
"Kelima, Rei kembali ke London tanpa mengatakan apa-apa pada anak-anaknya. Coba kalian tanyakan pada si kembar, apakah Rei pernah menemui mereka diam-diam atau mengatakan bahwa dirinya adalah ibu kandung mereka."
"Keenam, bukan salah kami kalau harus bekerja di rumah sakit itu. Kami hanya menjalankan perintah dari atasan untuk melanjutkan pekerjaan dan pendidikan kami di sini. Jadi kalau ada yang harus disalahkan, salahkan saja mereka."
"Ketujuh, kalian bisa periksa CCTV, ciuman itu terjadi di rumah sakit. Jelas sekali kalau Marva lah yang mendatang rumah sakit, khususnya Rei. Kalian bisa melihat apakah Rei yang menggoda atau sebaliknya."
"Iya, ayo kita lihat. Aku juga penasaran, ciumannya hot atau enggak," celetuk Arby, yang tentu saja kembali mendapat tatapan tajam dari orang-orang.
Jika Rei wajahnya memerah karena malu, maka Vio wajahnya memerah karena kesal.
"Gimana, Rei? Ciumannya hebat, enggak?" tanya Zilda, yang langsung mendapatkan tepukan dari Monic.
Arby, Vian, Marcell dan Mico langsung tertawa. Ingin sekali Rei menjitak Zilda yang tidak tahu tempat kalau bicara.
"Apa harus aku jelaskan lagi yang lain? Pengacara kami akan mewakili kami."
__ADS_1
Frans menghela nafas. Kenapa perempuan muda ini pernah menjadi menantunya?
"Aku masih punya banyak bukti kalau kalian bersi keras menuduh Rei."
"Atas tindakan tidak menyenangkan yang Rei alami, kami akan menuntut balik keluarga Arthuro."
"Siapa kamu berani berkata seperti itu?" tanya Vio.
"Kan aku sudah bilang, aku ini adalah wali Rei. Jadi kalian siap-siap saja menerima surat dari kepolisian. Ah, aku sudah tidak sabar saat tahu skandal besar yang sudah beberapa tahun ini ditutup-tutupi oleh salah satu keluarga terhormat ini. Mereka akan terus membicarakan ini dari hari ke hari, bukan ke bulan, bahkan bertahun-tahun pun akan tetap diingat. Ciuman saja menyebar dan dibicarakan, apalagi skandal seperti ini? Kira-kira, perusahaan Arthuro akan terguncang seperti apa, ya? Para investor bisa saja menarik saham mereka, para klien mundur ...."
"Jangan tanyakan padaku, tanyakan pada Rei, apa yang menjadi keinginannya."
"Rei, apa yang kamu inginkan?"
Rei melihat Freya, dan Freya mengangguk.
__ADS_1
"Katakan saja apa yang menjadi keinginan terbesar kamu!"
"Aku ... aku hanya mau anak-anak aku mengetahui kalau aku ibu yang melahirkan mereka, dan mereka memanggil aku bunda."
"Panggil aku bunda!" ucapnya sekali lagi dengan suara bergetar menyebut dirinya sendiri bunda.
"Aku ingin dipanggil bunda. Bukan hanya sekedar panggilan, tapi mereka tahu akulah ibu kandung mereka."
Monic, Zilda dan Letta meneteskan air matanya. Mereka sangat tahu bagaimana kesedihan Rei selama ini. Bagaimana dia berusaha mengobati hatinya.
"Biarkan Rei dipanggil bunda, dan anak-anak tahu dia adalah bunda mereka yang sesungguhnya, maka aku juga akan menganggap masalah ini selesai. Kalian sudah tahu kan, apa yang menjadi keinginan Rei? Dia sama sekali tidak menuntut untuk dinikahi lagi oleh Marva."
Frans terdiam. Carles dan Delia saling pandang. Sedangkan Vio juga cemas, berharap Frans akan menolak dan memberikan penawaran lain.
"Tidak ada tawar menawar. Aku tuntut, atau berikan apa yang Rei mau."
__ADS_1
"Akan saya pikirkan," ucap Frans pada akhirnya. Kalau saja Freya itu bukan dari keluarga Zanuar, tentu saja Frans juga tidak akan secemas itu.