
Sesampainya di rumah Pak Amat, hari masih cukup terang.
Kebetulan saat Ice dan Nurul sampai di rumah, Pak Amat juga sudah ada dirumah.
Setelah mandi dan terasa lebih segar, sebelum masuk sholat mahgrib, Ice menguatkan hatinya untuk menyampaikan niatnya pada Pak Amat.
"Pak... ada waktu gak? Ice mau bicara sebentar Pak."
Ucap Ice membuka percakapan dengan Pak Amat.
Nurul yang sudah lebih dulu tahu bahwa yang akan dibicarakan Ice perihal keinginan Ice untuk pindah kota, hanya diam menyimak percakapan Ice dan Bapaknya.
"Iya neng, silahkan neng Ice mau bicara apa?"
Ucap Pak Amat menyahuti kata kata Ice.
"Ehmm... begini Pak, sebelumnya Ice ucapkan terima kasih banyak karena Bapak Ibu dan dek Nurul sudah mau menerima dan menampung Ice selama ini, Ice juga minta maaf bila selama tinggal disini Ice banyak salah banyak khilaf."
Ucap Ice sambil menunduk tak ingin memperlihatkan kesedihannya.
"Neng Ice ini bicara apa sih? selama ini Bapak sekeluarga tulus menganggap neng Ice sebagai anak sendiri, terus ini neng Ice bicara seperti ini ada apa sebenarnya?"
Ucap Pak Amat yang mulai merasakan ada hal yang tidak baik yang ingin disampaikan oleh Ice.
"Ehmm... itu... Pak... sebenarnya Ice berencana untuk pindah ke kota kecil, Ice merasa di Jakarta bukan tempat yang baik untuk Ice, menurut Pak Amat bagaimana?"
"Bapak gak punya hak untuk melarang kamu neng, Bapak yakin neng Ice sudah memikirkan semuanya dengan baik baik, pesan Bapak neng Ice pinter pinter bawak diri dimanapun berada, dan ingatlah disini ada Bapak Ibu dan Nurul yang akan selalu menerima neng Ice kapanpun."
"Terimakasih banyak Pak."
Ucap Ice sambil menyentuh tangan Pak Amat dan mencium punggung tangannya layaknya seorang anak kepada orang tuanya.
__ADS_1
"Apa neng Ice sudah punya rencana mau ke kota mana?"
"Belum Pak, rencananya saya mungkin akan pergi ke kota kecil atau pedesaan, saya ingin menepi dari hiruk pikuk kehidupan kota Pak."
"Hemmm... ya... ya.... ya.... Bapak hanya bisa mendoakan semoga neng Ice mendapatkan apa yang neng Ice inginkan, Bapak akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk neng Ice."
Ucap Pak Amat sambil mengusap rambut kepala Ice layaknya seorang Bapak ke anaknya.
"Ibu akan sangat merindukan eneng nantinya, Nurul juga pasti jadi kesepian lagi, apa tidak terlalu terburu-buru eneng memutuskan pergi dari sini?"
Ucap Bu Lastri istri Pak Amat, agar Ice kembali memikirkan keputusannya yang ingin pergi.
"Maaf Bu, tapi Ice sudah memikirkannya dan Ice pikir saat ini pergi dari kota ini adalah pilihan terbaik untuk Ice."
"Ya udah sekarang kita sholat mahgrib berjamaah dulu, lalu berdo'a bersama memohon yang terbaik pada Gusti Allah."
Ucap Pak Amat mengajak semuanya untuk sholat mahgrib berjamaah.
Willy mulai memindahkan sikembar satu persatu ke kamarnya, selama perjalanan pulang kedua bocah kembar itu tertidur pulas di bangku belakang karena kelelahan bermain di pantai Carita.
Setelah memastikan kedua bocah kembar itu benar-benar terlelap, Willy mulai masuk kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang seharian ini sudah sangat terasa lengket.
Setelah selesai mandi, Willy kembali mengenang saat-saat pertama bertemu dengan Ice, gadis kecil yang dengan gesitnya menjatuhkan beberapa lelaki yang berniat jahat padanya karena ulah pamannya yang terlilit hutang judi, dan dengan teganya menjadikan Ice sebagai alat untuk melunasi hutang hutangnya.
Willy juga mengingat bagaimana Ice yang harus merubah tampilan agar tidak dikenal oleh orang yang mengejar dan menargetkannya.
Hingga saat Willy yang selalu cemburu bila Ice sedang berdekatan dengan Oppa Lim mahasiswa yang menjadi temen Ice waktu kuliah.
Juga tingkah konyol Ice saat mereka berdua sedang bertengkar, Willy juga ingat bagaimana Ice berjoget dengan telinga menggunakan hadset dan alat pel yang asal lempar hingga hampir mengenai mukanya Willy.
Juga kenangan saat Ice mabuk dan mengucapkan banyak hal konyol dan memuntahi-nya, bagaimana Ice mengatainnya impoten dan laki laki yang kejam dan jahat.
__ADS_1
Willy juga mengingat bagaimana dia mencuri ciuman pertamanya Ice dan pertama kalinya berjanji akan menikahi Ice, mengingat semua itu kembali membuat Willy merasakan sesak dan kecewa pada dirinya sendiri.
Willy merasa dirinya tak lebih seperti seorang ba*in*an yang hanya memberikan harapan harapan palsu dan tak bertanggung jawab.
"Gue bener bener ba*ji*an, laki-laki model apa gue ini yang tak bisa menepati janji dan kata katanya sendiri."
"Ce... maafin gue !, mulai besok gue akan berusaha untuk bisa dapetin kamu lagi, kali ini gue akan perjuangin perasaan cinta gue ke kamu apapun yang terjadi."
Ucap Willy dengan yakin, tapi sayang tanpa sepengetahuan Willy mulai esok Ice akan pergi jauh untuk menjauh darinya.
Entahlah apakah Willy bisa memegang janjinya kali ini atau lagi lagi hanya kosong doang, Dan apakah Willy akan berjuang untuk mendapatkan cintanya lagi dan seberapa besar tekad Willy untuk kembali mendapatkan Ice.
Tak terasa Willy telah tertidur saat satu demi satu kenangannya bersama dengan Ice kembali berputar seperti kaset video.
Pagi harinya Ice telah mengemasi semua pakaiannya dan beberapa barang pribadinya, Ice juga sudah mengirimkan surat pengunduran diri sebagai dosen di kelas bisnis.
Tak lagi menunggu jawaban atas pengundurannya dirinya, Ice sudah mengendarai mobilnya menuju luar kota Jakarta, setelah berpamitan pada keluarga Pak Amat, dan memberikan notebook miliknya untuk Nurul sebagai kenang-kenangan karena tak sempat memberikan yang baru.
Ice juga meninggalkan amplop di kamar yang pernah dipakainya dan berisi uang dengan jumlah yang cukup banyak sebagai ungkapan rasa syukur dan Terimakasihnya atas kebaikan keluarga Pak Amat.
Ice memutuskan menjual mobilnya lebih dulu ke sebuah dealer, karena dia memilih untuk naik kendaraan umum menuju luar kota. Selain tidak lelah karena tak perlu menyopir sendiri juga tak perlu khawatir akan terdeteksi keberadaannya oleh Willy.
Selain ingin menghindari Willy, Ice juga ingin menghindari Andy yang sebelumnya tanpa sengaja Ice pernah mendengar jika tujuan Andy mendekati dirinya hanya untuk sebuah taruhan, awalnya Ice ingin langsung marah pada Andy, tapi akal sehatnya menyadarkan jika dirinya dan Andy tak pernah ada kesempatan apapun.
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab walau kembali kemalaman dan kondisi othor yang belum sehat benar juga harus menjaga anak yang sedang sakit, semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes
Dan semoga outhor bisa up minimal 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1