Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong

Om Aku Mencintai Istrimu To Be Om Kalo Cinta Bilang Dong
*"Anak Kembar Willy"


__ADS_3

Willy mengalihkan pandangannya kemana aja asal jangan melihat wajah Ice.


Mana mungkin Willy berani jujur jika selama ini dirinya selalu memantau kegiatan Ice di apartemennya di Swiss.


Bahkan sudah tak terhitung berapa banyak kali Willy melihat Ice berganti pakaian sembarangan, bahkan terkadang saat Ice dengan santainya bu*il saat akan berpakaian setelah mandi.


Meskipun begitu Willy tetap merona malu saat melihat Ice ganti baju secara live seperti tadi.


"Maksudnya apa Tuan?"


Tanya ice sekali lagi.


"Tidak ada maksud apa apa."


Jawab Willy dengan pandangan kebawah berpura-pura sedang membaca berkas laporan di mejanya.


Pikirannya berputar mencari alibi yang pas untuk mengalihkan percakapan.


"Lalu kau sendiri kenapa harus berganti pakaian di ruang kerjaku? apa kau sengaja ingin menggodaku ya?"


Elak Willy yang baru mendapat ide sambil memberikan pertanyaan balik ke Ice.


Kini gantian Ice yang merasa gugup sendiri, bagaimanapun juga apa yang diucapkan Willy masuk akal, dan siapapun pasti akan salah paham jika melihat Ice berganti baju dalam ruangan Boss nya.


"Maaf tuan, saya tidak ada maksud menggoda anda dan terserah anda mau percaya saya atau tidak, tapi baju saya kotor jatuh dipasar hewan peliharaan tadi, lihatlah."


Ucap Ice sambil mengangkat baju kotornya tinggi tinggi


"Sumpa saya tidak berbohong, saya serius jatuh di genangan air saat di pasar tadi."


Willy menyipitkan matanya dengan raut wajah seperti mengejek.


"Tentu saja aku percaya, kamu kan masih setara dengan balita yang baru bisa berjalan, jatuh dan celaka adalah kebiasaan kamu dimanapun kamu berada."


Ucap Willy sambil menyunggingkan senyum geli tapi lebih tepatnya mengejek.


"Sialan kau Om."


Batin Ice sambil menatap Willy dengan wajah kesal.


"Oh ya mana kucing yang aku pesan?"


"Ah itu... anu..."


Ice kembali menjadi gugup, dia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali perlahan sambil mengumpulkan keberaniannya.


"Masa bodolah kalo mau marah ya silahkan marah saja Om."

__ADS_1


Batin Ice saat keberaniannya mulai terkumpul.


"Begini Tuan, kucing putih dengan mata odd eyes itu tidak mudah didapat, saya sudah mencarinya keseluruh plosok pasar hewan peliharaan tadi, tapi tidak ada yg memiliki mata type odd eyes, yang ada matanya ya kanan kiri itu sama."


"Dan lebih baik pecat saja saya Tuan, saya sudah tidak tahan kalo harus mengerjakan pekerjaan aneh begini."


Ice meremas bajunya saat wajah Willy tampak berubah akan murka, membuat Ice frustasi yang melihat ekspresi Willy yang sulit untuk ditebak.


"Dasar bodoh, kucing itu jauh lebih penting dari apapun."


Seperti yang Ice tebak, Willy langsung murka ketika Ice tak mendapatkan kucing yang dia pesan.


"Maaf kan saya Tuan, saya memang bodoh, karenanya biarkan saya pergi."


Ucap Ice lirih pura pura merasa bersalah.


"Saya sudah berusaha mencarinya tapi tetap tidak mendapatkannya."


Ucap Ice lagi sambil menunduk takut untuk melihat wajah Willy yang siap murka.


"Padahal aku rindu kamu yang perhatian dan lembut padaku Om."


Batin Ice sambil menahan rasa masam di hatinya bahkan matanya pun mulai mengembun.


Willy yang tak sengaja melihat mata Ice yang mulai berkaca-kaca akhirnya mulai melunak hatinya.


"Hmmm ya sudah pulang dan istirahatlah, temui Kai kunci apartemenmu dia yang pegang."


"Baik Tuan, kalo begitu saya permisi."


Ice langsung meletakkan baju kotornya diatas koper lalu mulai menarik kopernya dengan susah payah dan langkah tertatih tatih menahan kakinya yang bengkak terkilir.


Willy tak memperhatikan langkah kaki Ice yang tertatih tatih karena ia langsung terfokus pada proposal yang hendak dipakai dalam meeting kerjasama dengan perusahaan rekanannya.


Keluar dari ruang kerja Willy, Lisa langsung disambut oleh Kaizar yang berdiri panik menuntun dua anak kecil.


"Tuan Kaizar."


Ice kaget, ditatapnya anak kecil yang sempat memanggilnya Ajumma.


Ice melihat ada seorang anak kecil lagi yang berjenis kelamin laki-laki, barulah Ice sadar jika gadis kecil yang ditemuinya di lift dan memanggilnya Ajumma memiliki kembaran.


"Siapa anak anak ini Tuan Kai, apa mereka anak anak Tuan?"


Ice melirik sekilas pada gadis kecil yang ketakutan melihatnya karena sempat di pelototin oleh Ice saat tak di perbolehkan naik lift.


"Siapa suruh yang membuat ku kesal, kakiku jadi semakin sakit karena dipaksakan menaiki ribuan tangga sampai ke lantai paling atas ini, kalau bukan karena gadis kecil misophobia ini."

__ADS_1


Gerutu Ice dalam hati sambil memperhatikan gadis kecil yang bersembunyi di belakang Kaizar.


"Ini anak Tuan Willy, Ice... anakku mana mungkin boleh ada di kantor."


"Tuan Willy?"


Ice benar benar terkejut, mulutnya menganga lebar mendengar penuturan Kaizar.


Ternyata Pria yang pernah bilang akan menikahinya setelah selesai kuliah empat tahun di Swiss, ternyata sudah menikah bahkan telah memiliki dua anak kembar.


"Gila?"


Itu yang bisa dipikirkan Ice, hancur sudah semua harapannya.


Pria yang empat tahun lalu hadir sebagai dewa penyelamatnya juga yang memberikan janji-janji pernikahan ternyata sudah berkeluarga bahkan telah memiliki sepasang anak kembar.


"Oh my..."


Ice menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha untuk tegar dan menata hatinya.


Untungnya selama empat tahun mereka terpisah sehingga tak begitu sakit Ice rasakan walau tetap ada rasa kecewa.


"Ajumma."


Seru gadis kecil itu, membawa Ice kembali pada kenyataan.


"Apa yang Ajumma latutan di kantol Ayah? kenapa bajunya cudah ganci?"


Tanya gadis kecil itu yang bingung karena Ice sudah tak lagi memakai pakaiannya yang kotor tadi.


"Ahh... apa?...."


Belum puas Ice terkejut, kini dia dibuat gugup oleh pertanyaan gadis kecil itu.


"Bahaya bisa bisa nih anak cerita ke Ibunya, terus gue dituduh pelakor, ih gak mau gue kalo harus Jambak jambakan."


Ada rasa sedikit takut saat harus menjawab pertanyaan anak kecil itu, Ice khawatir jikalau anak kecil itu akan melaporkan pada ibunya.


Ice tak ingin dijambak jambak dan dituduh pelakor oleh ibu gadis kecil itu.


"Ajumma gak boyeh detet detet ayahnya mika."


Teriak gadis kecil itu, yang membuat Ice semakin gugup dan melambaikan tanganya isyarat bahwa dia tidak akan melakukan itu.


*Hai gaes selamat membaca para readers setia-ku akhirnya hari ini othor bisa selesai juga up 1 bab walau kemalaman dan kondisi othor yang belum sehat benar, semoga terbalaskan dengan dukungan terbaik dari kalian ya gaes


Dan semoga outhor bisa up minimal 1ribu kata setiap harinya karena outhor juga harus up novel yang lainnya ya readers.

__ADS_1


Jangan lupa tetap tinggalkan jejakmu dukung author dengan vote like rate dan coment 😘👍*


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍


__ADS_2