
"Apa yang kalian tanam, itulah yang kalian tuai! Sekarang kalian hanya bisa menyesali dan meratap nasib, kan!" lanjut dokter Agam dengan senyum sinisnya.
Di depan jasad Marva, Vio hanya bisa duduk diam dengan air mata yang mengalir.
Marva, sepertinya kamu benar-benar berniat untuk meninggalkan aku. Kenapa? Haruskah kamu sekejam ini padaku? Marva, kenapa kamu harus pergi meninggalkan aku dengan cara seperti ini?
Vio merenung dalam tangisnya, kini dia sudah resmi menjadi janda. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
Radhi dan Raine masih ada di rumah sakit, kondisi mereka juga tidak baik.
Frans, dan Carles, hanya duduk diam. Dokter selalu setia ada di belakang mereka, berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa Frans, Carles, atau Delia.
Mereka kini telah kehilangan kebanggaan keluarga Arthuro. Marva yang selalu mereka banggakan, Marva yang akan menggantikan Carles, kini telah tiada. Lalu pada siapa mereka akan menyerahkan tanggung jawab selanjutnya?
Apakah pada Radhi?
Tapi dia masih terlalu kecil.
Atau pada Arby, Ikmal, Marcell atau Vian?
Mereka juga punya tanggung jawab pada keluarga mereka, apa harus dibebani lagi?
Frans menghela nafas berkali-kali. Di masa tuanya ini, seharusnya dia bisa menikmatinya dengan tenang.
__ADS_1
Yang terjadi justru sebaliknya!
Banyak yang mencibirnya, menganggap dia orang tua jahat dan arogan.
Dia tidak peduli, yang penting baginya adalah keluarganya.
Frans kembali teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat Marva masih belum menikah dengan Vio. Pertengkaran besar terjadi saat itu, membuat keluarga Arthuro kacau, dan dampaknya masih terasa hingga saat ini.
Mengingat itu, membuat dada Frans terasa sesak. Air matanya terjatuh, Frans hanya bisa menangis pilu tanpa suara.
Dia lalu teringat Rei, gadis yang dulu dia tawarkan untuk menjadi istri kedua Marva.
Frans menatap di kejauhan Rei yang masih dimarahi oleh Delia. Dipandangnya wajah Rei, meski jarak sangat jauh
Cicit-cicitnya masih berada di rumah sakit, tidak tahu kalau ayahnya sudah tidak ada lagi. Bagaimana mereka harus menjelaskan semua ini pada Radhi dan Raine?
Cicit-cicitnya itu sangat dekat dengan Marva. Mereka sering pergi bersama, menghabiskan waktu bertiga saja.
Arby, Ikmal, Marcell dan Vian masih tetap diam. Mereka yang biasanya rusuh dan saling meledek, kini bagai manekin yang suram. Tidak ada keceriaan, tidak ada ledekan.
Mereka memang sepupu, tapi layaknya saudara kandung. Berbagi keluh kesah dan cerita.
Rahasia dan hal-hal kecil yang tidak penting.
__ADS_1
Rumah itu terasa sesak. Kumpulan banyak keluarga besar ada di sana.
Monic, Letta dan Zilda juga hanya diam. Kenapa duka selalu melanda? Tidak cukupkah kesedihan yang terjadi saat sesuatu yang buruk menimpa Freya?
Marva sudah siap untuk dibawa ke pemakaman. Arby, Ikmal, Marcell dan Vian mengangkat keranda itu untuk dibawa ke mobil ambulans.
Langkah kaki terasa berat, berat untuk membawa Marva ke peristirahatan terakhirnya.
Mereka kini tiba di pemakaman. Tanah yang lembab itu sudah digali, papan nisan sudah siap.
Arby, Marcell, Vian dan Ikmal masuk ke dalam liang untuk memasukkan tubuh Marva ke rumah barunya yang kecil.
Mereka menggigit bibir menahan tangis.
Sekarang kita tidak bisa lagi saling berbagi, Marva. Istirahatlah dengan tenang. Semoga kamu bisa bertemu dengan bidadari surgamu yang sesungguhnya!
"Tidak! Jangan masukkan Marva ke sana! Nanti dia kesempitan! Nanti dia kedinginan! Marva itu hanya tidur sebentar, nanti juga dia bangun lagi! Jangan masukkan Marva! Jangan masukkan Marva! Jangan!"
Jangan!
Jangan!
Jangan!
__ADS_1