
"Tenanglah Om atau keadaan Om akan bertambah buruk, kita pulang sekarang.... baru setelahnya kita mencari tau siapa gadis ini, ok..."
Ajak Willy berusaha menenangkan Om Jay-nya.
"Aku merasa dia orang yang sangat dekat dengan ku, tapi aku tidak dapat mengingatnya Will, oh Tuhan ada apa ini"
"Setiap peristiwa ada alasannya, setiap kejadian ada sebabnya, cobalah untuk tenang, pasti akan ada Jawaban dari semua pertanyaan lo Om tapi semua butuh waktu dan lo harus tetap tenang."
"Kita pulang sekarang Ok..."
Tak ingin Om Jay-nya kembali larut dalam pencarian kepingan kepingan memori-nya yang hilang yang mungkin akan semakin menghapus memori lainnya, akhirnya Willy mengajak Om Jay-nya untuk pulang.
Willy juga merasa bersalah karena dengan mengajak Om Jay menengok Rani, seolah Willy memaksa Om Jay untuk mengingat semua tentang Rani.
"Om mau pulang ke rumah Om sendiri atau pulang ke rumah Mommy?"
Tanya Willy sambil tetap fokus ke jalan raya.
"Mungkin saat ini akan lebih baik pulang ke rumah Mbakyu ku Ratih, setidaknya aku tidak kesepian dan ada yang diajak ngobrol."
"Ok kita pulang ke rumah Mommy, ingat jangan memaksakan diri untuk mengingat sesuatu tentang gadis tadi, perlahan semua kenangan pasti bisa kembali tapi semua butuh proses Om, jadi jangan terlalu di paksakan."
"Iya Will lo bener"
Sahut Jay dengan mata terpejam.
Hanya karena melihat Rani tadi seolah telah menguras seluruh energinya, saat ini Jay merasa sangat lelah.
Setelah sampai dirumah Mommy, Jay segera masuk ke kamarnya yang letaknya pas disebelah kamar Willy.
Setelah mengantar Om Jay-nya, Willy lalu menuju kamar Mommy-nya menengok keadaan Mommy-nya setelah melihat keadaan Rani di RS tadi.
"Mom.... gimana keadaan Mommy?, sekarang Mommy tau kan kenapa Willy gak pernah bolehin Mommy ke RS, hah....."
"Iya sayang, Mommy sedih banget liat keadaan Tante kecil kamu, apa tidak ada yang bisa kita lakuin untuk membangunkannya sayang."
"Para Dokter sudah melakukan yang terbaik, tapi Rani yang memang belum ingin bangun, kita tidak bisa melakukan apa apa selain berdo'a dan menunggu mukjizat yang bisa membuatnya bangun Mom."
"Sekarang gimana dengan Om Jay, apa dia ikut pulang ke mari atau pulang ke rumah-nya sendiri?"
__ADS_1
"Om Jay memilih pulang kemari, dia sekarang ada di kamarnya, Mom bisa menemaninya di kamar tapi jangan membahas apapun tentang Rani untuk saat ini."
"Baiklah sayang, tapi sampai kapan? apa kita akan terus menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya dari Om Jay kamu will?"
"Entahlah Mom, tapi untuk saat ini demi kebaikan Om Jay akan lebih bijak jika dia jangan mengetahui apapun dulu."
"Baiklah Mom, Willy harus menyusul Kai ke kantor dulu, ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan."
"Baiklah sayang, hati hati dan semangat ya."
"Mmmuach.... thanks Mom, bye.... assalamu'alaikum"
Pamit Willy pada Mommy-nya setelah memberikan satu kecupan di pipi sang Mommy.
Tapi ternyata Willy bukannya kekantor, dia justru kembali lagi ke RS XX untuk menemani Rani.
Setelah beberapa hari tidak menemani Rani, Willy merasa rindu dan membawanya kembali ke RS hanya untuk sekedar menggenggam tangan dan memandang wajah gadisnya yang tertidur dan tak tahu kapan akan terbangun.
"Yank bangunlah, jika bukan untukku setidaknya untuk Om Jay suamimu."
"Kau tau, aku masih mencintaimu dan sangat merindukan kamu, tapi ada seseorang yang lebih berhak untuk semua itu, bangunlah untuk-nya yank, saat ini dia mungkin tidak mengingatmu tapi alam bawah sadarnya tak pernah melupakanmu."
"Bangunlah yank, jika dalam tidurmu kau hanya terkurung oleh rasa takut maka bangunlah dan ceritakan semuanya yang membuatmu takut."
"Andaikan kisah Putri tidur bisa membangunkanmu dengan satu ciuman."
Willy berharap sebuah ciuman bisa membangunkan Rani yang tertidur, tapi dia segera membuang semua pikiran itu dan mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa pikiran bejad tidak masuk akal seperti ini muncul dalam kepalaku, mengambil kesempatan saat dirinya sedang tidak sadar."
Willy mendadak frustasi oleh pikiran bejatnya yang tidak pada tempatnya sampai dia menjambak dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Akhirnya Willy memilih meletakkan kepalanya ditepian brankar dengan mukanya menghadap ke wajah Rani.
Perlahan dia memejamkan matanya dan lambat laun mulai tertidur dan terbang ke alam mimpinya.
Tak terasa waktu cepat berlalu sore telah berganti malam, Willy terbangun saat waktu menunjukkan pukul sepuluh malam.
Willy bahkan tidak sadar saat perawat mengganti pakaian Rani, tanpa membangunkan Willy.
__ADS_1
Willy bangkit dari posisi duduknya, berdiri meluruskan tulang punggungnya dan melenturkan otot-ototnya dengan memutar pinggangnya empat puluh lima derajat ke kanan dan kekiri sampai terdengar otot dan tulang berderak.
Setelahnya Willy mengecup kening Rani lalu meninggalkannya pergi.
Willy berencana untuk keliling kota sekedar membuang rasa jenuh dari aktivitas-nya akhir akhir ini yang hanya sekitar pekerjaan dan RS.
Tanpa di duga Willy melihat seorang pria sedang di kepung oleh sekelompok pemuda jalanan, setelah lebih dekat Willy dapat melihat jika pria yang sedang di keroyok itu adalah partner tinjunya tempo hari.
Willy langsung menepikan mobilnya, lalu turun untuk menolong pria yang pernah menjadi partner tinjunya itu.
"Hai bro butuh bantuan?"
Tanya Willy yang masuk dalam lingkaran perkelahian.
"Oh... hai Will senang melihatmu ada disini, sepertinya kau sangat menginginkan memukuli orang ya he... he... he..."
Yang disapa pun menjawab sapaan Willy masih dengan tangan dan kakinya bergerak menghindar dan memukul lawan yang mendekatinya.
"Ya... begitulah, hitung-hitung olahraga otot tidak selalu mendapatkan kesempatan seperti ini, bisa memukul orang sepuas hati, bukan begitu Jo... buack...."
Sahut Willy lagi sambil melemparkan tinjuan ke wajah lawannya yang populernya dikenal Swing untuk indonesia atau long hook untuk tinju internasional.
Satu tinjauannya sudah membuat lawannya jatuh pingsan dengan mengalami patah hidung dan otomatis berdarah.
Membuat Jo Hans yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.
"Gue kira lo suka menikmati permainan ini, tapi ternyata lo lebih menyukai pertarungan cepat ya he... he..."
Seru Jo Hans sambil memberikan tendangan setengah putaran seolah terbang yang dikenal Dwi Hurigi dalam taekwondo, membuat lawannya langsung jatuh pingsan karena kuatnya tendangan.
Masih tersisa empat orang lagi yang masing-masing Jo dan Willy kini menghadapi dua orang lawan.
Jo Hans melompat diantara kedua musuhnya langsung menjatuhkan ke dua lawannya dengan kawi chagi sekali tendangan kedua kaki menendang target masing masing.
Sedangkan Willy melakukan tendangan yeop chagi dan dibarengi satu pukulan straight untuk menjatuhkan kedua lawannya.
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab tepat waktu dan semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes
Dan semoga outhor bisa up 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
__ADS_1
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍