Mother

Mother
207 Terlalu Jujur


__ADS_3

Marva memang tidak bisa masak, tapi kali ini dia ingin memasak untuk anak istrinya. Dengan semangat, dia memotong sayur dan daging. Tadi dia juga sudah memasak nasi.


Hari ini pasti akan menjadi hari yang indah.


Kurang lebih satu jam kemudian.


"Ayo makan, ini ayah sendiri yang memasaknya. Rei, kamu coba dulu, ya."


Rei melihat nasi yang sudah disendokkan ke piringnya. Ada daging dan sayur, juga ikan.


Rei mulai mencicipi masakan suaminya itu.


"Gimana?" tanya Marva.


Rei tidak langsung menjawab, membuat Marva jadi berpikir negatif.


"Enggak enak, ya?"


"Bukannya enggak enak. Tapi, nasinya kelembekkan, mungkin Kak Marva terlalu banyak memasukkan air. Lalu dagingnya masih keras, dan kurang rasa. Sayurnya agak manis, sedangkan ikannya keasinan."


Marva terdiam mendengar perkataan Rei.


Ya ampun, dia jujur banget. Apa tidak bisa sedikit berbohong untuk menyenangkan hatiku?


Tapi Marva langsung tertawa.

__ADS_1


"Enggak bisa dimakan, dong."


"Bisa, lah. Ini kan bukan makanan basi. Enggak baik membuang-buang makanan. Dulu aku kesusahan mendapat makanan enak!"


Marva kembali terdiam, merasa tidak enak dengan Rei.


"Maaf ya Kak, kalau aku mengatakan yang sebenarnya padamu. Daripada aku bohong hanya untuk menyenangkan hatimu, besok-besok kalau kamu masak, enggak akan ada perubahan. Begini lagi, begini lagi. Lebih baik jujur walau sedikit menyakitkan, daripada bohong tapi menjerumuskan."


"Enggak apa, justru aku senang sama pemikiran kamu. Biasanya orang akan bohong dan memuji hanya untuk menyenangkan hati dan cari muka."


"Maaf ya, masakan aku gagal total," lanjutnya setelah melihat makanan yang ada di atas meja.


Radhi dan Raine diam-diam sudah makan sejak tadi, mereka sudah terlalu lapar untuk menunggu makanan yang lain.


"Enggak apa. Lagi pula bukan tugas utama kamu memasak untuk kami."


"Iya, kami lapar banget."


Rei tertawa lalu ikut makan.


"Jangan dimakan, nanti sakit perut."


"Enggak akan sakit perut lah, Kak. Dagingnya saja yang jangan dimakan duku, karena masih keras. Nanti bisa diolah lagi."


"Tapi yang lain ...."

__ADS_1


"Nasi lembek bukan berarti enggak bisa dimakan. Di rumah sakit, nasinya juga lembek. Bahkan bubur yang lebih lembek lagi, masih banyak yang makan. Dulu aku sering makan nasi yang sudah keras, sudah ada keraknya. Kamu lihat Radhi dan Raine, atau aku yang dulu, saat lapar, apapun bisa dimakan dan terasa enak, apalagi kalau enggak punya uang."


Rei tertawa pelan, mengingat masa lalu yang ternyata, sekarang itu bisa dia anggap kenangan indah.


Siapa yang menyangka, hal-hal menyedihkan di masa lalu, bisa menjadi kenangan indah di masa kini.


Marva akhirnya ikut makan. Sebenarnya bisa saja Rei kembali mengolah sayur dan ikan itu, agar rasanya pas. Tapi tidak, Rei ingin mengajarkan pada Radhi dan Raine, agar jangan mencela makanan, harus tetap bersyukur bagaimana pun rasa makanan itu. Toh makanan itu tidak basi, juga tidak membuat mereka alergi.


Kalau sekarang rasanya ancur-ancuran, wajar saja. Tapi ....


"Tapi waktu ke luar negeri dulu, aku beberapa kali masak makanan untuk Radhi dan Raine. Mereka me menghabiskannya, jangan-jangan ...."


"Kamu tidak ikut memakannya?"


"Enggak, aku enggak nafsu makan. Paling aku hanya memakan sepotong roti dan kopi saja. Apa dulu masakan ayah tidak enak?"


Radhi dan Raine diam dan saling pandang.


"Enggak apa, jawab saja yang jujur, ayah tidak akan marah."


"Sebenarnya masakan ayah tawar, tidak ada rasanya sama sekali. Tapi karena tidak mau membuat ayah kecewa, kami menghabiskannya, dan menaburkan sedikit garam."


"Hanya sedikit garam, tidak banyak."


Marva langsung memeluk Radhi dan Raine, merasa bersyukur karena memiliki mereka yang tidak banyak protes dan mau menghargai orang lain.

__ADS_1


Juga bersyukur memiliki Rei, yang juga selalu menghargai orang lain.


__ADS_2