
"Siapa sebenarnya gadis itu? kenapa Boss terkesan lebih mengutamakan dia dari projects yang sedang kita kerjakan ini?"
Tanya Elvan yang Alvin sendiri juga tidak tahu jawabannya.
"Aku tidak tahu, yang pasti gadis ini orang yang berarti bagi Boss, dan kenapa kau menanyakannya pada ku yang jelas-jelas aku juga tidak tahu, dasar bodoh kau ini."
"He... kalau aku bodoh lalu kau sendiri apa?, ayo cepat kerjakan yang diperintahkan si Boss agar semua cepat selesai dan kita bisa melanjutkan projectnya."
Alvin dan Elvan mulai menyusup ke Akun Brigitta Marquise dan Om nya yang bernama
Marquise Abelard yang merupakan rektorat dari Universitas xx, dan mereka mendapatkan fakta jika kedua orang ini telah melakukan banyak kecurangan.
Brigitta Marquise yang selalu menggunakan kekuasaan milik Om nya untuk berbuat sewenang-wenang dan bahkan tega melakukan kejahatan asusila pada mahasiswi yang tidak patuh dan tidak disukainya.
Dan Marquise Abelard yang selalu menggelapkan dana universitas untuk kepentingan pribadinya, bahkan terkadang bekerja sama dengan keponakannya Brigitta Marquise dalam tindak asusilanya terhadap para mahasiswinya.
Dan terkait dengan ancaman terhadap panti asuhan tempat mahasiswi berprestasi yang nilainya di curi untuk Brigitta, semuanya hanyalah akal akalan mereka untuk memanfaatkan si mahasiswi berprestasi itu.
Dan masih banyak lagi kejahatan keduanya yang selama ini tidak ter-ekspose di publiks.
Alvin segera menyerahkan semua hasil pencarian mereka terkait keduanya kepada Willy.
Sementara ditempat lain Rico membagi tugas dengan anak buahnya dan mulai menangkap satu persatu pelaku dan membawa mereka semua ke markas tempat biasanya mereka memaksa para musuhnya untuk membuka mulut dan membongkar semua kejahatan mereka.
Para gadis remaja yang telah menjebak Ice pun merasa sangat ketakutan, awalnya mereka tidak tahu apa penyebab mereka ditangkap, tapi begitu mereka semua sudah terkumpul dan penutup mata mereka dibuka baru mereka menduga jika ini karena tindakan mereka menjebak Ice.
Sebagian dari mereka mulai menyesali tindakannya dan mulai mengumpat menyalahkan Brigitta Marquise, tapi semua sudah terjadi dan seandainya saja obat penyesalan itu ada, tapi penyesalan selalu datang di akhir.
"Apa kalian tahu apa kesalahan kalian sehingga kalian berada disini sekarang?"
Tanya seorang laki-laki dewasa berambut gimbal dan tubuh yang penuh dengan Tato sambil mengasah pisau bergigi naga yang merupakan senjata khusus kelompok mereka.
__ADS_1
Para gadis remaja itu hanya menggelengkan kepalanya tak mampu bersuara, bahkan telapak tangan merekapun mulai berkeringat dingin dengan tubuh gemetar ketakutan.
Selain para gadis ini, di ruangan lain dari markas ini juga ada sekelompok pemuda yang juga terikat dan ditutup matanya.
Bahkan pada muka dan bagian tubuh mereka penuh memar dan luka.
Setelah semuanya terkumpul barulah kain penutup mata mereka di buka, dan mereka mulai saling mengenali diantara mereka tapi tidak ada yang berani bersuara.
"Apa kalian tahu apa penyebab kalian semua dikumpulkan disini?"
Tanya seorang laki-laki bertubuh besar tanpa pakaian di tubuh bagian atasnya sehingga menampakkan tubuhnya yang penuh tato walau menampakkan roti sobek di bagian tertentu tapi tidak membuat para pemuda itu kagum, yang ada hanya ketakutan setelah sebelumnya mereka dihajar habis-habisan sebelum dibawa ke markas.
"Jawab!!! kenapa diam? apa kalian tahu apa kesalahan kalian?"
Bentak laki laki itu sambil melakukan pukulan jab ke sansak berat (heavy bag) yang menghasilkan bunyi gedebuk dan membuat heavy bag itu berayun dan kembali disusul dengan hook dan jab menyilang, berhasil membuat nyali para pemuda itu menciut.
"Kau yang berbaju biru maju kemari."
Setelah berada di hadapan laki-laki yang tadi menunjuknya, laki laki itu lebih dulu membuka ikatan tangan si pemuda sebelum dia menjadikan pemuda sansak pengganti heavy bag.
"Apa kau masih tidak mau menjawab ha..."
Tanya laki laki itu setelah melepaskan ikatan tangan si pemuda sambil menepuk pipi si pemuda berbaju biru itu.
"Ma...ma....aaf sa..saayaa tidak tahu"
Jawab sipemuda berbaju biru itu yang mulai tidak dapat menutupi rasa takutnya.
"Bug.... bag... bug..."
Satu jawaban yang salah mendapatkan imbalan pukulan dari laki-laki itu.
__ADS_1
Pemuda yang lain yang melihat temannya dijadikan sansak pun mulai ketakutan, ada yang sudah membahasi dirinya dengan k**c*ng, ada yang mulai berteriak histeris agar laki laki itu berhenti memukuli pemuda berbaju biru itu.
"Hentikan tolong hentikan, aku mulai menyadarinya kalo ini karena gadis itu."
Teriak pemuda yang mulai histeris setelah melihat temannya si pemuda berbaju biru tampak sekarat.
saat itu juga laki laki itu langsung mulai menghentikan tindakannya memukuli si pemuda berbaju biru itu yang sudah sekarat dengan mulut yang berulang kali terbatuk memuntahkan darah segar akibat pukulan laki laki itu.
"Baiklah sekarang ceritakan dari awal."
Kata laki laki itu sambil mencuci tangannya yang terkena cipratan darah si pemuda yang dihajarnya tadi.
"Baiklah Tuan, sebelumnya saya mohon tolong maafkan kami, ini semua karena Brigitta Marquise mengancam kami bla...bla... bla..."
Pemuda itu mulai menceritakan semuanya tentang bagaimana dan mengapa mereka melakukan tindakan yang hampir saja merusak Ice itu atas perintah dan ancaman dari Brigitta Marquise.
Setelah mendengar semua cerita pemuda itu, lalu laki laki itu mulai memeriksa data semua pemuda itu apakah benar mereka adalah para mahasiswa penerima beasiswa, dan ternyata terbukti jika itu benar.
Laki laki itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk merawat sementara pemuda yang menjadi sansak tinju laki laki itu, yang saat ini pemuda itu sedang sekarat.
"Untuk saat ini kalian harus menginap disini sampai Boss datang, berdoa saja dia akan memaafkan kalian semuanya."
Ucap laki laki itu sebelum berlalu pergi meninggalkan para pemuda itu.
Sementara di ruangan yang lain para gadis juga sedang ketakutan sehingga mereka tidak bisa berkata apa-apa.
"Jawab jangan diam saja!!!... apa yang membuat kalian dikumpulkan disini? atau kalian ingin mengenakan tas atau sepatu dari kulit teman kalian."
Teriak laki laki berambut gimbal itu sambil menempelkan pisau bergigi itu di wajah salah satu gadis yang membuat si gadis berteriak.
*Akhirnya hari ini outhor selesai juga update-nya ya gaes, walau hanya bisa up 1 bab setelah ngetik selama dua hari ini dan masih kemalaman, do'a kan semoga outhor tetap sehat dan bisa rutin up setiap harinya ya gaes. Ikuti terus ceritaku dan jangan lupa untuk tetap dukung author dengan vote like koment dan rate 😘👍*
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍