Mother

Mother
206 Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

"Marva sudah bisa pulang, paling hanya tinggal melatih tangan dan kakinya saja," ucap dokter dengan terpaksa. Dia belum puas menyiksa keponakannya itu, tapi juga malas setiap waktu terus mendengar rengekan bocah raksasa itu agar bisa kembali ke habitatnya.


"Kalau diajak malam pertama, jangan mau duku ya, Rei. Kasihan Marva, dia kan baru saja keluar dari rumah sakit. Tunggu sampai dia atau tiga bulan lagi mungkin," lanjut dokter itu dengan senyuman puas, yang langsung diangguki setuju oleh Ikmal, Marcell, Vian dan Mico.


Tidak bisa dijelaskan lagi bagaimana merahnya wajah Rei.


Apa harus dikatakan secara terang-terangan seperti ini? Aku juga sudah tahu entang hal ini.


Rei membawa Marva ke apartemennya bersama anak-anak.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Marva.


"Maksudnya?"


"Ini kan apartemen kamu, bukan aku."


"Boleh kan, kalau kita tinggal di sini? Aku sudah terbiasa tinggal dekat dengan sahabat-sahabatku. Bahkan aku saja tidak tinggal bersama keluargaku."


"Baiklah, kita akan tinggal di mana pun kamu suka."


"Terima kasih."


🌺🌺🌺


Sesekali mereka akan tinggal di rumah keluarga Rei, sesekali juga akan tinggal di rumah keluarga Arthuro. Sikap kakek dan kedua orang tua Marva sudah berubah. Mereka kini menjadi lebih baik pada Rei, bahkan seperti anak kandung sendiri. Apa alasan sebenarnya, Rei juga tidak yakin.


Saat ini mereka sedang kumpul keluarga, merayakan kembalinya Freya juga Marva. Freya sendiri juga, seperti kebiasaannya, selalu mengamati orang-orang di sekitarnya.

__ADS_1


"Pantas saja Freya melarangku menceritakan semua ini, terutama pada kalian," sindir dokter Agam.


"Maksudnya?"


Dokter Agam diam saja, dia hanya menghela nafas dalam. Bukannya dokter Agam tidak suka Rei kembali dengan Marva, tapi dia, kalau teringat bagaimana dulu nasib Rei, masih merasa kesal dan tidak terima.


"Aku pikir, dokter Agam dulu itu suka pada Rei, ternyata malah saudara," ucap Zilda.


"Ada perempuan yang dokter Agam suka," ucap Arby nyengir.


Brak


Orang-orang tersentak kaget.


"Jangan-jangan Vio, kita kan pernah melihat dia mengusap kepala Vio," ucap Zilda sambil menggebrak meja. Wajahnya cemberut, dan terlihat tidak suka.


Brak


Brak


"Jangan-jangan Aruna. Aruna itu miliku!" kali ini Vian yang protes.


Brak


"Kamu enggak sekalian mendobrak meja dan ikut protes, Mal? Jangan-jangan Nuna?" ucap Arby mendahului.


"Jangan bawa-bawa aku!" ucap Ikmal dan Monic bersamaan.

__ADS_1


"Dokter Agam mungkin sebentar lagi akan benar-benar menjadi bagian dari kita," ucap Arby mengedipkan matanya.


"Siapa, sih?"


"Iya, siapa, sih?"


Arby diam saja, puas melihat kegalauan para pria itu.


"Agam, kamu suka sama siapa?"


Dokter Agam diam saja, merasa kesal dengan Arby yang iseng.


Freya, yang sejak tadi diam, tersenyum lebar dan memeluk Chiro. Dia juga sudah biasa saja terhadap Rei. Melihat interaksi mereka selama ini, apalagi dia kan hilang ingatan, dan mereka bilang kalau Rei itu salah satu sahabatnya dan sudah banyak menolong Rei, terutama dari keluarga Arthuro.


Freya tidak mau menghakimi orang. Dia yakin kalau dia tidak hilang ingatan, dia akan tetap mendukung apa yang Rei pilih.


Suasana terasa sangat kekeluargaan. Para pria itu saling melirik, mengkode kalau kecelakaan Marva yang hanya pura-pura itu akan menjadi rahasia mereka saja.


Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.


Meski harus berbohong, Marva akan melakukan apa saja demi kebahagiaannya dan anak-anak mereka.


.


.


.

__ADS_1


Tamat, ya?


Kan udah happy semuanya😊


__ADS_2