
"Ruang bermain Zie ada di sana." Ucap Nisa seraya mengulurkan tangannya untuk menunjukkan ruangan bermain di dekat ruang keluarga.
"Hemm,, kita mau duduk di sini saja." Jawab Andreas yang langsung duduk di sofa tanpa di persilangan. Dia memangku Kenzie, mengajak putranya mengobrol.
Kehadiran Brian seolah tak berpengaruh apapun untuk Andreas yang tetap memilih berada di dekat Nisa.
Melihat Andreas yang sepertinya enggan pergi ke ruang bermain Kenzie, Nisa memilih untuk membiarkannya.
"Duduk Bri,," Suara Nisa membuyarkan lamunan Brian. Dia sedang mengamati Andreas, masih bertanya-tanya siapa sebenarnya laki-laki yang sangat mirip dengan Kenzie itu.
Dari yang dia tau selama ini, Nisa menjadi single parent karna di tinggal selama-lamanya oleh suaminya. Lalu siapa sebenarnya laki-laki itu.?
Laki-laki yang baru pertama kali dia lihat.
Brian bergegas duduk, menempati sofa di depan Andreas.
"Aku buatkan minum dulu,," Nisa beranjak ke dapur untuk membuatkan minum kedua laki-laki yang bertamu ke rumahnya. Seburuk apapun perlakuan Andreas padanya, tapi tamu harus tetap di perlakuan baik. Apa lagi di sana ada Brian, tidak enak kalau hanya Brian saja yang di suguhkan minum.
"Ada hubungan apa kamu dengan istri saya.?" Suara berat Andreas penuh penekanan. Sorot matanya begitu tajam, menatap Brian seolah-olah seperti musuh lama, padahal untuk pertama kalinya mereka bertatap muka bahkan tak saling mengenal secara pribadi.
Sebutan istri untuk Nisa sontak membuat Brian terkejut bercampur bingung.
Selama bertahun-tahun dia tau bahwa Nisa hanya hidup berdua, lalu tiba-tiba muncul laki-laki yang mengatakan jika Nisa adalah istrinya.
Bagaimana Brian tak bingung. Sedangkan selama dekat Nisa, wanita itu tak pernah menceritakan sedikitpun tentang sosok laki-laki itu.
"Istri.? Aku tidak mengerti maksudmu." Bersikap tenang, itulah cara Brian untuk bisa mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku hanya tau kalau Nisa single parent, dia tidak punya suami." Brian menekankan kalimatnya.
"Lagipula kalau Nisa mengatakan punya suami, mana mungkin aku akan mendekatinya." Senyum penuh arti di wajah Brian membuat Andreas menatap sengit.
Tapi apa yang bisa dia lakukan.? Meluapkan kemarahan pada Brian hanya akan mempermalukan diri sendiri karna memang padanya kenyataannya dia yang telah membuat Nisa seolah-olah tak bersuami.
__ADS_1
"Itu sebabnya aku memberitahumu. Nisa masih memiliki suami, dan Kenzie adalah putraku." Andreas berkata penuh ketegasan. Dia akan mempertahankan apa yang saat ini masih menjadi miliknya. Dan salah satu cara untuk mempertahankannya adalah dengan tak membiarkan lelaki manapun mendekati Nisa dan putra mereka.
"Kalau kamu suaminya, kenapa selama ini Nisa tak pernah menganggapmu ada.?" Cecar Brian. Pertanyaan itu mampu membungkam kepercayaan diri Andreas di depan rivalnya.
Seandainya Brian tau apa yang sudah dia lakukan pada Nisa, mngkin Brian akan semakin gencar mendekati Nisa dan merebutnya.
"Urusan rumah tangga kami tidak perlu menjadi konsumsi publik. Kamu tak perlu tau, tapi harus kamu ingat kalau Nisa masih memiliki suami."
"Berhenti mendekati istriku.!" Pintanya penuh ketegasan.
Brian hanya terkekeh santai. Semua perkataan Andreas tak akan berpengaruh apapun pada tujuannya untuk bisa mendapatkan hati Nisa.
Siapapun tak bisa melarangnya untuk tidak mendekati Nisa ataupun mencintainya. Kecuali Nisa sendiri yang menyuruhnya.
"Selama Nisa tidak melarangku, aku tidak akan menjauh." Brian seolah menantang Andreas.
"Jangan sampai aku,,,
Kedatangan Nisa membuat Andreas bungkam. Dia tidak jadi memberikan penyataan untuk mengancam Brian agar mau menjauhi Nisa.
Meletakkan cangkir berisi teh di depan Andreas dan Brian, Nisa kemudian duduk di sofa yang sama dengan Brian tapi membuat jarak.
"Tidak masalah, aku bisa mengerti." Brian mengukir senyum manis pada Nisa. Laki-laki itu mengambil teh miliknya dan meneguknya.
Sebuah pujian terlontar dari bibir laki-laki lajang itu. Pujian yang membuat Andreas merasa gerah sekaligus kesal.
"Teh buatan kamu selalu enak."
Nisa hanya mengulas senyum tipis menanggapi pujian yang sudah biasa di lontarkan oleh Brian.
"Dan kamu tidak perlu membayar untuk menikmati teh itu." Seloroh Nisa.
"Ekheem.!!" Suara deheman keras Andreas membuat mereka bingung.
__ADS_1
Di lihatnya Andreas yang tengah menatap tak suka pada Brian.
"Di minum Ndre,, sepertinya tenggorokan kamu kering." Ucap Nisa yang sebenarnya mengandung sindiran.
Andreas melengos kesal. Dia malah beranjak dari duduknya sembari menggendong Kenzie.
"Ayo main sama Papi,," Ujarnya pada sang anak.
Tak ada permisi ataupun pamit, Andreas pergi begitu saja dari ruang keluarga.
Nisa dan Brian hanya menatap heran kepergian Andreas ke ruang bermain Kenzie.
"Kenapa kamu tidak jujur.?" Brian menatap lekat wajah Nisa. Dia ingin tau alasan Nisa menutupi statusnya selama ini. Alih-alih seorang janda beranak satu, tapi kenyataannya Nisa masih memiliki suami.
Nisa tak langsung menjawab, dia tidak tau harus memulai dari mana.
Jika Brian sudah menanyakan hal itu, artinya Andreas sudah mengatakan sesuatu pada Brian.
"Bri,, pernikahan tak seindah yang kamu pikirkan." Nisa tersenyum getir.
Dia selalu ingat akan harapan Brian untuk menikah dengannya dan hidup bahagia dengan menerima Kenzie seperti putra kandungnya sendiri.
Tapi setiap kali Brian mengungkapkan harapnya, Nisa hanya bisa mengukir senyum tipis tanpa mau membuat Brian semakin berharap.
"Hidup bahagia adalah harapan semua orang saat akan mengarungi bahtera rumah tangga, tapi kita harus tau bahwa terkadang kenyataan tak sesuai harapan."
"Dan aku mengalaminya, itu sebabnya aku menutupnya rapat-rapat." Sorot mata Nisa begitu sendu. Brian bahkan tak bisa berkata-kata dan merasakan sesuatu yang menusuk menancap di dadanya.
Tatapan sendu dari wanita yang dia cintai begitu menyakitkan. Dia seolah masuk kedalam rasa sakit yang di rasakan oleh Nisa.
"Anissa,,," Dengan suara yang berat, Brian meraih tangan Nisa dan menggenggamnya. Tatapan matanya penuh kecemasan.
"I'm oke Bri," Nisa tersenyum lebar.
__ADS_1
"Kamu tau aku sangat kuat." Ucap Nisa seraya melempar senyum lebar untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.