Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong

Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong
*"Perdebatan Mesra Ice & Willy"


__ADS_3

Semua pikiran pikiran negatif mulai bermunculan di kepalanya, Willy bahkan membayangkan saat dirinya telah menikah dengan Ice lalu tak bisa melakukan malam pertama bahkan malam keseribunya karena burungnya yang sekarang tak bisa bersiul.


"Ahhh.... gue gak mau hidup seperti kasim, Dokter tolong saya, atau saya akan buat anda kehilangan ijin praktek jika tidak bisa membuat bangun burung saya lagi."


Teriak Willy sambil menarik kerah baju Dokter muda itu, seperti orang stress dadakan begitu membayangkan semua hal tadi.


"Tenanglah Tuan, Tuan hanya harus berobat dan konsultasi kepada Dokter Spesialis Andrologi agar mendapatkan pengobatan juga terapi yang tepat."


Ucap Dokter muda itu berusaha menenangkan Willy.


Sekejap Willy tersadar dengan tingkah absurd-nya dan segera melepaskan cengkramannya dari kerah baju sang Dokter.


"Maaf Dokter, saya tadi sedikit panik dengan kondisi aset saya yang tak baik baik saja ini."


Ucap Willy meminta maaf pada Dokter muda itu.


"Iya Tuan tidak apa-apa, saya bisa mengerti kok keadaan trauma yang terjadi pada Tuan."


"Baiklah saya pamit kembali ke klinik dulu, saya sarankan agar Tuan jangan berputus asa apalagi sampe berniat untuk bunuh diri."


Pesan sang Dokter saat berpamitan.


Mendengar pesan yang diucapkan oleh sang Dokter, membuat Willy kembali membayangkan dirinya yang menjadi berputus asa karena tak bisa memberikan nafkah batin kepada Ice setelah mereka menikah, lalu dirinya yang frustasi nekat membunuh dirinya sendiri dengan menggantung dirinya didahan pohon cersen di halaman rumah sang Mommy.


"Huwaaaa.... Ice..... pokoknya lo harus tanggung jawab !"


Teriak Willy yang beneran mirip orang stress dadakan itu, membuat Ice yang memang sedang berjalan mendekat kearahnya refleks menampar wajah Willy untuk menyadarkannya.


"Plakkk.... sadar Om !"


Willy yang berteriak-teriak histeris otomatis langsung terdiam begitu mendapatkan satu tamparan yang cukup keras di pipinya dari Ice yang mengira Willy kesurupan setelah pulang dari sawah tadi.


"Tega bener kamu Ce... setelah membuat aset masa depan kita sekarat, sekarang kamu nabok muka gue yang masih pada biru sisa sparing sama Fathir semalam."


Ucap Willy sambil memegang pipi kirinya yang terasa panas dengan cap lima jari disana.


"Om juga sih teriak teriak dah mirip orang stress beneran, Ice kira Om kesurupan demit penunggu sawah, secara Om tadi habis nyusulin Ice kesawah kan."


Kata Ice masih dengan mode juteknya.

__ADS_1


"Ce.... kali ini kamu gak akan bisa nolak lagi, kamu harus ikutan pulang, nih masa depan kita sedang sekarat dan harus segera diterapi !"


"Ya udah Om pulang sendiri aja, kalo harus terapi juga kan Om bisa minta tolong mamanya si kembar untuk jadi terapisnya."


Ucap Ice sambil melenggang hendak keluar meninggalkan si Om, tapi tangan si Om langsung menarik tangan Ice hingga membuat Ice jatuh dalam pelukan Willy.


"Entah harus bagaimana menjelaskannya ke kamu Ce, semua yang kamu pikirkan itu salah tidak ada yang benar."


Bisik Willy di telinga Ice sehingga hembusan nafasnya tepat mengenai tengkuknya dan membuat Ice merinding lalu berusaha menjauhkan dirinya dengan mendorong dada Willy.


Tapi ternyata tenaganya tak cukup kuat hingga Ice sempat berpikir untuk kembali melakukan aksi yang sama seperti sebelumnya.


Saat lututnya sudah siap beraksi, mendadak kesadaran Ice datang membuatnya mengurungkan niatnya.


"Sial hampir aja kelepasan mukul tuh 010 nya si Om lagi, bisa mati beneran burungnya."


Batin Ice merasa lucu sendiri tapi juga kasihan dengan keadaan aset si Om yang katanya sedang sekarat.


"Lepasin Om ! atau mau tuh burung mati beneran !?"


Gertak Ice agar Willy melepaskan dirinya dari pelukannya.


Sahut Willy menggoda Ice sambil menoel hidungnya Ice sebelum beneran Ice membuat burungnya mati untuk seterusnya.


"Gak usah imut sok manis ya Om !"


"Tapi gue tetep mau kamu ikut gue pulang ke Jakarta, gue akan kasusin ini burung gue yang jadi sekarat karena kamu Ce."


Ancam Willy dengan ekspresi serius.


"Om gak bisa gitu dong, seenaknya aja mau menjarain Ice cuma karena burung yang sekarat, siapa tau kalo benernya tuh burung memang sudah pingsan dari dulu."


Ucap Ice dengan kata-kata yang cukup membuat Willy ingin teriak.


"Sialan lo Ce, lo kira kalo gue emang lemah syahwat ya, pokoknya lo harus ikut gue pulang kalo g mau dipenjara atau lo bayar ganti untungnya sebanyak seratus miliar."


Ancam Willy yang menjadi emosi setelah Ice mengatainya lemah syahwat walau tak langsung mengucapkan kata itu.


"Gak mau, pokoknya Ice gak mau ! titik ! terserah Om mau masukin Ice kepenjara juga gakpapa, pokoknya Ice sudah gak mau berurusan sama Om lagi."

__ADS_1


Tolak Ice yang tak kalah garang dari Willy.


Saat keduanya terus berdebat, tak satupun dari mereka menyadari jika mereka berdua sudah menjadi tontonan umum, baik pegawai toko bunganya juga para pengunjung ingin membeli bunga terperangah melihat tingkah keduanya.


Bahkan Fathir yang hadir disana untuk menyerahkan hasil penghitungan penjualan selama tiga hari di tinggal Ice kemarin, menjadi ikut terperangah oleh drama perdebatan Ice dan Willy.


"Ehem ehemmm....."


Willy dan Ice mulai menoleh kearah suara deheman, dan begitu kaget juga malu begitu melihat banyak orang menonton perdebatan mereka berdua.


"Udah bubar bubar ya, semuanya silahkan kembali ke aktivitas masing-masing."


Kata Fathir yang membubarkan kerumunan massa.


"Kalian ini pasangan yang uniqe seolah suka banget jadi bahan tontonan orang."


Ucap Fathir sambil meletakkan buku yang berisi hasil penjualan toko bunga Ice.


"Jadi gimana Ce, apa kamu setuju untuk ikutan pulang ke Jakarta? gue gak akan ngelarang kalo kamu memang ingin ikut pulang Willy ke Jakarta, toko ini nanti biar gue yang bantu urus."


Ucap Fathir dengan tatapan serius kearah Ice, walau mulutnya berkata seolah rela melepaskan Ice, tapi hatinya yang terdalam berharap agar Ice tetap tinggal disini.


"Iya Ice akan ikut gue balik ke jakarta."


Sahut Willy seolah dirinya mewakili Ice menjawab kata kata Fathir.


"Gak, Ice akan tetap disini dan silahkan Om pulang sendiri, gak perlu merayu rayu Ice lagi untuk pulang ke Jakarta."


Jawab Ice mematahkan kata kata Willy.


"Dan seandainya Ice harus kembali, itu juga tidak sekarang, Ice mau lihat bagaimana perjuangan kamu Om, tapi sepertinya gak mungkin karena kamu sudah berkeluarga."


Batin Ice bermonolog sendiri.


*Selamat membaca para readers akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab disela sela kesibukan outhor setelah sekian hari absen gak update bab.


Dan semoga outhor bisa kembali up 1ribu kata setiap harinya syukur syukur bisa up 2 bab ya readers.


Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*

__ADS_1


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍


__ADS_2