
"Aku anggap semua yang terjadi padaku adalah hukuman untukku. Nenekku meninggal setelah aku menyerahkan diriku padamu. Nenek pasti tidak sudi menyentuh uang itu untuk kesembuhannya."
Air mata kesakitan itu menetes, mengingat penyesalan mendalam dalam hidupnya.
"Nenek lebih memilih menyerah karena tidak ingin melihat diriku yang murahan ini. Seharunya aku selalu mengingat pesan nenek, 'Rei, segala sesuatu itu harus dilakukan dengan cara yang baik, agar hasilnya juga baik.' Tapi kali itu aku mengabaikan nasihatnya. Uang itu didapat bukan dengan cara yang baik, makanya nenek marah, dan Tuhan lebih menyayangi nenek."
Marva mengusap air matanya.
Begitu juga orang-orang yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tidak pernah aku berpikir untuk menjadi istri kedua, apalagi pria itu masih beristri. Mimpi pun tidak."
"Kamu meminta aku menikah denganmu, sedangkan kamu sendiri sudah memiliki istri."
"Aku akan menceraikan Vio."
"Dan apa menurut kamu aku senang? Aku memang tidak mau kembali menjadi yang kedua, apalagi diduakan. Tapi bukan juga berarti aku mau kalian berpisah. Aku punya Raine, anak perempuan. Aku tidak mau karmaku dia yang akan menanggungnya. Aku tida mau kelak jika dia dewasa, dia juga disakiti oleh pria."
Deg deg deg
__ADS_1
Nafas Marva serasa sesak. Raine, tentu saja dia juga tidak mau anak perempuannya itu menderita.
"Tapi kamu jangan salah paham Rei, ada atau tidak adanya kamu, aku akan tetap menceraikan Vio."
"Apa kamu mau menceraikan perempuan yang sudah membesarkan anak-anak kamu?"
"Kamu mungkin akan mengatakan kalau akulah yang egois, tapi apa yang Vio lakukan itu bukan aku yang memaksanya. Aku sudah mengatakannya kalau dia tidak bisa menerima kehadiran Raine dan Radhi, kami bisa berpisah dengan cara baik-baik. Kami bisa tetap menjalin hubungan baik sebagai teman."
Tapi Vio tidak mau berpisah dengan kamu, karena dia tidak bisa memiliki anak.
"Kamu juga dengar sendiri kan dari anak-anak, kalau kami sering bertengkar, bahkan di saat kamu belum kembali."
🍂🍂🍂
Rei ada di depan makam neneknya, mengeluarkan isi hatinya. Rintik hujan mulai turun, membuat udara menjadi lebih dingin.
Dia perlahan meninggalkan kuburan itu, dengan hati yang sedikit lega karena sudah bercerita, meski tahu neneknya tidak akan menjawab pertanyaannya.
"Loh Rei, kamu juga di sini?"
__ADS_1
"Agam? Kamu juga di sini?"
"Iya, aku habis berziarah ke makam keluargaku."
Baru saja Rei mau meminta Agam untuk mengajaknya ke makam keluarganya, tapi hujan turun dengan deras.
"Ayo, kamu bawa mobil, Rei?"
"Enggak, aku tadi pakai taksi."
"Ya sudah, ayo aku antar."
Rei melihat banyak kue di dalam mobil itu.
"Tadi aku beli kue untuk mama aku. Oya, dulu kan mama aku suka banget sama kue buatan kamu."
"Masa? Memang mama kamu pernah makan kue buatan aku?"
"Pernah, yang dulu itu, waktu kamu masih jualan kue. Kapan-kapan aku kenalin kamu ke mama, deh."
__ADS_1
Rei tersenyum, dia tahu kalau Agam itu sangat sayang pada keluarganya. Agam juga sering bercerita tentang keluarganya. Rei yang mendengar cerita dari Agam, merasa senang, seolah dia sedang mendengar cerita tentang keluarganya sendiri.