Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong

Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong
*"Malaikat Pelindung Atau Malaikat Maut"


__ADS_3

Percakapan diantara mereka terus berlanjut sampai tak terasa mobil yang dikendarai Willy membawa mereka kesebuah mansion mewah.


Mansion milik Daddy-nya Willy, saat ini mansion hanya ditunggu oleh beberapa bodyguard yang berjaga di sekitar halaman dan beberapa di sudut terbuka.


Willy membawa kedua bersaudara itu menuju sebuah ruangan tersembunyi yang berisi berbagai teknologi IT mulai dari yang jadul sampai yang tercanggih.


Ruangan yang sebelumnya hanya diketahui Willy dan Daddy-nya yang biasa menggunakannya di saat saat tertentu.


Dan kini Willy membawa kedua bersaudara ini dengan keyakinan penuh bahwa keduanya tipe orang yang loyal pada Tuannya.


Sesampainya di dalam ruang rahasia itu tampak pandangan mata kedua bersaudara itu memperlihatkan ke kaguman dengan seluruh produk berteknologi IT itu.


Willy tersenyum melihat ekspresi keduanya dan tahu jika keduanya sudah tidak sabar untuk segera menggunakannya.


"If both of you are interested, you can use it."


(Jika Anda berdua tertarik, Anda bisa menggunakannya).


Ucap Willy saat melihat kemana pandangan mata kedua bersaudara itu.


"Really sir, we can use all of this?"


(Benarkah Tuan, kita bisa menggunakan semua ini?)


Tanya Alvin seakan tidak percaya saat ini dia sedang berada diruangan yang bisa disebut sebagai surganya para ahli IT.


"Of course, as long as the two of you don't do anything that could put your life in danger."


(Tentu saja, selama kalian berdua tidak melakukan apa pun yang dapat membahayakan nyawamu)


"I can be a guardian angel for both of you, and it can be the other way around, I can be an angel of death for you."


(Aku bisa menjadi malaikat pelindung untuk kalian berdua, dan bisa juga sebaliknya, aku bisa menjadi malaikat maut untukmu)


"So it all comes back to the actions and behavior of both of you."


(Jadi semuanya kembali lagi ke tindakan dan perilaku Anda berdua.)


Ucap Willy dengan nada terdengar mengancam.


Willy berjalan menuju salah satu bangku yang menghadap pada sebuah meja panjang yang terdapat beberapa komputer berjajar di atasnya.


Alvin dan Elvan yang mendengar kata-kata yang di ucapkan Willy tadi menelan ludahnya fengan kasar.

__ADS_1


"Did you hear it earlier Al?"


(Apakah kamu mendengarnya tadi Al?)


Bisik Elvan di telinga Alvin.


"I thought I was the only one feeling it."


(Kupikir hanya aku yang merasakannya.)


Bisik Alvin menyahuti kata kata Elvan tadi.


Beberapa hari kemudian


Hari berganti hari, tidak terasa sudah satu minggu berlalu dengan cepat.


Selama satu minggu ini, semua orang pada sibuk melakukan tugasnya masing-masing.


Willy sendiri datang dan pergi menuju Perusahaan induk untuk menghandle semua urusan disana selama Daddy-nya belum diperbolehkan ulang oleh pihak rumah sakit.


Alvin dan Elvan sendiri sudah mulai melakukan tugasnya, hingga akhirnya dapat mengetahui dengan detail isi dari flashdisk yang hampir membuat mereka terbunuh.


"Everything went according to plan, I've managed to get all the data in this flashdisk."


And I have come to see the Lord myself because I have something important to say."


(Dan saya datang untuk bertemu Tuan sendiri karena saya memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan).


Kata Alvin yang ingin menyampaikan hasil kerjanya bersama Elvan selama beberapa hari ini.


"Good job, you can talk about it later when we all get together."


(Kerja bagus, kamu bisa membicarakannya nanti saat kita semua berkumpul.)


"For now help Jack complete his task, strengthen the company's IT system security network."


(Untuk saat ini bantu Jack menyelesaikan tugasnya, memperkuat jaringan keamanan sistem IT perusahaan).


"So that the leak of the company's IT system like yesterday does not happen again."


(Sehingga kebocoran sistem IT perusahaan seperti kemarin tidak terjadi lagi).


"Ok sir I will gladly do it."

__ADS_1


(Baik Tuan, saya akan dengan senang hati melakukannya).


Alvin kemudian pergi meninggalkan Willy kembali menuju ke ruang kerjanya untuk membantu Jack memperkuat sistem IT keamanan perusahaan dengan pengaman terbaik ciptaannya yang sudah dilengkapi dengan virus yang akan langsung menyerang perangkat asing yang berusaha masuk ke sistem IT perusahaan.


Setelah kepergian Alvin, Willy tersenyum tipis merasa puas dengan kinerja dua bersaudara itu.


Willy lalu berencana pulang, dilihatnya arlojinya menunjukkan jika sebentar lagi waktunya Ice pulang.


Willy memutuskan untuk mampir ke universitas tempat Ice kuliah untuk menjemputnya.


Seperti biasa sesampainya di kampus, Willy masih harus menunggu beberapa saat lagi sampai Ice keluar dari kelasnya dan Willy dengan sabar menunggunya duduk dibangku di bawah pohon tempat dirinya bila sedang menunggu Ice.


Tiba waktunya jam kelas terakhir Ice selesai, dilihatnya Ice sedang berjalan bersama teman temannya satu fakultasnya.


Dan sudah pasti disamping Ice selalu ada Lim bersamanya.


Dan seperti biasa hal itu membuat Willy merasa tidak senang, apalagi Lim selalu saja merangkul pundak Ice yang membuat Willy selalu ingin marah.


Entah kenapa Willy selalu saja emosi setiap kali ada Lim atau pemuda lain yang berada di dekat Ice, dan Willy sendiri juga merasa heran dengan apa yang dirasakannya.


"Ada apa sebenarnya? kenapa aku selalu saja emosi tiap kali melihat Ice dekat dengan pemuda lain, dan kenapa emosiku tak terkendali seperti petasan yang siap meledak jika ada yang menyulutnya."


Batin Willy masih sambil duduk dibawah pohon menanti Ice yang semakin mendekat.


"Hai Om... apakah sudah lama menunggu?"


Tanya Ice basa basi begitu dilihatnya Willy sudah menantinya.


"Iya lumayan lama kurang lebih tiga puluh menit, hey... boy take your hands off the Ice, you've had enough with Ice for today (hey... boy lepaskan tanganmu dari Ice, kamu sudah cukup bersama Ice untuk hari ini)"


Ucap Willy yang jelas tak suka dengan sikap Lim yang selalu mengambil kesempatan untuk pegang pegang Ice, itu yang dipikirkan oleh Willy.


"Om... jangan begitu, ingat kesepakatan kita jangan buat Ice malu lagi."


Kata Ice menegur Willy sambil mencubit lengan Willy, dan tingkahnya itu justru diperhatikan oleh Lim dan sudah pasti membuat si Oppa jealous.


*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab walau kemalaman dan kondisi othor yang belum sehat benar, semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes


Dan semoga outhor bisa up minimal 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.


Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

__ADS_1


__ADS_2