
"Eits asal main pamit wae, ini istrimu mau belanja sudah kamu kasih biaya hidup belum?"
tanya mami-nya Willy dengan intonasi agak tinggi kalo kita bilang ngegas karena agak ilfeel.
"U..udah mbak tadi mas Jay udah ngasih kok uang untuk balanja"
bukan jay yang menjawab tapi Rani yang Langsung menjawabnya dengan tak enak hati.
"hem...kau diam dulu Rani, biar mbak kasih pelajaran dulu untuk laki-laki tidak peka seperti ini"
sahut mami-nya Willy sambil tanganya sudah beraksi menjewer telinga adiknya itu.
"Katakan berapa duit yang kamu berikan pada istrimu jay"
tanya mami-nya Willy lagi dengan tangan masih menjewer telinga jay.
"Ampun...mbak...ampun..., lepasin dulu tangan mbak dari telinga-ku ini sakit...."
"Sudah ni sekarang cepat katakan"
"Sesuai yang istriku mintalah mbak"
jawab jay tanpa merasa bersalah sambil mengusap telinganya yang terasa panas.
"Apa kau tidak memberikan kartu debit untuk kalo dia ingin belanja di toko?"
tanya mami-nya Willy dengan kesal begitu tau kebodohan adiknya itu.
"eh..itu maaf he...he...karena dia gak pernah berbelanja ke toko jadinya aku juga lupa mbak"
jawab jay sambil cengar-cengir begitu mulai menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Tapi jangan marah lagi, ini ini dan ini ambillah sayang kau boleh berbelanja sepuasmu dengan mbak ku ini"
kata jay kemudian sambil memberikan tiga kartu debit kepada Rani istrinya.
Willy hanya duduk menjadi penonton dari drama mami-nya dengan sepasang suami istri itu dengan bosan.
"Ya sudah sana pergi, kau mengganggu suasana hatiku saja jay"
gerutu mami-nya Willy sambil mengibaskan tangan kode menyuruh jay agar cepat pergi.
"Ya sudah aku berangkat kerja dulu, Will apa kau tidak berangkat ke kantor? atau kau sudah mendapat mandat sebagai bodyguard mami-mu ini"
tanya jay pada Willy dengan tertawa mengejek sambil berlalu.
"Oh tidak, mami jadi khilaf lupa gara gara Om Jay mu yang bodoh itu"
teriak histeris mami-nya Willy tiba tiba.
seru mami-nya Willy pada Rani.
"eh.... tapi mbak, aku kan gak perlu ikut"
jawab Rani bingung
"Mana bisa begitu, kau akan berbelanja jadi biarkan kita berangkat bersama"
"gak usah mbak Terimakasih, aku bisa belanja di warung dekat sini aja"
tolak Rani takut takut kakak iparnya marah kalo dia tolak ajakannya.
"Sudah kamu nurut aja, cepetan sana ganti baju"
__ADS_1
kata mami-nya Willy gak mau dibantah sambil mendorong Rani menuju kamar agar cepat berganti baju.
Tak butuh waktu lama Rani keluar kamar dengan penampilan yang lebih pantas dan cantik tentunya, membuat Willy tak berkedip melihatnya.
"Oh...hatiku rasanya masih tidak rela melepaskanmu menjadi milik Om Jay"
keluh Willy dalam hati.
"Nah ginikan cantik, ayo kita berangkat sekarang"
ajak mami-nya Willy sambil menggandeng tangan Rani menuju mobil Willy.
Willy hanya mengikuti dari belakang mengawal keduanya sampai mereka memasuki mobil dan Willy segera mengemudikan mobilnya.
"Kita kemana mam?"
"Antar mami ke cafe xx, sudah itu kamu antar dan temani istri Om Jay mu ini ke supermarket"
jawab mami-nya Willy tanpa rasa bersalah dan tanpa menyadari yang bersangkutan setujuh apa enggak.
Rani yang tidak fokus dengan susunan rencana kakak iparnya hanya diam saja.
Berbeda dengan Willy yang membulatkan matanya saat mendengar pengaturan dari mami-nya.
"Oh mam...aku tidak tahu apakah ini keberuntungannya untuk-ku atau kah cobaan, aku bahkan tidak tahu apa harus tertawa bahagia atau bersedih dengan keadaan ini"
batin Willy sambil membuang nafasnya kasar.
*bonus up gaes, jangan lupa dukungannya tinggalkan jejakmu like rate vote dan coment 👍😘.
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1