Mother

Mother
175 Kenapa Tidak Tinggal Bersama?


__ADS_3

"Anak-anak, mulai hari ini kita tinggal di sini, ya," ucap Marva.


"Kita akan tinggal di sini bersama mama Vio?"


"Tidak."


"Sama bunda?"


"Iya, doakan saja bunda mau, ya."


"Terus bagaimana dengan mama Vio? Nanti mama Vio kesepian kalau kita pergi?"


"Iya, Raine juga kangen dengan mama Vio."


Marva terdiam, bagaimana pun juga Vio adalah perempuan yang membesarkan kedua anaknya sejak bayi. Perempuan pertama yang dianggap dan dipanggil mama.


"Sayang, anak-anak ayah yang baik, mungkin nanti ayah dan mama Vio tidak akan bersama lagi. Kami akan berpisah."


"Berpisah? Seperti orang tua Chiro?"


"Iya."


"Tapi kenapa, ayah? Apa mama Vio tidak menyayangi kita lagi? Apa mama marah kepada kami karena kami punya bunda lain?"

__ADS_1


Raine mulai menangis. Bagaimana pun, Raine yang paling dekat dengan Vio, karena Vio sering mendandani Raine dengan baju yang lucu-lucu dan seperti seorang putri.


"Apa mama sudah tidak mau menyisirkan rambut aku dan mengikatnya lagi? Mama selalu bilang aku cantik seperti seorang putri kerajaan. Kenapa mama pergi, Ayah? Apa ayah juga nakal seperti uncle Arby yang nakal pada aunty Freya?"


Raine terus saja menangis. Marva tidak menyangka kalau mereka akan sesedih ini, bahkan sampai menangis. Tadinya dia mengira, mereka akan biasa-biasa saja saat Marva mengatakan akan berpisah dengan Vio.


"Apa kalian sangat sayang pada mama Vio?"


"Iya."


"Bagaimana dengan bunda?"


"Kami juga sangat sayang pada bunda."


"Tidak bisa, Sayang. Nanti kalau bunda dan mama Vio tinggal bersama, bisa-bisa mereka ...."


"Bisa apa, Ayah?"


Marva diam. Tidak mungkin dia mengatakan kalau Rei dan Vio bisa saling jambak dan cakar, kan? Khasnya perempuan kalau sedang bertengkar.


"Kalau sudah dewasa nanti, kalian akan mengerti."


Itu pun khasnya orang dewasa saat tidak bisa menjawab pertanyaan anak kecil tentang suatu keadaan, kalau dewasa nanti kalian akan mengerti.

__ADS_1


Dan selama masa pertumbuhan itu, bisa saja mereka menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.


🍃🍃🍃


Rei sedang membersihkan kamar Freya di apartemen. Dia menghela nafas saat membersihkan kamar itu.


Aku kangen kamu, Freya.


Rei melihat jam, dan memutuskan untuk ke klinik sekarang. Dia lelah, tapi pekerjaannya sebagai seorang dokter membuat dia untuk terus melanjutkan langkahnya.


Rei jadi ingat perkataan Nico tentang orang-orang yang harus bekerja di pelosok-pelosok. Di mana tidak ada kendaraan dan makanan yang tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan, mengharuskan mereka untuk berjalan kaki ratusan kilometer.


Membayangkan itu membuat Rei meringis. Bagaimana bisa mereka berobat dengan cepat, sementara fasilitas kesehatan saja sangat susah di tempat seperti itu?


Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan. Dirinya saja yang dulu tinggal di kota besar, mengalami kesulitan karena biaya.


Aku jadi merasa kurang maksimal menjadi seorang dokter. Mikirin masalah pribadi yang tidak ada apa-apanya saja sudah membuat aku merasa lelah, lalu bagaimana dengan mereka?


"Kamu mau ke mana?" tanya Marva saat bertemu dengan Rei di loby apartemen.


"Aku mau ke klinik." Marva sebenarnya mau mengantar Rei, tapi dia ada rapat penting siang ini. Kalau hanya rapat dengan bawahannya saja mungkin dia bisa membatalkannya.


"Ya sudah, kamu hati-hati, ya. Jangan mengebut."

__ADS_1


Di jalan, Rei mengambil jalur umum, bukan jalur pintasnyang biasa mereka lewati. Karena jalur pintas itulah tempat Freya kecelakaan.


__ADS_2