Mother

Mother
63 Licik


__ADS_3

Setelah beberapa hari di Jakarta, mereka mendapatkan tugas untuk mengadakan penyuluhan di beberapa tempat, dan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Naya dan Monic ditugaskan ke sekolah, sedangkan yang lain ke tempat lain.


Mata Naya terpaku dengan nama-nama yang ada di daftar para murid.


Kichiro Ercan Abraham Zanuar


Radhi Kama Arthuro


Raine Kalila Arthuro


Setelah memantapkan hatinya, Naya mendekati salah satu murid pendiam yang selalu menyendiri.


"Kenapa kamu di sini?"


Chiro menatap Naya, lalu kembali menunduk. Dia mendekati anak itu, lalu membujuknya agar mau sekolah. Setelah Naya pergi, Radhi dan Raine mendekati Chiro, lalu mereka bertiga bermain ayunan.


"Chiro, kamu tahu tidak, kami juga punya rahasia." Chiro diam saja, dia tidak bertanya apa yang dirahasiakan oleh saudara-saudaranya itu. Radhi dan Raine lalu melihat ke sekelilingnya, lalu berbisik pada Chiro.


"Benarkah?"


"Iya, masa kami bohong. Kami ini anak kecil yang masih jujur dan polos. Berati kalau sudah dewasa, kalian tidak lagi lolos dan akan berbohong?" tanya Chiro.


"Sepertinya begitu, para orang dewasa itu memang sarangnya kebohongan."

__ADS_1


Dari jauh, Naya melihat wajah ketiganya yang terlihat sedih. Dia memang tidak mendengar apa yang si kembar bisikkan pada Chiro, tapi sebagai dokter yang juga mendalami ilmu psikologi, dia tahu ada yang tidak beres dengan ketiganya saat berbisik-bisik.


Malam harinya


"Ini!" Naya menunjukkan lonselnya pada Rei.


"Ini si kembar?"


"Iya, aku ditugaskan di sekolah mereka."


"Kenapa bukan aku?"


"Aku yakin, kalau kamu yang bertemu mereka, kamu akan pingsan." Rei tertawa mendengar perkataan Naya. Benar, dia pasti akan langsung pingsan, antara terlalu bahagia dan gugup.


"Benarkah?"


"Iya, dong. Masa aku bohong. Tidak akan sulit membuat bekal untuk mereka, karena kamu tahu sendiri kan dari bik Tuti, kalau selera makan anak itu sama dengan kamu."


Rei langsung memeluk Naya dengan erat, tidak tahu lagi harus berkata apa.


"Apa yang harus aku buat? Nasi kuning? Nasi uduk? Kue?"


"Yang simpel-simpel saja, takut tidak ada waktu."

__ADS_1


"Iya, sih. Duh, saking semangatnya aku jadi gugup. Aku masak apa ya buat mereka?"


"Kita buat kue saja. Kuenya sama, tapi bikin masing-masing. Bukannya apa-apa, biar mereka tidak curiga dan protes."


"Licik banget kamu, Nay," ucap Zilda.


"Bukannya licik, tapi aku cerdas. Orang-orang seperti keluarga itu memang harus dipermainkan agar tidak seenaknya lagi. Aku benar-benar penasaran ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat melihat Rei."


"Jangan-jangan nanti malah kamu duluan yang bertemu dengan Arby?"


"Hampir saja."


"Maksudnya?"


Naya lalu menceritakan kejadian malam itu saat dia bertatap muka dengan Chiro untuk yang pertama kalinya.


"Ya ampun, kalian yang akan bertemu dengan masa lalu, kenapa aku yang tegang." Zilda sampai geleng-geleng kepala.


"Jangan lupa, kalau aku bertemu dengan masa lalu, kalian juga begitu."


"Maksudnya?"


"Lah itu, Ikmal, Marcell dan Vian." Zilda dan Letta mendengkus, sedangkan Monic tertawa pelan.

__ADS_1


"Aku sama Ikmal hanya bersahabat, loh."


__ADS_2