
Willy yang sebenarnya sudah sadar sejak diperiksa Dokter setelah dari ruang Rontgen tadi, dan masih berpura pura pingsan bisa melihat dan mendengar interaksi Ice dan Fathir.
Setelah kepergian Fathir, Ice duduk dibangku disamping brankar pasien tepat Willy tertidur saat ini.
"Om maafin Ice ya, Om jadi begini karena Ice, Cepat sembuh ya Om dan semoga burung kamu gak apa-apa Om."
Ucap Ice sambil jari jari tangannya jail bermain di wajah Willy.
Ice memainkan jarinya mengukir dari hidung Willy yang tinggi seperti perosotan anak TK turun ke bibir Willy, tapi setelah itu karena gemas atau entah kenapa, Ice justru menarik kumis Willy yang tampak tak terurus.
Willy yang menahan senyum dan gemas ingin menggigit tangan Ice awalnya jadi menjerit kesakitan saat kumisnya ditarik Ice.
"Auwww.... auwww.... sakit Ce!"
Jerit kesakitan Willy saat kumis kucingnya ditarik oleh Ice yang mendadak kumat jahilnya.
"Wah ternyata muzarab bener nih resep Mak Rumpit, sekali tarik langsung bisa buat Om sadar dari pingsan wkwkwkk."
Ice yang sudah menduga jikalau sebenarnya Willy telah tersadar dan saat ini hanya berpura-pura masih tak sadarkan diri itupun dengan jahil menarik kumis kucing Willy.
"Ya ampun kok kamu tega banget sih sama gue Ce?, padahal gue tuh cinta mati sama kamu, sampe rela burung gue sekarat hanya untuk dapetin kamu loh sayank."
"Kalo itumah salah Om sendiri asal main peluk cium, emangnya Ice ini apaan?"
Ice yang masih kesal tiap kali mengingat Willy yang asal main peluk padahal sudah punya anak istri selalu membuat Ice emosi.
"Yank dekat sini dikit dong, bantuin gue mau ke toilet bentar, sudah gak tahan ini."
Tak ingin menanggapi omelan Ice, Willy malah minta tolong Ice untuk membantunya berangkat ke toilet.
Walau tak pernah bisa membuang rasa jengkelnya pada Willy, tapi rasa cinta dan sayangnya pada tak pernah berkurang.
Dengan bibir mengerucut layaknya kalau cewek sedang ngambek, Ice mendekat ke Willy dan membantunya bangun dari posisi rebahannya tadi agar memudahkan Willy untuk turun dari brankarnya.
Willy yang merasa gemas melihat bibir Ice memanjang itupun kembali berulah, saat Ice merangkul tubuh Willy hendak membantunya duduk, saat itu juga Willy menggunakan kesempatan untuk kembali memeluk Ice.
Tubuh Ice yang tak siap atas perilaku Willy itupun membuatnya justru terjatuh diatas dada Willy dengan posisi dalam pelukan Willy.
__ADS_1
"Aaahhhh..... mmmmmm...."
Teriakan kaget Ice itupun segera dibungkam oleh bibir Willy yang sudah sangat merindukannya.
Sejenak Ice terlena tapi itu hanya sekejap, setelah itu Ice kembali teringat jika Willy sudah memiliki anak dan istri, saat itu juga Ice menarik kepalanya kebelakang melepaska tautan bibir mereka dan mengurai menjauhkan dirinya dari pelukan Willy.
"Om tolong jangan begini lagi.... Ice tak mau jadi orang ke tiga perusak rumah tangga orang lain tidak juga rumah tangga kamu Om."
Ucap Ice dengan air mata yang mulai menggenang siap meluncur turun.
Willy yang melihat bagaimana mata Ice yang mulai berkaca-kaca itupun tak kuasa lagi ingin mengatakan segalanya.
"Kamu salah menduga Ce, mereka....."
"Ce... ini makan dulu !"
Belum selesai Willy mengatakan apa yang ingin dikatakannya, suara Fathir sudah lebih dulu terdengar sementara orangnya bahkan belum nampak di depan pintu.
Willy kembali mengurungkan rencananya untuk mengatakan semua kebenaran dan salah paham diantara dirinya dan Ice.
Ice sudah kembali berdiri menjauh dari Willy begitu mendengar suara Fathir tadi, Ice segera menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya dan berusaha untuk terlihat baik baik saja.
Beberapa kali Ice menengadahkan wajahnya keatas sambil mengerjapkan matanya agar tidak menangis.
Fathir segera meletakkan semua belanjaannya di atas meja, lalu membantu Willy untuk duduk dan bersandar agar dapat makan sendiri.
"Duduklah yang nyaman, kita makan dulu."
Ucap Fathir sembari menolong Willy.
"Tapi gue belum mencuci tangan, dan gue juga mau ke toilet dulu."
Jawab Willy, sementara Ice mulai menempatkan bungkusan nasi kepiring melamin yang sempat di beli oleh Fathir.
"Baiklah gue bantu, ayo pelan pelan."
Fathir dengan sabar membantu Willy turun dari brankarnya dan membawakan kantong infusnya.
__ADS_1
Selesai menuntaskan hajatnya juga telah bercuci tangan, Willy di bantu Fathir kembali ke atas brankarnya, dan duduk untuk makan.
Ketiganya makan tanpa ada satu percakapan pun, bukan hanya karena Willy yang sedang sakit burungnya, tapi juga Ice yang sedang tak baik emosinya dan Fathir yang merasa tak enak hatinya karena harus mencintai wanita milik sahabatnya.
Selesai menghabiskan makannya, Fathir pamit pulang dulu sementara Ice di minta Fathir untuk stay di Rumah Sakit menjaga Willy selama dalam masa pengobatan dan perawatan pada burungnya yang cedera.
"Bro gue balik dulu ya, gue juga sudah ngabarin Kaizar keadaan lo disini, mungkin nanti malam baru gue kesini lagi."
"Ce... gue balik ya, jangan khawatir nanti gue bawain pakaian ganti untuk kamu."
Kata Fathir tanpa merasa bersalah, gak nyadar kalo itu membuat pipi Ice merona malu.
Pakaian ganti ini banyak loh bukan hanya pakaian luar aja tapi juga termasuk dalamnya, dan ternyata itu gak terpikirkan oleh Fathir, entah bagaimana Fathir menyelesaikan misi pakaian ganti untuk Ice ini wkwkwkk.
Willy yang mendengar kata-kata Fathir tentang pakaian ganti Ice aja menjadi memiliki banyak asumsi miring tentang hubungan keduanya.
"Apakah mereka sudah sedekat itu? sampai Fathir berhak atas pakaian Ice."
Banyak pertanyaan sekitar hubungan Ice dan Fathir selama beberapa bulan bersama itupun mulai menghantui Willy.
Willy pun menjadi tidak tenang sehingga rasa sakit pada bagian vitalnya itupun terasa sangat menyiksa baginya, dan emosinya menjadi tidak terkontrol dengan baik.
Selepas kepergian Fathir, Willy jadi uring uringan minta ini itu tapi apapun yang dilakuin Ice untuk menuruti semua tetaplah salah baginya.
"Ce buruan bantuin gue bangun, gue mau mandi, kamu kenapa sih Ce lambat banget? bantuin gue bukain nih baju, celana panjang gue juga bukain, kenapa gak mau?"
Ice yang merasa semua keadaan Willy saat ini disebabkan oleh dirinya pun hanya diam menuruti semua maunya Willy.
Segala macam dijadikan Willy alasan untuknya meluapkan amarah kekesalan hatinya karena cemburu buta.
*Selamat membaca para readers akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab disela sela kesibukan outhor setelah sekian hari absen gak update bab.
Dan semoga outhor bisa kembali up 1ribu kata setiap harinya syukur syukur bisa up 2 bab ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1