengazaninya. Anak itu terlihat rapuh, dan Marva kembali meletakkannya, dan ke tempat Rei.
Radhi dan Raine diam menangis, merasa kasihan dengan adik bayi mereka.
Rei sudah dipindahkan ke ruang ICU.
Keluarga Rei sangat terpukul dengan kejadian ini.
Marva terus memohon ampun dalam hatinya.
Apakah ini balasan untuk aku karena sudah membohongi keluarga aku? Membohongi Rei untuk bisa bersamanya. Aku tahu aku salah, aku juga selalu dihantui rasa bersalah dan takut. Takut kalau suatu saat nanti Rei akan tahu dan membenciku, lalu meninggalkan aku membawa anak-anak. Tapi bukan berarti aku juga menyesal telah melakukan itu. Aku tahu aku egois, mungkin tidak punya hati. Ya, seperti inilah aku, yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang aku mau.
Tapi aku mohon, jangan hukum mereka. Jangan hukum aku melalui mereka.
Aku yang menyakiti Viola!
__ADS_1
Aku yang memanfaatkan kelemahan Rei!
Aku yang membohongi keluargaku!
Aku yang bersalah, bukan anak-anak ku!
Apa ini hasil sumpah serapah orang-orang, kalau pengkhianat dan pelakor tidak berhak bahagia?
Marva terus meneteskan air matanya. Apa dia menyesal? Mungkin dia menyesal, kenapa jalan hidupnya harus seperti ini. Andai saja dia bisa bertemu dengan Rei sebelum menikah dengan Vio. Tapi tetap sama saja, kan! Keluarganya juga tidak akan merestui mereka, karena status Rei yang saat itu bukanlah siapa-siapa.
Mau diputar-putar bagaimana pun tetap kisah kasih mereka tidak akan berjalan lancar.
Jantung Marva berdetak kencang, terasa ngilu dan tak tahu harus bagaimana. Dia bukan manusia suci, dan sangat sadar akan kesalahannya. Inikah balasan karena dia telah menyakiti istrinya dulu?
Hati dan pikiran Marva sangat kalut. Dia memikirkan semua kejadian di masa lalu. Semua ini salahnya, salahnya, salahnya. Itu yang terus dia tekankan, tapi kenapa orang yang dia sayangi yang harus menerima dampaknya.
Bukankah pembalasan terbaik adalah melalui orang yang kita sayangi, agar kita tidak lagi menyakiti hati orang lain? Agar kita sadar, bahwa saat kita menyakiti seseorang, bukan hanya dia yang tersakiti, tapi juga keluarganya. Benar, pembalasan itu tidak harus langsung pada diri kita sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Hari Senin nih, yang mau vote di sini, makasih ya. Yang mau vote di Jodoh Untuknya, makasih juga😊