
Waktu tak terasa cepat berlalu, Jai akhirnya mendapatkan kembali semua ingatannya yang pernah hilang, tapi Rani belum juga terbangun dari komanya.
Dengan penus kesabaran Jay selalu menjaga Rani diwaktu luangnya, dan selalu menginap di ruang rawat Rani tapi sekarang Jay lebih bisa menerima kenyataan dan dia akan tidur di brankar tambahan untuk dirinya.
Begitu pula Willy selalu menengok Rani saat pengawal yang ditugaskan menjaga Rani melaporkan kalau Jay sedang tidak menjaga Rani.
Seperti siang ini, Willy mengunjungi Rani disaat on Jay-nya sudah kembali ke kantornya.
Semua diceritakan oleh Willy untuk menghilangkan rasa sepi kepada Rani, dan berharap Rani akan bangun dari komanya.
Tiba-tiba Willy merasa tangannya yang menggenggam tanga Rani merasakan ada gerakan dari tangan yang di genggamnya.
"Sayang tanganmu bergerak, apa kau sudah sadar sayang? apa kau mendengar semua yang aku ceritakan?"
Tanya Willy pada Rani yang masih belum membuka matanya.
"Ada apa dengangku? kenapa aku tak dapat merasakan apapun.,"
Batin Rani yang belum bisa merasakan apapun.
Willy segera menekan tombol emergency, dia sangat berharap agar kali ini Rani benar benar-benar terbangun.
Beberapa Dokter dan perawat mulai berdatangan setelah mendengar suara tombol emergency yang di tekan Willy tadi
"Sayang bila kamu mendengar suaraku, maka
gerakkan tangan mu lagi, aku sangat berharap kamu segera bangun."
Dan seperti yang diharapkan Willy, kembali tangan Rani bergerak merespons kata demi kata yang diucapkan oleh willy.
Akhirnya setelah menanti beberapa saat para Dokter dan perawat mulai sampai di ruang rawat Rani.
Sementara Rani sedang berjuang untuk bisa membuka matanya.
"Iya Kak, aku mendengar suaramu tapi kenapa sulit sekali untuk membuka mata ini"
Keluh Rani sambil berusaha untuk membuka matanya.
Beberapa kali Rani berusaha menggerakkan tubuhnya setelah kesadarannya mulai pulih sedikit demi sedikit.
Rani berusaha untuk menjawab semua yang dikatakan Willy, dan berusaha bangkit tapi jangankan bangun atau duduk, untuk sekedar bersuara dan menggerakkan bagian tubuhnya pun dia merasa sangat berat sekali.
__ADS_1
Dia bahkan tidak dapat merasakan anggota tubuhnya, bahkan matapun terasa berat untuk terbuka.
"Oh Tuhan apa sebenarnya yang terjadi, aku masih ingat terakhir mobil yang dikendarai Mas Jay....., oh.... bagaimana keadaan mas Jay sekarang? semoga dia baik-baik saja, kenapa..... mata ini pun tidak mau terbuka"
Rani terus berusaha mendapat kesadarannya sepenuhnya dan berusaha untuk bisa mengendalikan tubuhnya, hingga akhirnya dia mampu menggerakkan tangannya yang mengakibatkan tiang infusnya terjatuh dan darah keluar dari jarum infusnya karena terta-rik saat tiang infus terjatuh tadi.
Beberapa Dokter senior juga Dokter kepala semua datang berkumpul diruang rawat Rani segera melakukan tindakan saat melihat ada respons dari pasien.
Mereka melakukan beberapa observasi untuk mendapatkan hasil yang meyakinkan kalau pasien dalam keadaan menuju sadar dan beberapa sensoriknya dapat menerima rangsangan.
Setelah dilakukan beberapa observasi dan pasien positif menunjukkan beberapa tanda tanda menunjukkan kesadarannya mulai pulih dan beberapa sensorik memberikan respon.
Akhirnya dilakukan beberapa tindakan medis untuk membantu pasien mempermudah mendapatkan kembali kendali atas tubuhnya.
Dan akhirnya menampakkan hasilnya,
mata Rani mulai bergetar berkedip kedip sebelum akhirnya benar benar membuka matanya.
Yang tampak oleh Rani pertama kali saat membuka matanya adalah merasa silau seolah ada cahaya lampu langsung disorotkan ke bola matanya saat mulai bisa melihat.
Secara refleks Rani langsung menutup matanya kembali kemudian berkedip kedip sebelum akhirnya membuka matanya lagi barulah Rani berusaha membiasakan matanya dengan cahaya ruangan disekitarnya.
Dan seorang Dokter mulai menyapa dirinya.
"Selamat kembali nyonya Rani..... apa yang anda lihat dan rasakan saat ini???"
tanya salah satu Dokter dengan tersenyum ramah.Tapi yang pertama keluar dari mulut Jay bukan jawaban untuk pertanyaan Dokter tadi, Jay justru mengucapkan kata...
"Haus...ambilkan air aku ingin minum"
suaranya masih terdengar lemah tapi membuat Willy dan semua Dokter tersenyum lega.
Seorang perawat buru buru memberikan satu cup air mineral kemasan, dan Rani menggerakkan lengan tangannya untuk menerima walau terkesan gerakannya lamban juga sangat lemah tapi dia berhasil mengerakkan tangannya dan menggenggamnya lalu mulai meminum air mineralnya.
Semua Dokter yang memperhatikannya pun kembali menarik nafas lega dan tersenyum seolah semua gerakan yang dilakukan Rani sudah menggangkat batu yang mengganjal menjadi beban dihati semua Dokter yang menyaksikannya saat ini.
"Ah syukur Alhamdulillah akhirnya Nyonya Rani sudah kembali dan semoga kedepannya bisa cepat pulih seperti sediakala."
Suara seorang Dokter mewakili yang lainnya memecahkan keheningan dan ketegangan sejak awak Rani mulai kembali sadar.
"Hmm.... Terimakasih, tapi tolong ceritakan dimana suami saya?.., apa yang sudah terjadi dengan saya dan suami saya???"
__ADS_1
Semua yang dilihat Rani sejak membuka matanya membuatnya memiliki banyak pertanyaan untuk dijawab.
"Apa anda masih ingat telah mengalami kecelakaan?"
tanya sang Dokter sambil tersenyum.
"Iya saya masih ingat beberapa mobil mengejar mobil yang dikendarai oleh suami dan saya, sehingga kecelakaan itu terjadi."
kata Willy sambil memegangi kepalanya yang masih terasa sakit saat berusaha mengingat kejadian yang telah di alaminya.
"Dan sebaiknya nyonya istirahat dulu lagi, dan tentang kecelakaan yang anda alami tunggulah sampai anda benar benar pulih dan sehat, baru anda ceritakan pada keluarga anda Nyonya Rani"
Dokter segera memberikan suntikan pereda nyeri sambil menjawab beberapa pertanyaan Rani.
"Baiklah, karena keluarga saya sudah ada di sini, maka tidak perlu memberitahu tentang keadaan saya saat ini yang telah sadar?"
Kata Rani yang lebih tepatnya mengingatkan agar pihak Rumah Sakit tidak perlu repot-repot menyampaikan kabar tentang dirinya yang telah sadar.
"Iya nyonya, saya mewakili pihak Rumah Sakit juga minta maaf."
Jawab Dokter yang lain sambil menulis laporan medis terkait perkembangan kesehatan Rani yang mulai sadar.
"Kenapa suami saya tidak ada disini? dan kenapa justru Willy yang ada saat ini???"
Tanya Rani yang tampak curiga dengan jawaban Dokter tadi.
Rani yang merasa janggal dengan jawaban Dokter itupun hanya diam memendam tanda tanya dipikirannya.
Rani yang merasa janggal dengan jawaban Dokter itupun hanya diam memendam tanda tanya dipikirannya.
"Ya sudahlah, nanti aku bisa tanyakan kepada Willy"
Batin Rani sambil berusaha menyamankan posisi tubuhnya yang mulai terasa linu semua.
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab walau kemalaman juga ketiduran dan semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes
Dan semoga outhor bisa up minimal 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1