
🌺🌺🌺
Hari ini Rei bertugas di rumah sakit. Dia selalu satu tim dengan Agam, yang memang diatur oleh Freya. Bukan karena ingin menjodohkan, tapi Freya memang mengatur agar semuanya seimbang, juga karena mereka berdua sama-sama jomblo, jadi tidak akan ada fitnah dan masalah jika mereka sering bersama. Rei juga bisa pulang pergi bersama Agam. Freya sendiri juga dapat shift yang berbeda dari sahabat-sahabatnya.
Hari Minggu, waktu bersantai untuk mereka yang selama ini tidak memiliki waktu luang untuk diri sendiri.
“Aku benar-benar tidak mau melakukan apa-apa sekarang. Tidak mau masak, bersih-bersih, mencuci, atau apa pun,” ucap Zilda yang diangguki oleh semuanya.
Pada hari biasa, memang ada orang yang melakukan semua itu, mereka hanya memasak pada hari libur saja, karena biasanya ada Chiro yang datang.
“Pasti sebentar lagi mereka juga datang.”
Mereka yang dimaksud tidak hanya Chiro dan daddy-nya, tapi tim perusuh lainnya. Bel berbunyi, membuat mereka menghela nafas.
“Tuh kan, benar,” ucap Zilda.
Tidak ada yang bergerak untuk membukakan pintu. Akhirnya Rei yang mengalah dan membuka pintu. Minggu ini mereka tinggal di unit Letta. Memiliki unit yang berhadapan dan bersebelahan, tapi tetap saja tinggal bersama, agar lebih mudah meminta tolong kalau terjadi sesuatu.
Para pria itu melihat tim cewek yang terlihat lesu. Marcell saja yang pria terlihat lelah. Ternyata pasien di klinik juga sangat banyak. Marva juga sering mendengar cerita dari Marcell dan Arby, tentang keadaan di sana.
“Kamu kelihatan capek banget, Mommy Chiro. Sini aku pijitin.”
__ADS_1
Plak
“Aw!” Freya baru saja memukul tangan Arby yang sedang modus memijit tapi sebenarnya mengusap pahanya.
“Kamu, mantan suami mesum, kondisikan tanganmu.”
“Tahu nih, kalau mau mesum lihat situasi, jangan di depan umum,” keluh Ikmal yang benar-benar tidak habis pikir.
“Ya sudah, ayo kita ke kamar, kan di dalam sepi.” Arby hanya tertawa saja melihat tatapan kesal mereka.
Si kembar yang melihat Rei juga lelah, lalu mendekati perempuan itu.
Apa kalau Vio sakit, mereka bersikap seperti ini juga? Tentu saja, kenapa aku harus bertanya. Bagi mereka, Vio adalah ibu mereka. Padaku yang bukan siapa-siapa saja mereka perhatian, apalagi pada Vio.
“Besok kan tanggal merah, kita liburan yuk. Sekali-kali refreshing,” ajak Marcell, yang melirik Zilda.
“Ayo Mommy, kita liburan bersama.”
Para pria itu menahan senyum. Kalau Chiro yang meminta, pasti Freya akan mau. Lalu yang lain juga pasti akan ikut.
“Kita nginap, yuk,” ajak Vian.
__ADS_1
“Di mana?”
Tidak lama kemudian ponsel Freya berbunyi, perempuan itu langsung tersenyum.
“Ayo kita liburan ke sini, Mico juga mengajak ke sana sekarang.” Arby langsung mendengkus, tapi mau enggak mau, ya mau juga.
“Radhi, Raine, ke sini sebentar.” Marva memanggil si kembar, membawa mereka ke luar karena ada yang harus dibicarakan.
“Kenapa, Ayah?”
“Kalian minta ijin dulu pada mama, ya.” Mereka mengangguk, lalu menghubungi Vio.
“Kenapa Sayang? Kalian jadi main bersama Chiro, kan?”
“Jadi, Ma. Tapi Chiro mengajak kami liburan bersama, menginap. Boleh ya, Ma.”
“Sama siapa saja?”
“Sama para uncle. Kasihan uncle Acel, uncle Acel mau liburan katanya karena pusing dengan urusan dunia.”
Marva menahan tawanya, mendengar anak-anaknya berkata pusing dengan urusan dunia. Dia sendiri juga pusing dengan urusan hatinya.
__ADS_1