
Alvin menyerahkan satu alat canggih yang dibuat khusus untuk Ice berbentuk gelang.
"Ce kemarikan tanganmu."
Willy meminta Ice memberikan tangannya lalu memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Ice.
Gelang yang sekilas tampak biasa dengan sedikit ornamen yang simple dan terbuat dari platina dengan beberapa hiasan batu berwarna berbeda yang sebenarnya adalah tombol untuk mengaktifkan beberapa alat untuk menjaga pemakainya.
Entah itu berguna atau tidak tapi suatu saat pasti sangat berguna, dan gelang itu juga sudah terhubung dengan sistem yang aksesnya cuma diketahui Willy dan kedua bersaudara kembar Alvin dan Elvan.
Sehingga bila sewaktu-waktu terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap Ice, mereka dapat dengan mudah mengetahuinya.
"Gelang yang cantik, apa ini mereka yang membelikannya?"
Tanya Ice pada Willy setelah Willy memakaikan gelang yang diberikan oleh Alvin tadi.
"Ini bukan gelang sembarangan Ce, disini kamu bisa mempelajari cara operasinya."
Ucap Willy lalu memberikan sebuah catatan khusus yang menerangkan kegunaan tiap batu berwarna yang terpasang di gelang yang dipakainya.
"Oh Ice gak nyangka gelang yang cantik ini bisa jadi senjata yang berbahaya."
Ucap Ice sambil membaca sekilas catatan tutorial dan fungsi dari setiap emerald warna warni yang terpasang di gelang platina itu.
"Sudah ngantuk belum Ce? atau masih mau keliling lagi atau mau ngobrol sama Alvin dan Elvan?"
Tanya Willy mengingatkan Ice kalo hari sudah larut malam.
"Iya Om, Ice sudah ngantuk tapi penasaran kalom belum mencoba semua batu warna warni ini."
Ucap Ice sambil memperhatikan gelang yang dipakainya.
"Ice kamu bisa menguji cobanya besok if curious."
Ucap Alvin menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen Eropa nya.
"Wah ternyata kamu juga bisa bicara bahasa Indonesia ya, kalo begini Ice mungkin akan sering kemari, kan seru disini banyak teman."
"Terserah kamu Ce, mau tinggal disini atau di apartemen, asal kamu nyaman aja."
Ucap Willy.
"Ya udah yok Ce sekarang tidur dulu, uji cobanya besok saja biar dibantu Alvin dan Elvan."
Ajak Willy yang berulang kali melihat Ice menguap karena kantuknya.
__ADS_1
"Iya Om ayo, bye Alvin Elvan good night."
"Night too, sweet dream baby."
Ucap Alvin dan Elvan bersamaan.
Yang dibalas lambaian tangan oleh Ice sambil berlalu mengikuti Willy yang mengantarnya ke kamar tamu yang disiapkan untuk Ice.
"Nah ini kamar untuk kamu Ce, kamar gue ada diatas disebelah kamar Daddy."
"Iya Om, met malem."
Ucap Ice lalu berniat menutup pintu kamarnya, tapi tertahan oleh tangan Willy.
"Ce besok gue berangkat, gue pikir kamu lebih aman jika disini, ada Daddy juga Alvin dan Elvan yang bisa jagain kamu dan setidaknya kamu gak kesepian kalo disini."
Ucap Willy yang membuat Ice diam terpaku berusaha mencerna kata-kata Willy dibalik rasa kantuknya.
"Ce kamu dengarkan apa yang gue katakan tadi?"
Tanya Willy yang yakin banget kalo gak satupun kata kata Willy yang nyangkut di kepala Ice.
"Om bilang apa barusan, bisa ulangi lagi gak?"
Tuh kan beneran kata kata Willy tadi cuma lewat aja gak ada nyantol.
"Ya udah masuk sana tidur, besok kamu harus kuliah pagii kan."
Ucap Willy sambil mendorong Ice masuk ke kamarnya lagi, lalu membantu menutupkan pintunya.
Keesokan paginya Willy lebih dulu mengantarkan Ice kekampus, sebelum akhirnya dirinya sendiri harus berangkat kembali ke Indonesia.
Didalam mobil selama perjalanan, Willy selalu berpesan pada Ice agar selalu menjaga dirinya.
"Ce jaga diri baik-baik ya, jangan nangis lagi toh kita bisa video call kalo kangen, dan inget pesen gue, dilarang keras pacaran."
"Iya Om Ice gak akan mewek lagi, berarti nanti pulang gak ada yang jemput Ice ya? boleh dong Oppa Lim nganter Ice pulang."
Otomatis Willy langsung menoleh ke Ice dan melihat ketawa kecil Ice yang menggodanya.
Rasanya Willy tak rela saat Ice selalu menyebutkan nama Lim, kenapa harus nama si Oppa disaat ada nama nama yang lainnya.
Willy lalu menepikan mobilnya dan dia menggeser duduknya mendekati Ice, membuat Ice heran dan bertanya...
"Om ada apa? mau ap.... mmmm...."
__ADS_1
Belum selesai Ice menyampaikan pertanyaannya, tangan Willy sudah menelusup ke belakang tengkuknya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ice sejenak pandangan mata keduanya saling bertemu membuat dada Ice berdebar kencang dan saat berikutnya bibir Willy sudah mencium dan ******* bibirnya dengan rakus.
Sudah cukup lama Willy menyimpan dan menahan hasratnya padanya Ice, kali ini dia tak ingin menahannya lagi, satu nama yang membuatnya selalu cemburu telah memicu rasa egonya untuk menunjukkan bahwa dialah pemilik gadis kecil ini.
"Ini ciuman karena kamu telah menyebut namanya, dan yang ini karena kamu hanya milik ku."
Willy kembali ******* bibir mungil Ice yang tak pernah tersentuh oleh siapapun sebelumnya, membuat Ice meneteskan air matanya.
Tapi tak membuat Willy berhenti sampai disitu.
"Yang ini untuk ciuman perpisahan agar kamu ingat, gue akan jemput kamu empat tahun lagi, jadi jaga diri baik-baik dan ingat ini semua hanya milik gue."
Kata Willy posesif dan ******* bibir mungil Ice untuk yang terakhir dan mengakhirinya dengan memeluk Ice dalam dekapannya.
"Maaf untuk semua ciuman tadi, Gue baru sadar kalo sudah mencintai kamu Ce, maaf untuk perpisahan yang sudah buat kamu syok karena ciuman tadi."
"Kamu jahat Om, huuuu.... hu... kamu sudah merampok ciuman pertama Ice, first kiss yang gak romantis kamu harus tanggung jawab Om."
Ucap Ice sambil menangis sesunggukkan sambil mengusap bibirnya yang terasa panas dan jontor gara gara ciuman Willy.
"Udah ah gak usah nangis, gue pasti akan tanggung jawab tapi gak sekarang, tunggu sampe kamu menyelesaikan pendidikan kamu disini."
"Gak ada romantis romantisnya, masa nyium kaya merampok gitu."
"Maaf Ice sayank, itu juga karena kamu yang mancing mancing gue tadi, pake nyebut nyebut nama si Oppa korea itu."
"Ice kan bener tadi nanya pulangnya g ada yang jemput bearti bolehkan dianter Oppa..."
"Stop Ce atau kamu sengaja minta gue cium lagi? nanti Alvin yang akan jemput kamu."
Ucap Willy mengingatkan Ice untuk tidak lagi menyebut nama Oppa Lim.
Entah kenapa Willy selalu emosi tiap kali Ice menyebut nama Oppa Lim.
Ice buru buru menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya, begitu Willy mengancam akan menciumnya lagi.
"Dan ingat no pacaran, kamu disini cuma untuk belajar ingat itu."
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab dan semoga bisa nambah up 1 bab lagi ya gaes dan semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian tentunya gaes.
Dan semoga outhor bisa up 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1