
Kembali ke kota dengan sejuta kenangan
Rei mengunjungi makam kedua orang tua juga neneknya. Saat dulu dia seminar, dia tentu saja beberapa kali berkunjung, menceritakan apa isi hatinya.
"Ayah, ibu, doakan Rei agar bisa berhasil. Rei sangat beruntung bertemu dengan mereka. Rei akan membuat bangga kalian. Istirahatlah dengan tenang, jangan mencemaskan Rei."
Setelah dari kuburan kedua orang tuanya, Rei ke makan neneknya yang ada di kompleks yang sama.
"Nenek, maafkan Rei. Rei sangat bersalah dengan nenek. Rei tahu, tidak bisa menebus semuanya, karena kesalahan Rei pada nenek sangat besar. Rei memang gagal menjadi arsitek seperti yang selalu Rei ceritakan dulu. Tapi Rei juga tidak pernah menyesal melepasnya dan senang menjadi dokter. Mungkin kalau Rei tidak menjadi dokter dan mengubah keputusan Rei saat itu, Rei tidak akan bertemu dengan Freya dan menjadi seperti sekarang ini. Nenek pasti masih ingat Freya, kan?"
Dulu dia memang tidak banyak cerita di depan makam neneknya, karena waktu yang sangat singkat.
"Nenek benar, manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan juga yang menentukan."
"Rei akan terus mengambil hikmah dari semua kejadian ini."
Setelah dari makam neneknya, Rei ke sekolah si kembar. Melihat dari jauh si kembar di jemput oleh Marva dan Viola. Memberikan pelukan dan ciuman untuk anak-anaknya. Rei seperti orang asing di sana, yang harus melihat anak kandungnya sendiri diam-diam.
__ADS_1
Di seberang sana, Marva melihat taksi yang baru saja berlalu, begitu juga dengan si kembar.
"Ayo kita makan," ajak Vio yang mengalihkan perhatian si kembar juga Marva.
Beberapa hari kemudian
Para cowok itu pergi ke apartemen Freya, yang tentu saja ada para perempuan yang tetap sepakat kalau mereka akan tinggal bersama, secara bergantian di tempat masing-masing. Mereka (para cowok) juga diam-diam membeli unit di apartemen itu agar bisa dekat dengan mereka.
Arby, si pria mesum yang selalu mendapatkan pelototan dari Freya.
Marva melihat Rei yang keluar dari apartemen Freya, dan diam-diam mengikutinya. Dia langsung ikut masuk saat Rei masuk ke apartemennya sendiri.
Mata Marva membelalak saat melihat banyak foto-foto si kembar, yang belum sempat dirapihkan okeh Rei.
"Kamu dapat ini dari mana? Siapa yang memberikannya?" Rei tidak menjawab, tidak mungkin dia menyebut nama bik Tuti. Melihat semua ini, Marva langsung kembali ke tempat Freya.
"Kamu mau apa?"
__ADS_1
Rei mengikuti Marva, dan mereka melihat Arby dan Chiro yang juga terlihat kaget.
"Jadi selama ini mereka mengawasi kita?"
"Ternyata kalian kalah pintar dari mereka."
"Mereka tahu kita di mana, sedangkan kita tidak tahu di mana mereka, bodoh!" sungut Arby.
"Dari sekian banyak foto, aku bingung mana yang paling bagus. Kenapa semua wajahku terlihat ganteng?" Arby senyum-senyum sendiri.
Marva diam saja, dia sendiri bingung, kenapa banyak foto si kembar tanpa dirinya. Foto Arby lun sebenarnya ada karena terpaksa, tidak mungkin bagi Freya memotong wajah Arby, karena sangat dekat dengan Chiro.
"Jangan-jangan selama ini mereka hanya pura-pura saja," ucapnya sambil tersenyum puas.
"Pura-pura?"
"Iya. Mereka gagal move on dari aku dan Marva. Eh salah, lebih tepatnya bebeb Freya yang gagal move on dari aku. Rei mah memang enggak pernah peduli kan sama Marva."
__ADS_1
Ingin sekali Marva menggetok Arby, yang tingkat kepedeannya sudah over disisi.