Penyesalan Balas Dendam

Penyesalan Balas Dendam
Bab 100


__ADS_3

Pagi itu Nisa sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Dia sudah yakin untuk meninggalkan kota Jakarta lagi dalam waktu yang mungkin akan lama. Karna Nisa tak ada rencana lagi untuk berkunjung setelah pertemuannya dengan Devan.


Karna dia ingan terikat dengan siapapun yang berhubungan dengan masalalunya yang menyakitkan.


"Kamu yakin tidak mau pergi ke Bandung dulu seperti 3 tahun yang lalu.?" Tanya Mella memastikan. Dulu Nisa pergi ke Batam dengan penerbangan dari kota Bandung. Dia sengaja pergi ke Bandung menggunakan taksi sebelum akhirnya datang ke bandara untuk pergi ke Batam.


Nisa menggunakan cara itu agar tidak ada orang yang tau kalau dia pergi menggunakan pesawat.


Dan terbukti, selama 3 tahun keberadaannya tidak di ketahui oleh keluarga Andreas.


"Tidak ada waktu lagi Mell, aku harus cepat-cepat pergi dari sini." Sahut Nisa. Kali ini dia tidak punya pilihan lain lantaran ingin cepat-cepat meninggalkan Jakarta.


Di antar oleh Mella dan Angga, mereka meninggalkan apartemen yang di sewa oleh Nisa. Pergi menuju bandara internasional.


Mella duduk di belakang untuk menemani Nisa dan Kenzie, dia membiarkan suaminya sendiri di depan kemudi.


"Padahal kita belum sempat pergi bersama,," Keluh Mella. Dia menatap Kenzie yang duduk tenang di pangkuan Nisa.


"Kamu kan bisa datang ke Batam lagi Mel, kita jalan-jalan disana saja." Jawab Nisa seraya tersenyum.


Selama 3 tahun itu, Mella memang rajin mengunjungi Nisa setiap 3 bulan sekali.


Meski dulu menyempatkan untuk mengunjungi Nisa setiap bulannya saat Nisa sedang hamil.


Itu sebabnya Mella sangat tau bagaimana perjuangan Nisa selama 3 tahun terakhir. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Nisa tersiksa menjalani hidup seorang diri tanpa ada siapapun di sampingnya.


Nisa hanya mengandalkan asisten rumah tangga saja sampai detik ini.


Sampainya di bandara, Nisa segara mengurus keberangkatannya.


Sementara itu, Kenzie sedang di ajak oleh Mella dan Angga. Mereka menjaga Kenzie sekaligus menghabiskan waktu dengan bocah tampan itu sebelum berpisah.


"Ya ampun, kenapa kamu tampan sekali." Mella mencubit gemas pipi Kenzie. Entah sudah berapa kali Mella memuji ketampanan Kenzie sejak anak itu terlahir ke dunia.


Perpaduan Andreas dan Nisa, Kenzie benar-benar sempurna. Walaupun memang lebih terlihat mirip Andreas.


"Kita juga bisa membuat yang tampan seperti itu sayang,," Angga setengah berbisik. Lagi-lagi dia kembali mengutarakan keinginannya untuk punya anak dengan Mella meski kali ini tidak mengatakannya secara langsung.

__ADS_1


Mella sontak menoleh, menatap lelah dengan pembahasan yang sudah sering dibicarakan berulang kali.


Dia bukannya egois, tapi tak mau gegabah memiliki anak dari hasil pernikahan siri.


"Momi,, Momi,," Tiba-tiba Kenzie merengek. Mungkin karna terlalu lama duduk di pangkuan Mella, bocah 2 tahun itu terlihat bosan hingga teringat dengan Mominya.


"Oke, kita ke Momi sekarang. Sepertinya Momi juga hampir selesai." Mella kemudian menurunkan Kenzie dari pangkuannya. Dia membiarkan Kenzie berjalan. Lagipula Kenzie juga tidak betah kalau di gendong.


...*****...


Andreas menghela nafas berat. 3 tahun berusaha keras untuk tidak menginjakkan kakinya di Jakarta, tapi takdir tetap membawanya kembali ke tempat yang penuh luka ini.


Berjalan tegap dengan di dampingi dua orang laki-laki di belakang. Andreas tempak gagah menggunakan setelan jas berwarna navy dan kaca mata hitamnya.


3 tahun meninggalkan kota ini, rasanya sangat asing ketika kembali. Namun luka yang sempat terkubur perlahan muncul kembali.


Bayangan masa lalu yang tidak menyenangkan dari keluarganya, muncul dalam ingatan.


Andreas memperlambat langkahnya, dia menarik nafas dalam lantaran dadanya terasa sesak.


Sementara itu di tempat yang sama, Nisa baru saja selesai mengurus keberangkatannya.


Dia bergegas menuju ruang tunggu dimana Kenzie sedang bersama Mella dan Angga di sana.


Sejujurnya dia masih rindu dengan Mella, baru 3 hari tapi pagi ini sudah harus kembali lagi ke Batam. Padahal Mella selalu berkunjung lama setiap kali datang ke Batam.


Tapi apa mau di kata, lebih baik dia kembali untuk menghindari orang-orang di masa lalu.


"Andreas,,," Bibir Nisa bergetar kalau menyebut nama laki-laki yang telah meninggalkannya begitu saja 3 tahun silam.


Langkahnya terhenti, dari arah berlawanan dia menatap Andreas yang berjalan gagah ke arahnya.


Sekalipun Andreas memakai kacamata hitam, Nisa masih sangat mengenalinya.


Nisa mematung di tempat. Kakinya terasa berat hanya sekedar untuk melangkah.


Entah harus menghindar atau tetap berada di sana, dia debat dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Di sisi lain, dia ingin berlari sejauh mungkin agar Andreas tidak melihatnya. Tapi di lain sisi ada keinginan untuk bertemu dengannya.


Andreas semakin berjalan mendekat ke arahnya. Nisa tampak menatap dalam pada sosok laki-laki yang selama 3 tahun ini tak bisa hilang dari ingatan. Cinta dan benci menjadi satu, membuatnya sulit untuk melupakannya. Terlebih Kenzie ada di dunia ini karna Andreas.


Jantungnya bergemuruh kala jarak Andreas hanya beberapa langkah dari hadapannya. Bibir Nisa bergetar, ingin rasanya dia menyebut kembali nama Andreas hingga laki-laki itu mendengarnya.


Dari balik kaca mata hitamnya, Andreas menatap tajam tanpa kedip pada sosok wanita di hadapannya. Wanita yang tengah menatapnya sendu dan dalam.


Harapan Nisa mungkin terlalu tinggi, dia berharap Andreas akan mengatakan sesuatu ataupun memeluknya. Tapi pada kenyataannya Andreas justru berjalan lurus melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun padanya.


Kedua tangan Nisa mengepal. Sekarang dia baru sadar kalau dirinya terlalu bodoh karna masih menaruh harapan pada laki-laki itu.


"Berhenti Andreas.!! Aku tau kamu melihatku.!" Seru Nisa penuh penekanan. Dia berbalik badan, menatap punggung lebar Andreas yang hanya berjarak 2 meter dari tempatnya berdiri.


Melihat Andreas menghentikan langkah, Nisa bergegas menyusul Andreas dan berdiri di depannya.


"3 tahun Andreas.!! 3 tahun aku menunggu kamu menceraikanku.!" Seru Nisa. Dia menahan diri untuk tidak menangis di depan Andreas.


"Aku mohon urus perceraian kita sekarang juga, setelah itu anggap saja kita tidak saling mengenal.!" Dengan penuh amarah, Nisa meluapkan kekesalan yang sebenarnya tak ingin dia ucapkan.


Andreas masih diam, dia terlihat santai menatap Nisa yang sudah tersulut amarah.


"Jangan diam saja.!! Kau benar-benar pengecut Andreas.!!" Maki Nisa dengan tatapan penuh kebencian dan sakit hati.


Kali ini dia sudah sangat kecewa pada Andreas. Dia pikir Andreas masih memiliki hati nurani, berfikir jika Andreas hanya sedang meluapkan kekesalan pada keluarganya saja. Tapi sudah 3 tahun berlalu, Andreas masih tepat pada pendiriannya untuk mencampakkannya.


"Asisten pribadi ku yang akan mengurus perceraiannya." Sebuah kalimat yang mampu meluluhlantakkan hati Nisa keluar dari bibir manis Andreas.


Kali ini Nisa tak bisa membendung air matanya. Hatinya mungkin hancur berkeping-keping saat ini.


"Kenzie,, pelan-pelan jalannya nak,," Dari arah lain, Mella tampak sedang mengejar Kenzie yang hendak menghampiri Nisa.


...****...


Jangan lupa mampir ke novel "Menanggung Luka" By Momy siu.


__ADS_1


__ADS_2