
Ponsel Rei sampai terjatuh mendengar teriakan itu.
"Tapi, aku ingin bicara dengan Agam dulu."
"Tidak perlu bicara apa-apa dengannya!"
Monic langsung mengambil tindakan. Dia langsung menghubungi dokter Agam dan menceritakan semuanya dengan lengkap ndan singkat. Dan meminta dokter Agam untuk segera datang ke rumah sakit.
Sudah menjadi tugasnya bersama Letta dan Zilda untuk menjaga Rei. Monic lalu memberikan kode pada Letta dan Zilda.
"Memangnya siapa kamu, melarang Rei menghubungi dokter Agam? Ingat baik-baik, Freya sidah berpesan bahwa dokter Agam lah yang akan menjaga Rei. Dia sudah berpesan itu kepada kita, dan kamu juga mendengarnya sendiri," ucap Zilda.
Marcell terdiam. Dia tentu ingat Freya pernah berkata seperti itu dengan lantang di hadapan mereka.
"Kita tunggu saja Agam," ucap Arby.
"Tapi Ar ... Marva ...," ucap Delia.
"Aku akan mengikuti apa pun yang Freya katakan, Aunty. Cepat hubungi Agam."
"Ini bukan saatnya ...."
"Ini keinginan Freya, pesan darinya. Freya sudah menitipkan Rei pada dokter Agam, bukan pada kalian! Aku akan melakukan apa kun yang Freya katakan. Siapa yang berani melawan, hadapi aku!"
Cukup lama mereka menunggu, sampai akhirnya dokter Agam tiba.
"Ada apa ini?"
"Agam, aku ... aku ...."
__ADS_1
"Rei akan kembali menikah dengan Marva!"
"Apa?"
"Rei akan menikah dengan Marva."
"Tidak, aku tidak mengijinkannya."
"Apa hal kamu melarangnya?"
"Dan apa gak kalian memaksanya? Apa kalian ingin terus menekannya? Cih, orang-orang licik!"
Terjadi pertengkaran di sana.
"Kami akan mendukung apa pun yang Rei pilih. Bila Rei mau kembali bersama Marva, kami akan mendukungnya, tapi jika tidak, maka kami juga akan mendukungnya," ucap Monic yang diangguki oleh Letta dan Zilda.
"Jangan bertengkar, ini rumah sakit!"
Dokter hanya bisa meminta keningnya. Untung saja dia sudah biasa dengan keluarga ini.
"Bagaimana Rei?"
"Aku ... aku akan mengikuti semua yang Agam katakan. Jika dia merestui aku, maka aku akan mengikutinya."
"Apa kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri?"
"Aku akan tetap mendengar perkataan Agam."
"Rei, tolonglah. Menikahlah dengan Marva. Aku ikhlas, sungguh aku ikhlas. Apa kamu tega melihat Marva dan anak-anak seperti ini?"
__ADS_1
Vio memeluk tubuh Rei. Dia juga sakit, tapi jika memang ini yang terbaik, maka dia bisa apa? Kembali mengikhlaskan. Mungkin memang sudah menjadi jalan hidupnya yang seperti ini.
Rei melihat dokter Agam, sedangkan dokter Agam juga melihat Rei dengan sedih.
Arby dan Nico menghela nafas berat.
"Kalau tidak mau, jangan dipaksa. Biarkan dia menentukan sendiri pilihannya," ucap Mico.
"Diam kamu!"
"Terserah lah!"
"Rei!"
Rei benar-benar merasa tertekan. Kenapa dia kembali dihadaoi oleh dituasi seperti ini, bahkan ini lebih berat saat dia harus menentukan pilihan antara menikah dan jadi istri kedua, atau membiarkan neneknya tanpa biaya. Sekarang dia ditekan sana sini. Membuat dia tidak fokus berpikir.
Bagaimana ini? Apa aku kembali harus menjalani pernikahan ini?
"Pikirkan dengan baik," ucap dokter Agam mengusap punggung dan kepala Rei.
"Jangan pernah mengambil keputusan yang nantinya akan kamu sesali."
"Bunda, tolong ayah!"
"Rei, tolong Marva."
Rei menghela nafas berat berkali-kali. Dia. meremas tangannya. Dia kembali melihat Agam. Agam hanya mengangguk saja, dia hanya ingin Rei mengambil keputusan yang terbaik, tanpa paksaan dan tidak ada penyesalan.
"Aku ... aku ...."
__ADS_1