
Ice yang baru saja dipenuhi amarah mendadak berubah menjadi iba merasa tidak tega melihat Willy yang kesakitan, Ice langsung kembali mendekat kepada Willy bingung harus bagaimana atau berbuat apa untuk menolong Willy yang sedang kesakitan.
"Om.... Om.... sakit banget ya? maaf ya Ice refleks tadi, Om juga sih asal main peluk cium begitu!"
Walaupun Ice merasa tidak tega tapi tetap saja dia masih ngomel mengeluarkan uneg-unegnya.
Willy yang kesakitan tak dapat menjawab semua pertanyaan dan perkataan Ice, Willy hanya bisa nyengir menahan sakit sambil terduduk memegangi aset masa depannya.
"Om... apa apa yang bisa Ice bantu untuk mengobatinya?"
Tanya Ice yang polos, sebuah pertanyaan konyol yang membuat Willy semakin gemes ingin memakannya seandainya dia tidak dalam keadaan kesakitan yang teramat sangat.
"Ce... sakit banget... Ce! kamu harus tanggung jawab, gimana kalo nih aset pensiun sebelum waktunya dan gak bisa bangun lagi."
Ucap Willy masih dengan memegangi asetnya yang kesakitan.
"Duh gimana ini, Ice panggilkan Dokter aja dulu ya Om."
Kata Ice sambil hendak berdiri untuk menelpon Dokter tapi tangannya buru buru dipegang Willy dan ditariknya agar Ice kembali mendekat.
"Gak usah panggil Dokter Ce, cukup kamu aja yang ngobatin."
Ucap Willy sambil meletakkan tangan Ice ke bagian asetnya yang sedang sekarat.
"Aaaaaa..... is Om kamu apa apaan sih? mau Ice pecahin juga telornya biar jadi telor ceplok ya!"
Teriak Ice syok saat tangannya menyentuh aset Willy yang sedang sekarat, bahkan saat tangan Ice menyentuhnya pun tuh burung gak mau bangun walau sekedar batuk.
"Jangan Ce, ini masa depan kebahagiaan kamu loh, lihat ! dia bahkan gak mau bangun saat kamu sentuh, dia benar-benar sekarat Ce, pokoknya kamu harus tanggung jawab !"
Ucap Willy yang tetap bersikap konyol walau dalam keadaan kesakitan yang belum reda juga sakitnya.
"Dih tanggung jawab gimana? biar Ice panggilkan Dokter aja dulu."
"Gak akan bisa sembuh Ce, cuma kamu yang bisa nyembuhinnya, kalo gak percaya coba aja panggil Dokternya."
__ADS_1
Kata Willy lagi sambil terduduk lemas, walau sudah tak terlalu sakit tapi bener bener membuatnya tak bertenaga.
Ice buru buru menelpon Dokter yang memang dipekerjakan di Java** Park. Dan tak butuh lama seorang Dokter muda dengan kacamata yang bertengger di atas hidungnya datang dengan membawa tas yang berisi peralatan medis pada umumnya.
"Dokter tolong anda periksa nih Om, tadi itu anunya kejedot kaki."
Ucap ice berusaha menerangkan sakit yang diderita Willy.
"Anu apa ya Mbak? tolong ceritakan lebih jelas lagi."
Dokter muda itu justru kembali bertanya karena kata kata Ice yang membingungkan.
"Aduh gimana ya ( sambil meremas jari jemari tangannya karena merasa malu jika harus mengatakan lebih jelas lagi), Om ! kamu bilang sendiri aja keluhannya."
Ice kemudian berlalu keluar dari toko bunganya memilih duduk diluar karena tak ingin wajahnya yang mulai merona karena malu di lihat oleh Willy maupun Dokter muda tadi.
"Hah.... disini aja dulu lebih baik, biarlah cukup mereka sesama terong saja, pasti lebih leluasa konsultasi dan pengobatannya."
Batin Ice sambil melamun mengingat bagaimana Willy mencium setiap sisi di wajahnya tadi.
Disisi dalam toko bunga, Willy menceritakan keluhannya dan kronologi kecelakaan yang dialaminya dan membuat aset berharganya sekarat bahkan pingsan karena tak juga mau bangun.
"Jadi setelah kejedot kaki meja , nih burung saya sekarat Dokter entah pingsan mungkin sebab gak mau bangun, tolong Dokter jangan sampai burung saya mati sebelum berhasil mendapatkan sarangnya."
"Maaf Tuan disini saya hanya menyarankan agar Tuan segera berobat dan konsultasi kepada Dokter Spesialis Andrologi, di khawatirkan trauma benturan karena kejedot kaki meja tadi akan berefek pada sistem reproduksi anda."
Ucap Dokter muda yang baru bergelar Dokter umum itu.
"Apakah traumanya akan berefek fatal Dokter?"
Tanya Willy yang mulai ketir ketir merasa khawatir, bagaimana jika burungnya benar benar sekarat dan tak bisa bersiul, lalu bagaimana kelangsungan masa depannya dan Ice.
Semua pikiran pikiran negatif mulai bermunculan di kepalanya, Willy bahkan membayangkan saat dirinya telah menikah dengan Ice lalu tak bisa melakukan malam pertama bahkan malam keseribunya karena burungnya yang sekarang tak bisa bersiul.
"Ahhh.... gue gak mau hidup seperti kasim, Dokter tolong saya, atau saya akan buat anda kehilangan ijin praktek jika tidak bisa membuat bangun burung saya lagi."
__ADS_1
Teriak Willy sambil menarik kerah baju Dokter muda itu, seperti orang stress dadakan begitu membayangkan semua hal tadi.
"Tenanglah Tuan, Tuan hanya harus berobat dan konsultasi kepada Dokter Spesialis Andrologi agar mendapatkan pengobatan juga terapi yang tepat."
Ucap Dokter muda itu berusaha menenangkan Willy.
Sekejap Willy tersadar dengan tingkah absurd-nya dan segera melepaskan cengkramannya dari kerah baju sang Dokter.
"Maaf Dokter, saya tadi sedikit panik dengan kondisi aset saya yang tak baik baik saja ini."
Ucap Willy meminta maaf pada Dokter muda itu.
"Iya Tuan tidak apa-apa, saya bisa mengerti kok keadaan trauma yang terjadi pada Tuan."
"Baiklah saya pamit kembali ke klinik dulu, saya sarankan agar Tuan jangan berputus asa apalagi sampe berniat untuk bunuh diri."
Pesan sang Dokter saat berpamitan.
Mendengar pesan yang diucapkan oleh sang Dokter, membuat Willy kembali membayangkan dirinya yang menjadi berputus asa karena tak bisa memberikan nafkah batin kepada Ice setelah mereka menikah, lalu dirinya yang frustasi nekat membunuh dirinya sendiri dengan menggantung dirinya didahan pohon cersen di halaman rumah sang Mommy.
"Huwaaaa.... Ice..... pokoknya lo harus tanggung jawab !"
Teriak Willy yang beneran mirip orang stress dadakan itu, membuat Ice yang memang sedang berjalan mendekat kearahnya refleks menampar wajah Willy untuk menyadarkannya.
"Plakkk.... sadar Om !"
Willy yang berteriak-teriak histeris otomatis langsung terdiam begitu mendapatkan satu tamparan yang cukup keras di pipinya dari Ice yang mengira Willy kesurupan setelah pulang dari sawah tadi.
"Tega bener kamu Ce... setelah membuat aset masa depan kita sekarat, sekarang kamu nabok muka gue yang masih pada biru sisa sparing sama Fathir semalam."
*Selamat membaca para readers akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab disela sela kesibukan outhor setelah sekian hari absen gak update bab.
Dan semoga outhor bisa kembali up 1ribu kata setiap harinya syukur syukur bisa up 2 bab ya readers.
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍