Mother

Mother
98 Tukar Posisi


__ADS_3

Rei dan Agam semakin dekat. Apalagi mereka sering pergi bersama ke klinik itu.


“Kamu bawa bekal?” tanya Agam, melihat perempuan itu membawa tentengan berwarna biru muda.


“Iya, aku bawa dua. Yang satu lagi untuk kamu.”


“Jadi ngerepotin.”


“Ngerepotin apaan, sih. Oya, aku dengar kemarin malam ada ibu-ibu yang melahirkan anak di rumahnya?”


“Dia pergi ke bidan?”


“Bukan. Tapi benar-benar melahirkan di rumahnya sendiri. Di sana katanya masih sepi, jalanannya rusak, dan jauh dari tetangga.”


“Ayo nanti kita lihat.”


“Iya, tapi nanti temani aku beli kado untuk mereka dulu, ya.”


Agam tersenyum, lalu mengangguk. Dia memang sering melihat Rei memberikan sesuatu untuk pasiennya atau saat melakukan kunjungan. Seperti makanan, buku, alat tulis, atau hal bermanfaat lainnya. Sifatnya yang ramah disukai oleh orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


Siang harinya, Rei dan Agam datang melihat ibu yang baru melahirkan itu. Mereka naik motor, motor yang sudah disediakan Freya untuk kebutuhan rumah sakit, karena memang motor lebih memungkinkan untuk jalanan kecil seperti ini.


“Pegangan yang benar, Rei.”


Akhirnya mereka sampai juga ke rumah yang dituju. Melihat keadaan rumah itu yang hanya berupa gubuk dari bambu, itu pun sudah sangat jelek. Rei melihat ada sumur di sebelahnya. Melihat ke dalam sumur yang ada daun-daun berguguran. Mereka memfoto rumah dan keadaan sekitar, untuk menjadi laporan pada 12F milik Zion cs yang memiliki banyak yayasan sosial.


“Permisi.”


Seorang pria datang, membawa cangkul dengan tubuh penuh keringat dan kotor.


“Ya, cari siapa ya?”


“Oh, istri saya. Ada di dalam, silakan masuk Bapak Ibu Dokter.”


Mereka masuk, dan terpengaruh melihat keadaan dalam rumah. Lantainya masih berupa tanah padat. Tidak ada bangku tentu saja, jadi sebagai alas duduk hanya berupa terpal yang terlihat sangat menyatu dengan lantai saking lamanya sudah digunakan. Rei menghela nafas, dia jadi merasa lebih beruntung dan bersyukur dengan keadaan dia dulu, yang tinggal di rumah kontrakan bersama neneknya tapi masih lebih bagus meski kecil.


Mereka menuju kamar, yang sebenarnya bukan kamar juga. Hanya dibatasi dengan bilik anyaman yang sudah bolong-bolong dan terlihat tua.


Mereka melihat seorang perempuan yang duduk selonjoran dengan menimang anaknya. Rei dan Agam memberikan pengarahan agar mereka mau berobat ke klinik dan memeriksakan keadaan anaknya, karena bayi yang baru lahir tentu saja sangat rentan.

__ADS_1


“Tidak perlu memikirkan biaya, datang saja ya. Dokter di sana baik-baik, kok.”


Setelah berada di sana hampir tiga puluh menit untuk membujuk keluarga kecil itu, mereka lalu pulang. Sebelumnya mereka sudah memberikan kado berupa kebutuhan bayi dan uang untuk kebutuhan yang lain. Ibu menyusui tentu saja membutuhkan makanan dan minuman yang sehat agar ASI-nya juga bagus dan lancar.


Mereka kembali ke klinik, dan melihat cukup banyak yang mengantri untuk berobat. Melihat ada beberapa balita yang menangis, membuat Rei dan Agam berinisiatif untuk menggendong anak-anak itu.


“Ini anaknya kenapa, Bu?”


“Anak saya sejak tadi malam muntah-muntah dan buang-buang air.”


“Kalau anak saya, batuk pilek.”


Agam dan Rei berusaha menenangkan anak-anak itu, yang membuat pasien lain memandang mereka. Terlihat seperti sepasang suami istri yang menenangkan anak-anaknya.


Marva yang melihat itu, memejamkan matanya. Dulu dia dan Vio juga seperti itu, menggendong Radhi dan Raine saat mereka menangis dan sakit.


Bagaimana jika dulu posisi Vio diganti oleh Rei?


Bagaimana kalau sekarang posisi Agam diganti oleh Marva?

__ADS_1


__ADS_2