
Rei sudah menyerahkan hasil rancangan klinik pada Naya, dan proses pembangun klinik itu segera dimulai.
"Aku sudah membayar kontraktor dengan harga yang cukup mahal, jadi aku mau pembangunannya berjalan dengan cepat tapi juga aman."
Naya terlihat antusias, dan semakin sibuk saja.
Hari ini Rei mengajak dokter Agam makan bersama. Dokter tampan yang masih muda itu juga menjadi salah satu idola di rumah sakit itu.
"Bagaimana pekerjaan kamu?"
"Baik, Gam." Sekarang Rei memanggil dokter Agam dengan nama saja, tanpa ada embel-embel dokter.
"Oya, Naya menghubungi aku, katanya dia mau membuka klinik di pinggiran kota."
"Iya, kamu mau bergabung?"
"Tentu saja. Itu tawaran yang sangat bagus dan menarik."
"Yakin?"
"Yakin, dong."
Mereka terlihat sangat akrab, membuat Marva yang juga ada di kafe itu merasa tidak suka.
"Ayah, itu dokter Rei, kan?" Si kembar langsung menghampiri Rei, tanpa pamit pada orang tuanya terlebih dahulu.
"Dokter, Rei."
"Hai, anak-anak. Kalian juga di sini?"
Rei tersenyum cerah melihat Radhi dan Raine.
"Iya, kami sama ayah dan mama. Mereka di sana."
__ADS_1
Agam dan Rei menoleh ke arah yang ditunjuk oleh si kembar.
Agam memperhatikan wajah Radhi yang mirip dengan Rei. Dia mengira-ngira berapa umur anak-anak itu, juga masa-masa saat mengingat perkataan Rei kalau dulu keluarga Arthuro itu adalah majikannya.
Jangan-jangan ...?
Marva dan Viola yang ada tidak jauh dari situ, juga melihat dokter Agam yang sejak tadi memperhatikan Radhi, lalu sesekali melihat Rei.
Kemiripan tentu saja tidak bisa ditutupi. Mau menyangkal hubungan darah, tapi ada bukti nyata di depan mata.
Hati Viola yang paling ketar-ketir. Dia merasa seperti penjahat yang tertangkap basah menyembunyikan anak orang.
Di kembar melihat Agam, lalu tersenyum.
"Om pacarnya dokter Rei, ya?"
Agam langsung tertawa. Dari mana anak kecil seperti mereka tahu kosa kata itu? Tapi memang anak jaman sekarang lebih dewasa dari yang seharusnya.
"Aunty, kami ke tempat ayah dan mama dulu, ya."
Agam juga memperhatikan raut wajah Rei yang terlihat senang dan sedih sekaligus.
"Kamu baik-baik saja?"
"Baik, Gam."
Mereka mulai makan setelah makanan datang. Rei kembali terlihat ceria, tanpa sadar bahwa ada dua pasang mata yang memperhatikannya dengan pikiran dan perasaan yang berbeda.
Marva, yang merasa tidak suka kalah ibu dari anak-anaknya itu dekat dengan pria lain.
Viola, yang sangat berharap kalau Rei dan Agam merupakan sepasang kekasih, dengan begitu, hubungannya dengan Marva lebih aman. Kalau perlu, cepat-cepat saja mereka menikah.
"Apa yang kalian bicarakan dengan dokter Rei?" tanya Vio.
__ADS_1
"Kami hanya bertanya apakah om itu pacar dokter cantik atau bukan."
"Lalu?"
"Tidak dijawab."
Marva dan Viola, diam-diam kembali melihat Rei. Perasaan dan suasana hati mereka berbeda dengan Rei dan Agam.
Rei memang merasa senang karena bisa bertemu dengan si kembar walau hanya sebentar saja.
Bukankah dia harus pandai bersyukur. Agam menyeka sudut bibir Rei yang ada noda makanannya. Membuat perempuan itu tersipu malu. Wajah malu-malu yang menggemaskan itu kembali membuat Marva ingin menendang meja yang ada di hadapannya.
Marva kembali teringat pertemuan di pesta dokter Audrey, kalau dokter Agam itu sudah banyak membantu Rei.
Mood Marva langsung rusak. Sisi egois dari dirinya tidak ingin Rei dekat dengan pria lain.
.
.
.
.
Oya, aku mau nanya nih, walau aku sepertinya sudah tahu apa jawaban kalian, sih. Tapi bisa vote di kolom komentar ya.
Rei sama siapa?
Marva
Agam
__ADS_1