
Mereka kini sudah mulai bekerja. Di tempat yang secara pribadi, tidak mereka suka. Tapi sebagai dokter yang profesional, tentu saja mereka tidak menolak.
"Dokter Agam."
"Loh, Rei. Kamu sekarang di sini?"
"Iya Dok, sekarang aku bertugas di sini. Oya, kalau dokter ada waktu, aku mau mentraktir dokter. Sekarang aku sudah punya cukup uang untuk mentraktir dokter."
"Baiklah, tapi tidak perlu di tempat yang mahal, Rei."
Rei mengangguk.
"Boleh aku minta nomor ponsel Dokter? Kantin kalau Dokter ada waktu, bisa menghubungi aku."
Wajah Rei memerah, ini pertama kalinya bagi dia meminta nomor ponsel seorang pria secara pribadi.
Di ujung sana, Naya, Monic, Letta dan Zilda tersenyum.
"Gercep juga tuh, Rei."
"Godain, yuk!"
"Jangan bikin kacau deh, Zil."
Zilda hanya terkekeh saja, mana mungkin dia mau mengacau saat sahabatnya itu lagi pedekate.
Di ujung yang lain, Marva merasa tidak suka. Dia baru saja mengunjungi temannya yang sedang dirawat di rumah sakit ini.
__ADS_1
Marva tahu mereka tidak lagi memiliki hubungan apa-apa, dan Rei berhak dekat dengan siapa pun.
Marva langsung pergi dari tempat itu, sebelum hatinya kembali terbakar. Di dalam mobil, dia menghembuskan nafas perlahan. Mencoba menetralkan perasaannya.
Saat pertama kali tahu dan melihat Rei yang kembali ke negara ini, tentu saja dia sangat senang. Dia bisa sering bertemu dengan perempuan itu dengan alasan yang bisa dibuat-buat, dengan menggunakan alasan si kembar, misalnya.
Posisi dia dengan Arby tentu saja berbeda jauh. Kadang dia ingin tukaran masalah, tapi tidak mungkin juga. Belum tentu juga dia akan sekuat Arby jika menghadapi masalah seperti itu.
Ya begitulah manusia.
Sering merasa masalahnya lebih berat dan besar dari orang lain, tapi jika ada di posisi orang itu, belum tentu juga sanggup menjalaninya.
Jika Rei yang menjadi Viola
Atau Viola yang menjadi Rei
Belum tentu mereka akan kuat.
Tetap kuat atau menyerah
Marva melihat Mico yang mau memasuki rumah sakit.
"Mic!" panggil Mico.
Mico menoleh, dan menghela nafas saat melihat Marva.
"Cepat tua kamu kalau seperti ini terus," sindir Mico.
__ADS_1
"Jangan libatkan aku. Aku tidak ada urusannya dengan kalian."
"Walau bagaimana kun, kita ini masih saudara."
"Aku sudah resign dari keluarga itu. Bisa-busa aku yang setres kalau tetap bertahan di sana."
"Jangan begitu Mic, ingat kita tetap keluarga."
"Mau curhat apa, sih? Jangan mentang-mentang aku pengacara, jadi bisa dijadikan tempat curhat. Jangan-jangan kamu mau menggugat cerai Viola."
"Jangan bicara sembarangan, nanti kalau ada yang mendengar bisa jadi gosip. Kamu juga nanti yang repot."
"Aku memang sudah sangat repot dengan si Arby yang selalu cemburu dengan semua kelebihan aku."
"Dasar, dia kan cemburu karena Freya."
"Dah buruan, mau cerita apa. Tapi bayar, ya."
"Perhitungan banget."
"Kalau enggak perhitungan, aku enggak kaya-kaya. Aku dibayar oleh klien, loh."
Marva mendengkus, lalu mengajak Mico ke kafe.
"Aku mau menengok Freya dulu."
"Freya enggak sakit, buat apa ditengok. Nanti kalau Arby tahu dia bisa marah-marah."
__ADS_1
"Heleh, kenapa aku hari takut sama dia. Biar nanti Freya aku rebut, biar tahu rasa dia."
Mico langsung tertawa melihat wajah Marva yang sudah tidak sabaran. Mico memang hobi membuat mereka kesal.