
Di kediaman Sanjaya Purba
Jay merasa aneh dengan sikap istrinya rani yang tiba tiba menjadi pendiam dan sering melamun.
"Sayang...baju kerja aku mana? kok gak biasanya kamu belum siapin baju aku yang"
"ah...maaf a...a..ku a...ku tidak bermaksud lalai, a..ku a...ku..."
"sss...sudah sudah tidak apa apa sayang"
jay segera menenangkan istrinya yang tampak panik tanpa sebab.
"Kemari duduklah disini"
jay menepuk pinggir tempat tidur dan mengajak istrinya untuk duduk disampingnya.
Dengan sabar dan penuh kasih sayang jay mengajak istrinya bicara dari hati ke hati, dengan lembut jay memulai pembicaraan
"Sayang katakan apa yang telah mengganggu pikiranmu, kau percayakan pada suamimu ini? hem..."
"Ma...ma..af hik...hik...hik...."
"Us...ss....jangan menangis...."
jay dengan penuh kasih merengkuh tubuh istrinya kedalam pelukannya menghiburnya menenangkannya.
"sudah jangan menangis lagi ya, katakan kalau kau ingin mengatakannya, dan jangan katakan kalau kau tak ingin mengatakannya ok"
dengan bijak jay berusaha memahami istrinya dan tak ingin membuat istrinya tertekan, dan dijawab anggukan kecil oleh istrinya.
__ADS_1
"Baiklah aku harus segera ke kantor, apa istri tercinta ku ini tidak mau membantu menyiapkan pakaian untuk suamimu ini sayang"
"Mas...a..ku...akan mengatakannya"
rani memberanikan diri untuk mengatakannya dengan wajah tetap menunduk dan jemari tangan yang saling meremas dengan gelisah.
Jay kembali mendekati istrinya dan duduk disampingnya bersiap untuk mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh istrinya.
"Mas masih ingatkan saat pertama kali kita bertemu, aku pernah bercerita kalau aku sedang mencari kekasih ku"
jay hanya menjawab dengan anggukan kepala.
"Aku a...ku...su..dah bertemu dengannya mas hik...hik...dan aku...hik...hik...hik...a..ku...merasa sangat bersalah mas..hik....hik...hik...."
Jay segera memeluk istrinya menenangkannya,
"Sudah ya jangan menangis lagi, jangan menyalahkan diri sendiri, ok?!"
"Sekarang istri cantik ku ini harus kembali tersenyum, dan cepat bantu suamimu ini berganti baju"
Jay memeluk dan mencium istrinya menghiburnya agar tak lagi bersedih.
Sementara itu di RS xx
Willy sudah lebih tenang, tapi tidak ada yang tahu apa yang sudah direncanakannya.
Dia menelpon kai untuk segera menjemput dan mengurus prosedur kepulangannya dari RS.
"Apa kau yakin ingin segera pulang dengan kondisimu yang masih seperti mumi ini?"
__ADS_1
"Aku lebih merasa nyaman berada di rumahku sendiri dari pada disini seperti pesakitan yang siap mati"
"Heh gak nyadar kalo lo memang pesakitan, coba lo ngaca keadaan lo sekarang ini yang lebih mirip mumi"
"jangan banyak bacot lo kai, cepetan bawa gue balik, atau lo mau balik ke tabalong lagi sendirian"
"Hah, lo gak ada ancaman yang lain gitu?, dikit dikit tabalong, lo paling suka bulli gue ya nyet"
"Ayo buruan katanya pingin balik?"
"Lo gila ya kai sudah bosan hidup lo?!, gimana gue bisa jalan sendiri?!"
"Nah itu lo tau kalo lo g bisa bangun apalagi jalan, tapi minta keluar dari RS"
"Udah cepetan bantu gue ke kursi roda, gue sudah gak tahan disini"
Setelah bosan adu mulut akhirnya kai membantu Willy pulang ke rumahnya.
"Will ini lo mau pulang ke rumah nyokap lo apa apartment lo?"
"Kerumah aja kai, kalo di apartment siapa yang akan ngurus gue"
"Lo gak takut nyokap lo jantungan gara gara liat kondisi lo seperti ini?"
"Udah bawa aja gue balik ke rumah, jangan cerewet kayak anak gadis"
*Ok readers hanya satu kata dukung terus author dengan vote dan like 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
__ADS_1