Mother

Mother
122 Komentar


__ADS_3

Orang itu tersenyum puas dengan berita yang sudah dia sebarkan. Baginya sangat mudah melakukan hal ini.


Di rumah sakit, orang-orang sudah menunggu kedatangan Rei, bahkan sudah banyak wartawan yang hadir untuk meminta penjelasan dari berita yang beredar.


"Masih pagi begini, tapi sudah berkerumun saja mereka. Jangan kerja lah, kita."


"Kenapa? Ye, kalian enggak lihat apa tuh banyak wartawan."


Monic, Letta dan Zilda terus berkomentar, sedangkan Rei sudah sakit kepala. Tadi pagi saat membuka ponselnya, sudah banyak pesan masuk yang menanyakan berita itu.


Freya biasa-biasanya, hanya dia yang terlihat santai.


"Terus ke mana kita?"


"Kalian kerja saja, biar aku yang ijin sendiri."


"Percuma Rei, kami juga pasti akan ditanya. Kami kan sahabat kamu."


"Maaf ya, gara-gara aku, kalian jadi ikut-ikutan terlibat."


"Bukan salahmu."


"Bay, kamu diam saja?"


"Ngantuk banget aku."


"Terus kita ke mana, Nay? Pulang?"


"Liburan saja yuk, ke tempat Mico."


"Yes, liburan!" pekik Zilda senang.

__ADS_1


Freya atau yang kadang dipanggil Naya itu, langsung menghubungi Mico.


"Mau kabur ke mana, kalian?" tanya Mico langsung.


"Kok tahu?"


"Tahu, lah. Mau ke mana, biar aku yang urus."


"Ke vila tempat kamu, tapi kami enggak bawa apa-apa."


"Tenang saja, aku yang atur."


Keluarga Marva yang lain pun (om, tante, para sepupu) hanya bisa geleng-geleng kepala saat membaca dan mendengar berita itu di media.


Informasi yang tersebar memang sangat komplit, tidak ada yang kurang satu pun. Wartawan sudah banyak menunggui kediaman dan tempat kerja mereka. Hal ini bukan saja mempengaruhi keluarga Arthuro, tapi juga keluarga Abraham dan keluarga lainnya.


"Cepat cari tahu siapa yang menyebarkan berita ini!" perintah Arlan Abraham.


Para investor sudah menuntut penjelasan. Berbagai komentar negatif juga menyerang mereka.


Buruknya satu keluarga, maka akan mencoreng keluarga yang masih memiliki hubungan kerabat.


Arby, Ikmal, Marcell dan Vian, yang untungnya memang sudah tahu sejak lama, hanya bisa mendukung Marva. Saat ini Marva juga tidak bisa ke mana-mana. Chiro dan si kembar juga tidak ada yang sekolah.


"Aku tidak akan kasihan padamu, Marva."


"Tapi kami kasihan pada Rei."


"Benar."


"Tidak tahu seperti apa orang-orang membicarakan tentang dirinya."

__ADS_1


Marva menghela nafas. Dia juga tidak mau berita ini sampai tersebar, bukan karena takut nama baiknya yang rusak, tapi kasihan dengan Rei dan anak-anaknya.


"Siapa ya kira-kira yang menyebarkan berita ini?"


"Pasti orang itu sangat tahu tentang masalah ini."


"Gila, hebat juga dia bisa melakukan hal ini."


Banyak yang menghujat keluarga Arthuro, dan kasihan dengan Rei. Tapi ada juga yang tetap saja menganggap kalau Rei itu pelakor, menjual diri demi uang, dan perkataan tidak menyenangkan lainnya.


Satu harian ini, berita itu yang terus dibicarakan.


Di toilet umum


Tempat makan


Angkutan umum


Kantor


Kampus


Bahkan pasar


"Ada ya, orang seperti itu. Jahat sekali mereka, memanfaatkan gadis polos."


"Tahu tuh, sudah dinikahi siri, setelah melahirkan malah disuruh pergi."


"Kalau itu aku, pasti aku porotin tuh mereka, manfaatkan saja kekayaan mereka."


"Itu juga tuh, si Vio Vio itu, perempuan lain yang mengandung dan melahirkan, malah di yang mengaku-ngaku. Perempuan lain yang mempertaruhkan nyawa, dia tinggal terima enaknya saja."

__ADS_1


"Tahu tuh, membesarkan juga pakai uang suaminya. Dia tinggal terima beres!"


__ADS_2