
"Nada tidak meminta maaf sekalipun, dan sekarang menyuruhku pulang begitu saja. Tidak semudah itu."
"Lalu apa mau kamu sekarang?"
"Mico, tuntut mereka dengan semua tuntutan yang bisa dilakukan. Apa kamu bisa?" Freya menatap Mico, begitu juga sebaliknya.
"Baiklah, aku ada di sisimu."
"Ayo kita ke kantor polisi. Aku sudah tidak punya toleransi lagi pada keluarga ini."
"Tunggu Freya, ayo kita bicara baik-baik," ucap Arlan menengahi.
"Bicara baik-baik? Dari tadi tua bangka ini menuduhku. Keinginan Rei saja belum dipenuhi, sekarang dia kembali mencari masalah. Tidak akan aku biarkan dia terus semena-mena. Ayo Mico, ke kantor polisi sekarang juga."
"Tunggu, kita bisa bicara baik-baik."
"Tidak ada lagi bicara baik-baik. Aku bisa menyertakan bukti dari CCTV yang menunjukkan pesuruh kalian membawaku paksa. Kalian tidak bisa menyabotase CCTV itu, karena itu adalah tempat kekuasaanku."
"Tunggu, apa yang kamu minta sebagai gantinya?" tanya Carles. Mereka melihat kesungguhan Freya yang akan melapor ke polisi
"Cih, tidak perlu basa-basi busuk. Kemauan Rei saja tidak dipenuhi."
"Apa yang kamu mau sebagai gantinya?" tanya Frans pada akhirnya.
"Berikan aku dua puluh lima persen dari setiap saham yang dimiliki keluarga Arthuro!"
"Apa? Kamu gila?"
"Tentu saja aku sangat waras, kalianlah yang gila." Berikan 25 persen, atau aku tuntut!"
"1 persen."
__ADS_1
"Bahkan yang Anda berikan tidak ada apa-apanya dengan kerugian yang aku dapatkan. Bagaikan kalau aku dituntut oleh pasien-pasienku karena dianggap menelantarkan mereka?"
"2.5 persen."
"25 persen."
"5 persen."
"25 persen."
"10 persen."
"25 persen."
"Sepuluh persen itu sudah banyak, Freya!"
"25 persen."
"25 persen."
"15 persen atau tidak sama sekali."
"25 persen."
"Untuk apa kamu saham sebanyak itu?"
"Bukan urusan Anda."
"Saya tidak akan memberikan lebih dari lima belas persen."
"Kalau begitu bersiaplah dijemput paksa oleh polisi, sama seperti yang kalian lakukan padaku!"
__ADS_1
"Sayang, ambil saja lima belas persen. Nanti sisanya akan aku berikan saham milikku padamu," ucap Arby.
"Biar yang sepuluh persen kami berlima yang patungan, jadi kamu tetap mendapatkan 25 persen."
"Cih, kalian kira aku pengemis. Aku mau 25 persen itu darinya."
"Baiklah, 20 persen."
"Baiklah, tapi aku mau rumah, tanah, dan komisi tiga ratus juta setiap bulannya sebagai ganti yang lima persen."
Frans memejamkan matanya, apa semarang dia sedang diperas?
"Baiklah, kamu tunggu saja."
"Tidak ada tunggu menunggu, aku mau itu diurus saat ini juga."
"Kamu kira mengurus pemindahan saham itu seperti membeli permen?"
"Aku mau sekarang. Aku punya cukup waktu, toh jam kerjaku sudah kacau hari ini."
Frans langsung menyuruh pengacaranya untuk mengurus semua yang Freya mau.
"Dan untuk tuntutan Rei."
"Masih saya pertimbangkan, jangan membuat pusing, Freya!"
"Anda sendiri yang membuat masalah. Ini tidak akan terjadi kalau Anda tidak menuduhku."
Freya melihat keluarganya yang tadi membelanya, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia mengusap kepalanya yang sedikit sakit kemudian menghela nafas.
Si kembar masih dalam pelukan Marva, begitu juga dengan Chiro yang masih memeluk Freya dengan erat.
__ADS_1
Monic, Letta, Zilda dan Rei diam saja. Suasananya menegangkan bagi mereka, melihat banyak yang berkumpul di sini. Banyak juga yang melihat Rei, melihat bagaimana perempuan yang menjadi ibu kandung dari segi kembar itu.