
Acara selanjutnya tentu saja acara santai dengan makanan dan minuman yang enak.
Mereka yang tergabung di klinik ini, melakukan foto bersama untuk nantinya dijadikan dokumentasi dan dipajang sebagai para pendiri dan orang-orang pertama yang bergabung, yang nantinya akan dipajang dengan bingkai besar.
Rei selalu bersama dengan dokter Agam, dan sahabat-sahabatnya.
"Apa masih ada yang kurang? Kalau membutuhkan sesuatu, katakan saja. 12F siap membantu," ucap Yosuke.
(Yang mau tahu 12F itu apa, baca saja Arrogant Wife).
"Baiklah, kami akan memeriksanya lagu, tapi sejauh ini semuanya sudah cukup lengkap, mungkin hanya perlu diperbanyak saja."
"Jangan khawatir, kami akan menambahkan berapa pun yang dibutuhkan. Tidak perlu segan mengatakannya. Bukan begitu, sayang?" ucap Zion pada Lexa.
"Benar. Aku sebelumnya sudah melihat daerah sekitar sini. Mungkin harus melakukan penyuluhan dan pendekatan secara langsung pada masyarakat sekitar. Mereka bisa saja khawatir dan takut untuk berobat ke sini. Tempat ini baru dan terlihat bagus, mereka bisa berpikiran kalau berobat ke sini mahal," ucap Lexa.
Mereka mengangguk setuju, apa yang dikatakan Lexa memang benar.
"Biar aku yang mengadakan pendekatan. Aku cukup paham tentang keadaan mereka," ucap Rei yang sangat tahu lingkungan seperti itu. Dulu dia juga selalu merasa takut, bahkan hanya berobat ke dokter umum yang buka praktek di rumah saja, dia takut kalau biayanya mahal.
"Aku akan menemani kamu. Aku juga cukup paham bagaimana menghadapi mereka," ucap dokter Agam yang juga sering berkunjung ke tempat pasien-pasiennya.
__ADS_1
Mico datang dan langsung merangkul Freya, membuat Arby kesal. Keluarga besar Arthuro yang mencangkup sepupu, ipar, keponakan, besan dan semuanya lah, menatap Mico.
"Hai, Freya Sayang."
Freya tertawa saja, dia tahu Mico sedang ingin membuat yang lain kesal, sesuai hobinya.
"Terima kasih ya, Mic. Semua ini juga berkat kamu."
"Santai saja. Aku ini manusia tampan berhati mulia."
Di rumah keluarga Arthuro
Perempuan kampung yang dulu menjadi madunya itu kini semakin bersinar. Memang atas bantuan Freya juga, tapi Freya juga pasti tidak asal-asalan memilih pemimpin di klinik itu.
Dia tidak menduga kalau Rei akan menjadi direktur di sebuah klinik.
Memang hanya sebuah klinik.
Memang klinik baru.
Tapi
__ADS_1
Dia tahu siapa Freya.
Keturunan Zanuar yang berotak cerdas itu, pasti tidak puas hanya sampai di situ saja.
Lihat saja prestasi apa yang Freya lakukan saat kembali ke negara ini.
Freya yang selalu dia dengar ceritanya dari keluarga Arthuro dan keluarga lain.
Freya yang katanya sejak kecil sudah menjadi incaran banyak keluarga untuk dijodohkan dengan anak atau cucu mereka. Entah gosip itu benar atau tidak, tapi Vio sangat sadar kalau Freya memang berkualitas.
Tapi aku juga tidak kalah. Aku juga berprestasi. Punya karir yang bagus, dan berasal dari keluarga yang terpandang.
Karena rasa cemas yang berlebihan, Vio yang tadinya sudah baik-baik saja kembali dilanda cemburu. Cemburu tanpa alasan, padahal tadi di acara itu, Marva dan Rei sama sekali tidak berinteraksi. Rei justru sibuk dengan rekan sesama dokter yang terus membicarakan pengembangan klinik itu.
Jangan khawatir berlebihan, Vi. Semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu kenapa?" tanya Marva.
"Oh, enggak apa-apa. Oya, besok kita makan siang bersama, ya."
"Besok? Sepertinya tidak bisa, karena aku ada rapat."
__ADS_1