
"Halo, Radhi, Raine, bagaimana kabar kalian?"
"Baik, tapi kami kangen."
"Oya, ini kenalkan teman tante dokter. Yang ini dokter Rei, cantik, kan?"
Si kembar lalu menatap Rei, lalu tersenyum. Kedua tangan bocah itu terulur, ingin bersalaman dengan Rei. Rei diam saja, sejak tadi dia hanya menunduk menatap dua anak kecil yang selalu memenuhi isinya.
"Rei!"
"Hah?"
"Si kembar mau salaman."
"Oh? I ... iya."
Tangan itu bergetar, lalu bersentuhan dengan tangan-tangan lembut yang membuat nafasnya sesak.
"Enggak mau cium ibu dokter yang cantik?" tanya Naya, sengaja memanasi para pria yang menyebalkan itu.
Radhi dan Raine lalu memcium Rei, Naya dan yang lain.
"Ayo, Rei." Naha lalu mengajak Rei pergi, sebelum temannya pingsan di tempat.
"Mommy ... mommy!" Kali ini Naya yang sepertinya butuh pertolongan. Teman-temannya sudah menahan tubuhnya agar tidak tumbang.
"Mommy, Ecan kangen."
Jantung siapa yang duluan copot? Arby atau Naya?
Sepertinya aku memang sedang mimpi, batin Arby.
Chiro langsung mencium wajah Naya. Naya dan Chiro lalu mengobrol, dan tanpa meminta ijin, dia langsung membawa Chiro untuk mengajaknya makan, karena dia bisa merasakan tubuh Chiro yang demam. Si kembar juga mengikuti Chiro, yang membuat yang lain (pihak keluarga) akhirnya juga mengikuti mereka.
Rei terus saja memandang si kembar, tanpa peduli kalau sejak tadi banyak yang melihatnya.
Marva, Violet, orang tua Marva dan kakeknya.
Naya menyuapi Chiro, sedangkan si kembar melihat itu tapi diam saja.
"Dokter Agam?" ucap Rei.
Naya, Monic, Zilda dan Letta langsung melihat apa yang Rei lihat.
"Jadi itu dokter Agam?" tanya Naya. Rei mengangguk.
"Ecan Sayang, kamu tunggu di sini dulu."
__ADS_1
Naya lalu berdiri dan menghampiri dokter Agam yang jaraknya memang tidak jauh.
"Dokter Agam?"
"Iya, kamu siapa, ya?"
"Aku Naya, sahabat Rei."
"Rei?"
"Iya, Reinata."
"Reinata?"
Rei lalu menghampiri dokter Agam.
"Dokter Agam, apa kabar? Masih ingat sama aku?"
"Loh, kamu Kirei, kan?"
"Dokter masih ingat?"
"Ingat, dong. Bagaimana kabar kamu? Kamu sudah jadi arsitek, kan?"
"Enggak, Dok. Aku memutuskan untuk menjadi seorang dokter, sama seperti dokter Agam."
"Dokter?" Rei mengangguk.
"Rei ini selalu cerita tentang dokter Agam."
"Cerita apa?"
"Katanya dokter baik banget." Naya melirik Monic, Zilda dan Letta, mereka juga akhirnya menghampiri Rei.
"Iya. Katanya dokter ganteng."
"Keren."
"Masih muda."
"Dokter sudah punya istri?"
"Belum."
"Tunangan?"
"Belum?"
__ADS_1
"Pacar?"
"Belum juga."
"Alhamdulillah," ucap Naya, Monic, Zilda dan Letta.
Mereka tidak tahu saja, ada yang kebakaran jenggot sedang menatap mereka di sana.
"Setiap hari Rei selalu memuji dokter."
Kapan aku selalu memuji dokter Agam.
"Katanya dia kangen banget sama Dokter?"
Apa-apaan mereka ini?
"Rei masih jomblo, loh."
"Kami berempat juga jomblo, kok."
Mereka berempat kembali mengangguk serempak.
Dokter Agam langsung tertawa, mimpi apa dia dihadapkan dengan lima gadis cantik sekaligus?
"Jadi kalain berlima dokter?"
"Iya, semoga nanti kita bisa bekerja sama ya, Dok. Dalam pekerjaan juga rumah tangga," celetuk Zilda, yang langsung mendapatkan cubitan dari Letta.
Betapa geramnya para pria di sana.
"Bu Dokter!" Mereka kembali pada kenyataan yang ada, setelah berpuas diri memanasi para pria yang wajahnya seperti parutan kelapa itu.
"Itu siapa?" tanya Raine.
"Itu dokter Agam."
Mereka kembali ke meja itu, menghindari tatapan yang sepertinya ingin menerkam mereka hidup-hidup.
"Zil, tadi kamu berdoa semoga dapat jodoh di sini."
"Bukan hanya aku, tapi kita. Mungkin saja dokter Agam jodoh salah satu dari kita."
"Aamiin."
"Siapa tahu saja jodohmu yang itu, Zil?" Zilda lalu melihat arah yang ditunjukkan oleh Letta, yang tidak lain adalah Marcell.
"Amit-amit."
__ADS_1
Marva melihat Rei, yang sejak tadi kembali memandang si kembar. Tidak ada yang berani bicara, sekedar menanyakan kabar apalagi membicarakan masa lalu.
Yang hilang telah kembali, entah untuk sementara saja atau tetap bertahan. Entah kembali untuk mereka, atau bersama yang lain.