
Setibanya di rumah pasangan fenomenal itu, Sammy masih bersengut kesal. Dibantingnya pintu mobil sambil melirik ke Miko yang mengerjakan matanya karena terbangun oleh suara pintu mobil yang dibanting.
Sammy langsung merebut ponsel si kembar dari tangan Marie istrinya, dan segera mencharger ponselnya agar dapat di gunakan kembali, sehingga dia bisa kembali bersama Marie hanya berdua saja.
Dan dapat segera terbebas dari dua bocah kembar itu, terutama Miko yang sudah dengan lancang menjajah daerah kekuasaannya.
Marie kembali menyusul suaminya saat melihat si bocah kembar anteng duduk di sofa sambil memakan snack dan mengayunkan kedua kakinya sambil bercengkrama.
Keduanya bocah kembar itu masih dalam mode kalem, tapi siapa yang bakalan tau jika kedua bocah kembar yang manis ini bisa menjadi monster.
"Ehemmm....."
Marie berdehem lalu menepuk pundak Sammy yang sedang mencharger ponsel si kembar di ruang keluarga.
Marie sadar betul jika saat ini Sammy suaminya sedang mode ngambek, dia tau suaminya tidak suka jika ada yang menyentuh sesuatu yang merupakan miliknya.
Dengan memeluk pinggang Sammy dari belakang, Marie berbisik manja menawarkan menghabiskan malam dengan bermain kuda kudaan tapi Sammy tetap acuh, dia merasa harga dirinya di injak-injak oleh pria kecil itu.
"Hon... udahan ya ngambeknya, janji deh malam ini kita main kuda-kudaan, mau gaya apa juga terserah kamu hon, tapi stop dong ngambeknya."
"Gak bisa yank, aku merasa harga diriku sebagai suami benar benar jatuh disini oleh bocah sialan itu."
"Hon... jangan begitulah, dia masih bocah, dan seumuran dia memang ada beberapa anak punya kebiasaan suka mentil begitu, jadi jangan marah lagi ya."
Tiba tiba terdengar suara pecahan benda kaca mengusik keduanya.
Saling pandang lalu keduanya berlari menuju sumber suara, dan betapa terkejutnya saat melihat pecahan botol wine koleksinya berserakan dengan cairan wine yang membasahi lantai.
Padahal belum lama Marie meninggalkan kedua bocah ini, tapi keduanya sudah membuat masalah.
"Apakah mereka bener anak manusia? kenapa cepat sekali sudah menyusup dan mengacau mini bar milik Sammy?"
"Apa yang kalian lakukan?"
Bentak Sammy dengan suata nyaring, begitu melihat kedua bocah kembar itu sedang berlarian di dalam mini bar miliknya walau telah memecahkan tiga botol wine koleksinya yang limited edition dan tak lagi ditemukan dipasaran.
__ADS_1
Dengan mata yang melotot hampir keluar dan kedua tangan yang menjambak rambutnya sendiri karena merasa benar-benar frustrasi.
Marie yang melihat juga ikut terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, sementara kedua bocah kembar Mika dan Miko terlihat mematung dengan wajah polosnya sebelum akhirnya menangis ketakutan.
Marie langsung menggendong Miko yang menangis dan menjauhkannya dari serpihan pecahan botol wine agar bocah laki-laki itu tidak terluka.
Sementara Mika entah bagaimana, gadis kecil ini sudah berdiri diatas meja bar dengan menangis ketakutan saat Sammy membentak tadi.
Sammy memandangi serpihan pecahan botol beserta cairan wine yang membasahi lantai dengan perasaan sedih juga frustasi.
Bagaimana tidak wine yang sangat langka bahkan dia sendiri belum pernah mencicipinya karena belum tentu bisa mendapatkan wine langka itu lagi, tapi kini wine itu kini menggenang diatas lantai.
Wine yang dipecahkan sikembar itu adalah tiga dari dua ribu botol wine, yang harga per botolnya pun tak main-main mencapai miliaran.
Marie mengajak Mika dan Miko untuk kembali duduk keruang tamu, sementara Sammy masih terus uring uringan ingin marah tapi gak mungkin marah pada bocah umur empat tahun.
Ingin mukul orang juga gak ada orang yang bisa dia pukul.
"Ante Icu Om napa cih tok mayah mayah? apa talena botol yann petah?"
Sammy yang mendengar ucapan gadis kecil itu, rasanya ingin menjedotkan kepalanya sendiri frustasi.
Mobil terus melaju kencang dengan Kaizar sebagai pengemudinya dan disampingnya Willy yang duduk dengan gelisah memikirkan kedua bocah kembar itu.
Dan di belakang duduk Ice yang tak kalah khawatirnya memikirkan kira kira dimana sikembar kini.
Ice yang memaksa masuk ke mobil dan ikut mencari si kembar meski Willy tampak tak perduli padanya.
"Tuan..."
Ice mencoba kembali meminta maaf pada Willy dengan menyentuh lengannya tapi langsung di tepis oleh Willy.
Rasanya hati Ice sakit sekali diperlakukan Willy seperti itu, dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat mulut dengan perlahan berusaha menenangkan emosinya.
Dalam isak tangisnya, Ice berdo'a untuk keselamatan kedua bocah kembar itu walaupun Willy melimpahkan semua kesalahan padanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah menghubungi ponsel si kembar? Mika selalu membawa ponselnya dalam tas."
Ucap Willy mengingatkan Kaizar sambil melepas dasinya dan membuka kancing atas kemejanya.
Karena efek trauma selalu disalahkan Willy, tubuh Ice selalu bergetar tiap kali mendengar suara Willy yang menggelegar seolah dirinya akan jadi lampiasan marahnya Willy.
"Sudah Boss, ponsel mereka terakhir altif sekitar dua jam yang lalu, sepertinya kehabisan baterai."
Ucap Kaizar yang dijawah decakan frustasi dari Willy.
"Hubungi Tim IT, perintahkan mereka untuk melacak si kembar sekarang juga."
Perintah Willy sambil sedikit melirik Ice, lalu melengos kembali ke depan masih dengan mimik sebel ke Ice.
"Sudah Boss, bagian IT sedang bekerja melacak keberadaan mereka, tapi karena sistem pelacak di ponsel hanya dapat terdeteksi saat ponsel sedang on menyala, maka sulit mencari titiknya saat ini karena ponsel si kembar sedang mati.
Maka Tim IT butuh waktu lama untuk bisa mendeteksi secara detai posisi mereka.
"Bagaimana dengan CCTV taman, apakah ada hasilnya?"
"Semua sudah diperiksa dengan teliti, saat ini kita juga sudah melapor jika si kembar hilang, tenang saja Boss, si kembar pasti baik baik saja."
"Kau ini bagimana bisa gue tenang? coba bayangkan saja kalo itu anak lo Kai, apa lo bakalan bisa tenang?"
Ucap Willy galau dengan menyugar rambutnya kebelakang.
Rasanya Willy ingin berteriak memanggil nama kedua bocah kembar itu, tapi pasti dibilang dia orang stress gila gak waras.
Ingin marah juga, dari tadi tak berhenti marah, apalagi tiap kali melihat wajah sendu Ice, bawaannya cuma bikin Willy mau mukul orang.
Willy sadar dia sudah sangat keterlaluan pada Ice, tapi saat ini orang yang bisa dia jadiin tempat lampiasan marahnya hanya Kaizar dan Ice.
*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku. Alhamdulillah akhirnya hari ini othor bisa up walau kemalaman dan hari ini hanya bisa up 1 bab ya gaes dan jangan bosan bosan untuk memberikan dukungan terbaik dari kalian tentunya gaes.
Dan semoga outhor bisa up 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.
__ADS_1
Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍