Mother

Mother
211 Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Rei mengantarkan makan siang untuk Marva ke kantornya. Sebenarnya dia ragu, tapi tetap saja dia melakukannya.


Para karyawan memandangnya dengan tatapan yang berbeda-beda.


"Selamat siang, Nyonya."


Ada yang menyapanya sekedar basa-basi saja, ada yang menyapanya sekedar mencari muka, mungkin ada juga yang menyapanya dengan tulus.


Aneh juga bagi Rei dipanggil nyonya. Dia menuju lantai ruangan Marva setelah bertanya pada resepsionis lebih dulu.


"Aneh juga, istri kok enggak tahu di mana lantai ruangan suaminya bekerja. Apalagi suaminya bos besar di sini!"


"Sst, jangan nyaring-nyaring, nanti ada yang dengar."


"Tapi kan emang benar. Aneh kan, masa istri enggak tahu ruangan suaminya ada di lantai berapa. Meskipun belum pernah ke sini, tapi setidaknya tahu, lah."


Lawan bicaranya diam saja, tidak mau mencari masalah kalau nanti ada yang mendengar.


Rei memasuki lift, bersama beberapa karyawan lainnya.


"Selamat siang, Nyonya."


"Siang."


Di beberapa lantai berikutnya, ada yang keluar, ada juga yang masuk untuk ke lantai atas.


Hingga akhirnya tinggal Rei sendiri di dalam lift itu. Dia menghela nafas perlahan, lalu melihat pantulan dirinya di dinding lift.


Bukannya dia tidak tahu kalau orang-orang membicarakannya di lantai dasar tadi.


"Siang."

__ADS_1


"Siang, Nyonya."


"Kak Marva ada?"


"Ada, silahkan masuk, Nyonya."


Sekretaris itu membukakan pintu ruangan Marva. Orang-orang yang ada di dalamnya langsung menoleh.


"Kamu datang?" Wajah Marva tersenyum, terlihat sangat senang Rei mau datang, apalagi tanpa sepengetahuan Marva dan tanpa diminta.


"Maaf mengganggu, aku tidak tahu kalau kalian ada rapat."


"Enggak apa. Duduk sini, Sayang."


Rei selalu merasa malu saat dirinya dipanggil sayang, apalagi di hadapan orang-orang.


Dia duduk di sebelah Marva, dan melihat Arby, Ikmal, Marcell, Vian dan Mico. Rei diam saja saat mereka melanjutkan pembicaraan bisnis. Untung saja dulu dia sudah terbiasa mendengar pembicaraan tentang bisnis dari Freya, jadi sekarang dia enggak pusing-pusing amat.


"Kamu bawa apa?"


"Aku enggak mau, aku mau ketemu Freya."


"Aku juga enggak, mau ke rumah sakit sebelum kakakmu itu mendekati Nania."


Rei menggaruk tengkuknya, kalau masalah Agam, Zilda dan Marcell, dia bingung harus seperti apa.


Lagian, memangnya benar kalau Zilda suka pada Agam?


Memangnya benar, kalau Agam juga suka pada Zilda?


"Aku juga, nanti Aruna dekat-dekat dengan Agam, atau dengan pria lain."

__ADS_1


"Kamu juga, Mal? Mau ketemu Nuna, takut dia dekat-dekat dengan Agam?"


"Enggak, aku mau meeting dengan klien. Lagian sudah berapa kali aku bilang, aku dan Nuna itu hanya bersahabat."


"Sahabat rasa cinta?"


"Dengan bumbu cemburu?"


"Dikemas dengan kerinduan?"


"Dipaketkan dengan doa ijab kabul?"


Rei tidak dapat menahan tawanya. Para pria ini memang lucu, menurutnya.


"Tapi mereka memang sekedar sahabat, kan? Monic sendiri lagi dekat dengan seorang pria, loh. Hampir setiap hari pria itu mendatangi Monic, dan Monic terlihat senang."


"Apa?" ucap para pria itu serempak.


Rei menutup mulutnya, dia keceplosan.


"Jangan tanya-tanya aku, aku enggak akan cerita apa-apa pada kalian."


Suasana hening


Pikiran mereka tertuju pada hal yang sama


Nuna


Siapa pria itu?


Dari mana Nuna kenal dengannya?

__ADS_1


Apa dia pria baik-baik?


Sudah sampai mana hubungan mereka?


__ADS_2