
Ice acuh tak acuh saat banyak mata memandangnya dengan sinis dan melirik jijik saat melihat bajunya yang basah dan kotor.
"Terserahlah apa yang kalian pikirkan, toh memang keadaanku saat ini sudah jadi begini jadi mau bilang apa lagi."
Gerutu Ice sambil melangkahkan kakinya hendak memasuki lift.
"Jangan macuk! jijik Mika gak mau."
Seru seorang gadis kecil berambut ikal yang tak mau saat Ice hendak ikutan masuk lift.
Ice menoleh, melihat anak kecil yang sedang di gandeng oleh bibi asuhnya.
"Adik kecil panggil saya?"
Ice menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk yang yang ditujukan ke hidungnya.
Gadis kecil itu mengangguk dengan memandang jijik pada Ice yang kotor pakaiannya.
"Jangan macuk ke lift, baju kotol gitu, Mika gak cuka liat olang kotol, jolok!"
Seru gadis kecil itu.
"Maaf nona, bisakah anda keluar dari lift ini, anak majikan saya alergi tidak tahan pada debu dan kotoran."
Saat Ice hendak bersuara merayunya tiba-tiba gadis kecil itu bersin bersin.
"Hatchi.... hatchi.... "
Gadis kecil itu bersin bersin saat Ice hendak memaksa ikut masuk ke dalam lift.
"Cuma sebentar kok, aku sedang buru buru, boleh ya adik cantik!"
Karena Ice sudah satu jam lebih keluar, makanya Willy sudah mulai menghubunginya berkali-kali.
Tapi gadis kecil itu terus saja bersih bersin, membuat Ice tak tega dan memilih mengalah.
"Ya sudah deh, maaf ya gadis kecil."
Mulutnya Ice manis, tapi tetep aja tuh Ice sedikit melotot kesal ke gadis kecil itu.
Membuat gadis kecil itu menciut dan bersembunyi di belakang tubuh bibi asuhnya.
"Ajumma celem tatut, kayak momok."
Ucap gadis kecil itu sambil menarik bibi asuhnya agar segera menekan tombol lantai yang ditujuh.
Ice yang masa bodoh memilih naik ke lantai paling atas tempat ruangan kerja Willy dengan menaiki tangga darurat, dirasakannya lebih aman dari bertemu orang orang yang mungkin akan merasa jijik dengan penampilannya yang berantakan saat ini seperti gadis kecil yang misophobia tadi.
"Sialan tajam sekali mulut anak kecil itu tadi."
__ADS_1
Gerutu Ice yang mulai menaiki anak tangga satu demi satu, dengan kakinya yang mulai terasa semakin sakit karena terkilir saat terpeleset di pasar sebelumnya.
"Memangnya muka ku sudah kelihatan tua apa? bisa bisanya gadis kecil misophobia itu memanggilku ajumma, hello.... umurku baru 21 tahun, benar benar penghinaan."
Ice yang sudah dalam keadaan tidak baik-baik saja semakin tak stop ngomelnya sepanjang naik tangga dirasakannya kakinya semakin sakit.
Ice menyeret kakinya memasuki ruang kerja Willy, bengkak di luka terkilirnya semakin tampak membengkak karena di paksakan untuk berjalan apalagi menaiki ribuan anak tangga menuju lantai paling atas tadi.
"Fiuhh.... hah... sepi syukurlah."
Ice menghembuskan nafasnya lega saat membuka pintu ruang kerja Willy lalu melongokkan kepalanya kedalam mengedarkan pandangannya.
Ruang kerja Willy saat ini sedang sepi, tidak ada Willy atau siapapun dalam ruangan ini.
"Aku harus buru buru ganti baju, dan sebaiknya segera kabur setelah ini sebelum Om Willy datang."
Gemetar gemetar takut, dengan buru buru Ice mengobrak abrik kopernya..
Ice segera mengganti blouse dan rok span nya yang kotor dengan celana jeans tiga per empat dan saat akan memakai kaos putih tipis yang biasanya dia pakai untuk olahraga tiba-tiba pintu ruang kerja Willy terbuka membuat kaos yang akan dipakainya pun terjatuh ke lantai karena gugup.
"Apa yang kau lakukan?"
Tegur Willy saat melihat Ice yang hanya mengenakan bra.
"Aaakhhh..."
Ice menjerit kaget dan langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang hanya tertutup kacamata hitam.
Tutur Ice terbata bata dengan pandangan menunduk malu juga takut pada Willy.
"Cepat pakai bajumu!"
Bentak Willy sambil memalingkan wajahnya malu malu.
Gak nyangka mantan cassanova sekelas Willy masih bisa malu saat melihat pemandangan live Ice berganti baju.
Buru buru Ice memungut kaos yang sempat terjatuh di samping kakinya segera memakainya dengan tergesa-gesa.
Secepat kilat Ice sudah memakai kaosnya dalam waktu singkat.
"Sudah Tuan, anda sudah bisa berbalik badan."
Willy berbalik dengan ekspresi murka tapi juga merona.
"Apa kau itu bodoh? kau tak melihatkah disana ada kamar mandi?"
Willy menunjuk kearah kamar mandi yang terletak di pojok kiri ruang kerjanya.
"Maaf Tuan, saya buru buru ganti baju sebelum anda masuk karena baju saya tadi kotor, sampe lupa mencari kamar mandi."
__ADS_1
Ucap Ice lirih dengan hati hati.
Sampai saat ini Ice masih merasa asing dengan sosok Willy yang sekarang, yang sedikit sedikit emosi dan marah marah.
Padahal Ice rindu sosok Willy yang dulu yang selalu lembut dan penyayang pada dirinya, rasa kecewa Ice semakin dalam saat dia merasakan kakinya yang terkilir mulai tak tertahankan lagi sakitnya.
"Auwww.... sakitnya...."
Batin Ice sambil meringis menahan rasa sakit dikakinya yang mulai membengkak.
"Selalu saja seperti itu, tidak pernah sadar dengan lingkungan sekitar"
Ucap Willy tiba-tiba tanpa sadar yang membuat Ice mengernyitkan keningnya.
"Selalu?... padahal saya baru pertama kali melakukan hal semacam ini, bagaimana Tuan bilang selalu?"
"Eummm.... itu...."
Willy mengerjap gugup tak tahu harus bilang apa, dia bahkan mengalihkan pandangannya tak berani menatap Ice.
Willy mengalihkan pandangannya kemana aja asal jangan melihat wajah Ice.
Mana mungkin Willy berani jujur jika selama ini dirinya selalu memantau kegiatan Ice di apartemennya di Swiss.
Bahkan sudah tak terhitung berapa banyak kali Willy melihat Ice berganti pakaian sembarangan, bahkan terkadang saat Ice dengan santainya bu*il saat akan berpakaian setelah mandi.
Meskipun begitu Willy tetap merona malu saat melihat Ice ganti baju secara live seperti tadi.
"Maksudnya apa Tuan?"
Tanya ice sekali lagi.
"Tidak ada maksud apa apa."
Jawab Willy dengan pandangan kebawah berpura-pura sedang membaca berkas laporan di mejanya.
Pikirannya berputar mencari alibi yang pas untuk mengalihkan percakapan.
"Lalu kau sendiri kenapa harus berganti pakaian di ruang kerjaku? apa kau sengaja ingin menggodaku ya?"
Elak Willy yang baru mendapat ide sambil memberikan pertanyaan balik ke Ice.
Kini gantian Ice yang merasa gugup sendiri, bagaimanapun juga apa yang diucapkan Willy masuk akal, dan siapapun pasti akan salah paham jika melihat Ice berganti baju dalam ruangan Boss nya.
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab walau kemalaman dan kondisi othor yang belum sehat benar, semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes
Dan semoga outhor bisa up minimal 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍