Mother

Mother
179 Syukurin


__ADS_3

Mereka berbaring di lantai, peluh dan noda darah berceceran di lantai.


Bukan hanya Arby dan Marva saja, tapi juga Marcell, Ikmal dan Vian yang melerai mereka imut terluka. Kecuali Mico, yang tidak mau peduli dengan adegan baku hantam di hadapannya itu. Dia hanya asik melihat itu sambil makan popcorn dan minuman soda. Sudah seperti nonton film layar lebar saja.


Coba kalau ada Freya di sini, pasti seru. Freya, apa kamu tahu apa yang terjadi saat ini?


"Kalau kamu lelah, berhenti berjuang. Biarkan dia bahagia. Tapi kalau kamu tidak sanggup melihat dia bersama yang lain, berjuanglah sampai titik darah penghabisan!"


🍃🍃🍃


"Ayo anak-anak."


Mereka memasuki pesawat. Marva memutuskan untuk ke luar negeri, menenangkan diri dan membawa serta anak-anaknya, karena dia lah yang lebih berhak. Bukan Vio, bukan Rei, bukan papa mamanya, bahkan bukan kakeknya.


Bukan dia kabur dari masalah, tapi dia memang butuh liburan saja. Tidak lama, hanya sebentar saja.


Biarlah sekali-sekali dia egois.


Biarlah mereka berpikir apa arti dirinya bagi hidup mereka.


Hanya satu nama yang dia ingat.


Freya!

__ADS_1


Bukan karena cinta, tapi karena kata-kata yang selalu Freya katakan padanya.


Marva memilih pergi ke Afrika. Negara yang bagus dan pemandangan yang indah, menurutnya. Dan mungkin tidak ada yang menyangka dia akan pergi ke sana. Dia pergi tanpa pamit.


Sesampainya di sana, Marva memilih penginapan yang sederhana.


"Ayo anak-anak ayah, kalian istirahat dulu. Nanti sore kita jalan-jalan."


Radhi dan Raine membersihkan tubuh mereka dan mengganti baku, lalu segera tidur.


Marva melihat pemandangan dari jendela kamarnya. Pria itu menghela nafas. Rei menolaknya, dan Vio tidak ada kabar sedikit pun. Bukan dia menyesal karena memutuskan berpisah dari Vio. Dia hanya ingin segera menuntaskan hubungannya dengan istri pertamanya itu.


Hidup memang seperti itu. Tidak harus selalu sesuai dengan yang kita inginkan. Helaan nafas berat terus saja keluar dari dirinya.


Apa gara-gara aku?


"Kamu tenang saja, mereka pasti baik-baik saja." Dokter Agam mengusap kepala Rei.


Hingga dua hari lamanya, mereka semakin cemas.


Apa dia ingin memisahkan aku kembali dengan anak-anak? Apa dengan cara ini dia ingin membalasku?


"Kamu yang tenang dulu, Rei. Mungkin Marva sedang kerja ke luar kota."

__ADS_1


Agam melihat kesedihan di mata Rei, membuatnya tidak tega.


"Gimana kalau nanti kamu membuat kue dengan mama."


Rei mengangguk, dia senang bisa membuat kue dengan mamanya Marva. Mama Marva sudah seperti ibu kandungnya sendiri.


🍃🍃🍃


"Kalian pasti tahu di mana Marva, kan?"


"Enggak."


"Jangan bohong!"


"Tadi nanya, giliran dijawab malah enggak percaya. Enggak usah nanya sekalian," ketus Arby pada orang tua Marva dan kakeknya.


Akhir-akhir ini pria merana itu sedang emosi tingkat tinggi.


"Yang sopan, Arby!"


"Ini sudah sopan. Kalian selalu saja curigaan. Memangnya Marva anak aku? Istri aku? Kalau dia mau pulang, juga bakalan pulang. Aku saja dulu ke Jepang bertahun-tahun baik-baik saja. Baru ditinggal beberapa hari saja sudah ribet. Makanya, terima saja keputusan Marva mau sama siapa."


"Tante tidak mau Marva menyesal dan salah mengambil keputusan," ucap Delia.

__ADS_1


"Kalau dia menyesal dan salah mengambil keputusan, ya ketawain saja. Tinggal bilang syukurin!"


__ADS_2