Mother

Mother
106 Jangan Ikut Campur


__ADS_3

Marva melihat anak-anaknya yang sedang menikmati es krim berukuran besar. Marva sangat tahu bahwa selera anak-anaknya itu lebih mirip dengan Rei daripada dia.


Dia senang banyak hal yang diberikan Rei pada si kembar. Yang akan selalu mengobati rasa rindunya pada perempuan itu tanpa dia sadari.


"Ayo kita pulang."


"Masih jam segini, Ayah. Nanti kalau kami ditanya, kami harus bilang apa?"


"Benar juga. Ya sudah, kita jalan-jalan saja."


"Ayah tidak kerja?"


"Tidak, ayah ingin menghabiskan waktu bersama kalian."


"Sayang ya bunda sibuk, kalau tidak, kita bisa ke sana."


Marva tersenyum. Dia senang kalau si kembar sangat menyayangi Rei. Tidak akan sulit nantinya mendekatkan mereka.


Maaf Vio, kalau aku harus berbuat seperti ini. Tapi bagaimana pun juga, Rei adalah ibu kandung mereka. Aku juga tidak akan menutup mata kalau kamu juga menyayangi anak-anak aku selama ini Terima kasih karena sudah mau mengurus dan membesarkan mereka. Apa yang akan terjadi nanti, memang sudah seperti itulah takdirnya.


Aku tahu apa yang telah aku lakukan ini akan ditentang oleh kalian. Biarlah sekali lagi aku yang akan menanggungnya.


Tidak!


Tidak semua orang menentangnya.


Dia masih punya saudara-saudaranya. Meski hanya sepupu, tapi hubungan mereka juga seperti saudara kandung.


Ada Freya dan sahabat-sahabatnya.

__ADS_1


Marva tersenyum saat mengingat Freya.


Mantan istri dari sepupunya itu, yang selalu singit padanya. Tapi Marva tahu apa penyebabnya, dan bukan salah Freya kalau membencinya, juga keluarganya yang lain.


Keluarga Abraham, Arthur dan deretan nama keluarga lainnya..


"RaRa." Suara khas anak kecil membuat Marva dan si kembar menoleh. Di sana ada Chiro dan tentu saja Arby.


"Chiro, kamu tidak sekolah?"


"Kalian juga tidak sekolah."


"Tadi Chiro menghubungi aku. Dia ngambek gara-gara kamu membawa pulang Radhi dan Raine. Jadi dia juga minta dijemput."


Chiro sedang memakan kue coklat bertabur potongan buah strawberry. Marva duduk di hadapan Arby, dan tidak lama kemudian sepupu-sepupunya yang lain datang, termasuk Mico.


"Reuni mbahmu! Baru juga kemarin kita liburan bersama."


Mereka memperhatikan wajah Marva yang terlihat habis menangis.


"Apa yang akan kamu lakukan, kami akan selalu mendukung kamu," ucap Ikmal.


"Kami? Kalian saja kali. Aku mah enggak ikutan," sela Arby.


"Dasar!"


"Masalahku dengan Freya saja belum kelar. Seharusnya kalian juga memikirkan aku."


"Kamu tidak perlu perhatian."

__ADS_1


Arby hanya mendengkus.


Perhatian mereka lalu beralih pada ketiga anak itu yang bisik-bisik.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Marcell.


"Ini urusan anak-anak. Orang dewasa jangan ikut campur, nanti bikin ribet," jawab Chiro dengan bijaknya.


Mereka langsung melebarkan mata mendengar jawaban ajaib itu.


Apa itu tidak terbalik?


Menatap curiga pada para pria dewasa itu, mereka lalu memilih tempat duduk lain karena tidak ingin mereka menguping.


"Ya ampun, bocah-bocah itu seperti siapa, ya?"


"Mereka tidak sedang melakukan hal yang aneh-aneh, kan?"


"Mereka paling sedang berebutan siapa yang paling berhak menjadikan aku sebagai papi mereka," jawab Mico.


Mereka terus bicara sampai jam makan siang tiba. Di sana bukannya hanya mengobrol saja, tapi juga membicarakan pekerjaan.


"Kamu tidak praktek, Cell?"


"Nanti setelah dari sini aku ke klinik. Aku mau ke sana sama Nania."


"Masih juga mengejar-ngejar dia."


"Kalian saja yang juga selalu ditolak masih mengejar-ngejar perempuan yang sama."

__ADS_1


__ADS_2