
Monic melirik Ikmal, ingin mengucapkan sampai jumpa tapi merasa canggung. Bagaimana pun juga, mereka adalah sahabat yang sudah dua kali berpisah karena keadaan. Seharusnya saat bertemu kembali, mereka bisa berpelukan dan cipika cipiki. Bercerita tentang masa-masa saat mereka jauh.
"Maafkan aku Rei, harus bersikap seperti tadi."
"Tidak apa, justru aku sangat berterima kasih padamu."
"Aku tahu, pasti kamu takut kan mereka akan marah dan menyeret kamu ke meja hijau karena membongkar rahasia mereka. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Kalau ada apa-apa, kamu langsung bilang padaku atau yang lain. Maaf kalau aku harus mengatakan ini, tapi kalau kamu melawannya sendiri, kamu tidak akan menang. Mereka memiliki uang dan kekuasaan, sedangkan kamu tidak!"
Rei sama sekali tidak marah, karena apa yang dikatakan oleh Naya benar sekali.
"Tapi kamu punya aku ...."
"Memangnya kamu punya uang dan kekuasaan, Nay?" celetuk Zilda, yang langsung mendapat lirikan dari Monic dan Letta. Zilda hanya menyengir saja.
"Mereka tidak akan mudah mengganggu kamu, kalau kamu ada di dekat aku. Bukannya aku sombong, tapi aku lebih mengenal keluarga itu seperti apa. Mereka itu sangat menjunjung nama baik keluarga, kalau kamu dipidanakan oleh mereka, aib mereka sendiri yang akan terkuak."
"Benar juga, ya." Zilda, Monic dan Letta mengangguk.
"Sekarang tidur, punya urusan dengan mereka butuh tenaga yang besar, hati yang lapang, otak yang cerdas."
Sementara para wanita bisa tidur nyenyak dengan bermimpi indah, para pria galau di tempat masing-masing.
__ADS_1
Marva memikirkan apa yang Freya katakan, yang juga mempengaruhi pikirannya.
Apa Viola benar-benar tulus menyayangi Radhi dan Raine?
Yang Marva lihat, Viola memang tulus, tapi hati siapa yang tahu, kan? Bisa saja Viola hanya berpura-pura. Marva sendiri, terlepas dari siapa ibu kandung si kembar, tentu saja dia sangat menyayangi, mereka kan anak kandungnya.
Anak kandung?
Benar, Marva sayang karena si kembar anak kandungnya. Entah siapa pun ibu mereka. Toh dia yang dengan kesadaran penuh menghamili Rei, bukan perempuan itu yang menjebaknya.
Rei juga melakukan itu atas dasar kewajiban, bukan karena Rei yang meminta lebih dulu.
Kewajiban? Benar, kewajiban karena perjanjian, bukan karena kewajiban sebagai istri.
Marva menghela nafas berat. Kepalanya seperti mau pecah. Masalah tiba-tiba saja saat Rei kembali hadir.
Memang apa yang Rei lakukan hingga membuat masalah?
Tidak ada!
Bahkan perempuan itu sama sekali tidak memandang dirinya, juga keluarganya.
Marva seperti butiran debu di hadapan perempuan itu.
__ADS_1
Apa dia tidak memandang aku sebagai mantan suaminya?
Tapi Freya juga bersikap seperti itu pada Arby.
Apa semua perempuan yang berpisah, harus selalu menyimpan dendam?
Apa tidak bisa bersikap seperti teman lama yang kembali bertemu dan bersikap biasa-biasa saja.
Namun hati lainnya lah yang menjawab
Bagaimana bisa bersikap biasa-biasa saja setelah dihamili dan berpisah?
Seperti tadi apa yang Freya katakan, bagaimana kalau mereka yang ada di posisi Rei?
Tentu saja tidak mudah.
Pasti juga akan memiliki rasa benci dan sakit hati. Bahkan mungkin menyumpahi agar hidup kami tidak bahagia.
Hati kecilnya bertanya, apa selama ini hidupnya bahagia setelah Rei pergi?
Entahlah, Marva sendiri juga tidak tahu. Dia tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa, dan dengan kehadiran si kembar, hidupnya memang lebih berwarna. Tapi memang sedikit ada yang mengganjal.
Memang ada pertengkaran kecil dengan Viola, tapi itu wajar kan. Dia dan Viola bukanlah tokoh novel yang diceritakan hidup bahagia dengan suami atau istri tanpa konflik setelah konflik besar selesai.
__ADS_1
Kenapa takdirku seperti ini?
Kenapa serumit ini ....